Jumat, 10 Januari 2020

Aku seorang wanita

00.22 0 Comments
Aku seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan sampai bangku SMA. Setelah menjadi lulusan sekolah menengah aku menganggur selama satu tahun. Kemudian sebuah tawaran menjadi pengajar mendatangiku.
Menjadi guru honorer yang bertanggungjawab pada pendidikan kelas 1 dan 2 sekolah dasar bukanlah hal mudah. Tetapi aku tetap menjalaninya hingga 3 tahun sudah aku menyandang gelar seorang tenaga pendidik.
Nyatanya menjadi seorang guru tidak membuatku terlepas dari desakan untuk segera menikah. Kehidupan desa dengan budaya yang cukup kental menjadi salah satu alasan keputusan orang tua memintaku untuk segera menikah.
Sejujurnya aku belum siap untuk memasuki kehidupan baru itu. Akhirnya aku melakukan pemberontakan. Aku pergi ke kota, ke rumah salah seorang keluarga kami. Kutinggalkan semua kenyamanan termasuk pencapaianku sebagai seorang guru.
Namun Tuhan berkehendak lain. Aku bertemu dengan seorang laki-laki. Budaya serta desakan orangtua memaksaku berpikir bahwa dialah jodohku. Tidak butuh waktu lama, pernikahanku pun digelar.
Tepat di tahun 1995 aku menyandang gelar seorang istri. Setahun kemudian aku melahirkan seorang bayi laki-laki. Setelah kelahiran anak pertama kami, aku kembali menjadi guru. Kali ini aku mengajar Taman Kanak-kanak. Sementara suamiku bekerja sebagai karyawan di sebuah yayasan dibawah naungan salah satu perusahaan penyiaran milik Negara.
Suamiku mengatakan bahwa dari pekerjaannya menghasilkan gaji yang lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami. Namun aku hanya menerima jumlah yang bisa dibilang kecil. Tetapi aku hanya diam. Mungkin sebagian gajinya dipakai untuk biaya perjalanan selama bekerja.
Seiring berjalannya waktu aku akhirnya mengetahui bahwa sebagian besar gaji yang tidak diberikan padaku itu habis untuk kesenangannya sendiri, judi. Perbuatan yang dilaknat agama itu pun menyita waktu dan kebahagian keluarga kecil kami. Hingga membuatnya tidak tahan untuk tinggal lebih lama lagi dengan kedua orangtuaku.
Benar, sejak awal menikah aku dan suamiku tinggal bersama kedua orang tuaku. Karena kakak perempuanku sudah lebih dulu menikah dan tinggal terpisah bersama suaminya. Sehingga aku, sebagai anak bungsu yang harus menemani hari-hari orangtuaku.
Sejak sifat buruknya terbongkar, suamiku semakin tidak betah tingga dirumah orangtuaku. Akhirnya orangtuaku menjual beberapa petak sawahnya. Uang hasil penjualan itu dibelikan rumah yang akan kutempati dengan suami dan anakku.
Pindah ketempat baru yang jauh dari orang tua membuat semuanya kembali dari nol. Ditempat baru ini perekonomian keluarga semakin tidak menentu. Pendapatam dari suami pun tidak bisa diandalkan sementara kebiasaannya berjudi pun belum berhenti.
Suatu ketika, salah satu saudaraku memulai usaha, menjual bawang dan tas. Aku pun membantunya dengan berjualan keliling. Menawarkan dari satu orang ke orang lain. Hasilnya memang tidak seberapa. Paling tidak aku mempunyai uang ketika anakku meminta jajan.

Pernah suatu ketika suamiku mendapat tawaran pekerjaan dari temannya menjadi seorang sopir truk. Seperti sebelum-sebelumnya penghasilan yang didapat tidak sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan keluarga. Dua tahun menjadi sopir terlihat dari adanya TV 20 inch dirumah.
Bekerja menjadi sopir yang digaji rupanya tidak begitu nyaman. Akhirnya suamiku berinsiatif menjadi sopir independen yang memiliki kendaraan sendiri. Kuutarakan rencana suamiku tadi pada orangtuaku. Mereka pun mendukung.
Sekali lagi, kedua orangtuaku pun menjual beberapa petak sawah lagi. Sepetak tanah yang suatu saat akan diwariskan pada anakku harus rela dijual.
Akhirnya truk pribadi pun kumiliki. Suamiku bisa mencari penghasilan dari menjadi sopir dengan gaji yang sepenuhnya tanpa harus dipotong untuk disetorkan pada pemilik truk.
Rencana tetaplah rencana. Pekerjaan yang diharapkan suamiku tidak memberikanhasil maksimal. Uang hasil bekerja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan serta cicilan bank setiap bulan yang besarnya mencapai 1.400.000.
Aku pun mencari hutangan untuk menutupi kekurangan itu. sayangnya aku melakukannya diam-diam. Namun apapun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada akhirnya terbongkar juga. Dan amarah suamikulah yang kudapat.
Demi menghapus jerat hutang akhirnya truk kami jual. 72 juta uang yang kami dapat. Setelah digunakan untuk melunasi hutang dan kebutuhan lain tersisa 13 juta yang kusimpan didalam rekeningku.
Tuhan sepertinya belum menghendaki kehidupan keluarga kami tenang. Cobaan bertubi-tubi seoalh tidak pernah berhenti.
Tidak lama kemudian anak sulungku sakit. Untuk mendapatkan kesembuhan, jalan satu-satunya yang harus kami tempuh adalah operasi.
Terpakailah uang yang tersisa itu.
Setelah tidak memiliki truk sendiri, suamiku kembali bekerja menjadi sopir. Kali ini menjadi sopir pengantar material bangunan milikm seorang haji di kota. Dari pekerjaan itu aku diberinya nafkah 100.000 setiap hari. Sementara anak kami sudah dua dan bersekolah, SMA dan SMP. Uang segitu harus kupaksakan untuk cukup meski pada kenyataannya tidak.
Cobaan lain pun datang padaku. aku mengalami infeksi pada tenggorokanku. Namun kasih sayang Tuhan itu nyata. aku mendapat kesembuhan tanpa operasi. Alhamdulillah.
Namun grafik kehidupan keluarga kami kembali naik. Suamiku dirampok dan dibuang diluar kota. Semua harta termasuk truk yang bukan miliknya pun raib dibawa rampok. Beruntung suamiku masih hidup dan pulang dalam keadaan selamat meski berhari-hari harus terlunta-lunta.
Kejadian itu menjadi hal terburuk dalam kelaurgaku. Suamiku menganggur. Tidak ada pekerjaan berarti tidak memiliki pemasukan. Kebutuhan terus berjalan. Gali lubang tutup lubang kulakukan untuk memenuhi semua kebutuhan yang seolah-olah kupikul sendiri.
Tidak semua hal buruk yang kualami. Ada juga hal baik yang datang. Kakakku memberiku sebuah pekerjaan. Mengelola kantin sekolah. Tidak banyak yang kuhasilkan tetapi minimal mencukupi untuk kebutuhan pangan keluarga.
Hanya saja semua usahaku seperti tidak memiliki arti apapun. Bahkan dimata suamiku.
Sejak awal menikah aku tidak pernah menuntut apa-apa pada suamiku. Bahkan dengan perilakunya yang sangat menyakitiku pun aku selalu sabar. Dia tidak memberiku nafkah cukup pun aku tidak mengeluh bahkan kini dia menganggur pun aku tidak marah. Semua kebutuhan pun kupenuhi, entah sekeras apa aku bekerja, tapi aku tetap menjalaninya.
Tapi sampai kapan?
Setahun belakangan keadaan tidak menjadi lebih baik bahkan menjadi lebih berantakan. Seseornag yang memfitnahku didepan suamiku, yang mengatakan aku memiliki banyak hutang untuk kugunakan bersenang-senang. Belum lagi kedua anak-anakku yang yang tidak menghargai usahaku, ibunya, yang bekerja mati-matian demi sesuap nasi.
Sebagai seorang suami juga bapak sudah sewajarnya mengayomi, memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan hanya menyalahkan. Apalagi masalah yang timbul adalah ketidakmampuannya menjadi kepala keluarga.

Minggu, 29 Desember 2019

KARNA AKU TELAH DENGANMU

22.21 6 Comments
Kafein dengan rasa pahit bercampur dengan krim yang gurih dan sedikit gula. Perpaduan rasa dengan kenikmatan tertinggi itu mampu menaikkan level semangatku seketika.
Tapi itu hanya terjadi didalam balon udara yang melayang diatas kepala yang seketika meletus ketika seseorang menepuk pundakmu.
Karena hanya berlangsung didalam angan-angan saja maka sudah selayaknya aku segera kembali menapakkan kaki di bumi.
Cangkir bermulut besar itu memang menampakkan isi yang sangat menggugah selera. Apalagi cuaca malam ini yang cukup dingin setelah hujan yang mengguyur beberapa waktu lalu.
Hanya  bagi sebagian orang saja. Karena aku hanya lah segelintir orang yang tidak pernah menyukai minuman coklat, baik hangat maupun dingin. Hanya ketika berbentuk kue aku bisa menikmati coklat. Selain dari itu aku lebih memilih berpuasa.
Sayangnya tak banyak orang yang bersedia mengakui seleraku yang sedikit menyimpang ini. Bahkan orang terdekatku sekalipun. Mereka selalu merasa menjadi orang paling mengenalku yang selalu memesankanku minuman tanpa bertanya terlebih dahulu.
Salah satu dari mereka, yang mengaku memiliki hubungan dekat denganku, duduk dihadapanku saat ini. Sedang sedang mendongengkan sebuah filosofi coklat dan segala manfaatnya.
Banyak bicara? Bukan. Selalu ingin didengar? Semua orang juga menginginkannya. Dominan? Mungkin kata itu cukup tepat untuk menggambarkan karakternya. Dendra selalu menjadi pengendali hampir disetiap pertemuan kami. Dia selalu memiliki control hampir disegala hal. Pilihan topik pembicaraan, tempat yang akan kami tuju bahkan pilihan menu yang akan kami santap.
Pixabay

“Selain bisa diminum hangat atau dingin, coklat juga bagus untuk menstabilkan suasana hati.”
Ya, aku sudah mendengar puluhan kali Dendra mengucapkan teori itu. Bahkan mungkin disetiap kami membeli makanan atau minuman coklat. Meski aku sebenarnya tidak pernah benar-benar bisa menikmatinya.
“Indica bahkan selalu membawa coklat didalam tasnya. Katanya untuk penawar jika kerjaannya tidak berjalan sesuai rencana.”
Ini jugalah yang membuatku semakin membenci semua hal yang berhubungan dengan coklat. Dendra selalu mengaitkannya dengan Indica. Seolah-olah Indika yang memjadi pencetus keberadaan coklat dimuka bumi ini sehingga setiap menyebut coklat harus disertai dengan namanya.
“Mbak!” Aku memanggil seorang pelayan. “Espresso double shot ya”
“Ran, minuman kamu kan belum habis?”
“Terlalu manis, Ndra. Bisa diabetes aku kalau kebanyakan gula.” Jawabku sekenanya.
“Tapi kan bisa pesan yang lain. Ini udah malam, lho. Nggak bisa tidur kamu nanti.”
“Aku memang rencana mau begadang. Aku belum bikin daftar tamu undangan. Besok kan udah harus dicetak.”
Dendra mendesah. Sorot matanya terlihat penuh penyesalan. “Aku bantu ya? nggak usah protes!”
Aku baru saja hendak menolak tapi Dendra selalu pandai memaksa tanpa membuat orang lain terpaksa.
“Kita memang udah bagi tugas tapi pernikahan ini pernikahan kita. Dan aku nggak mau egois dengan membiarkan kamu begadang sendiri sementara aku bisa enak-enakan tidur.”
Meski selalu mendominasi tapi Dendra juga sangat pengertian. Tidak pernah menunggu diminta terlebih dahulu untuk membantu. Selalu memiliki inisiatif hampir disetiap hal.
Banyak yang mengatakan bahwa laki-laki itu tidak peka terhadap sikap perempuan. Teori itu dipatahkan oleh Dendra. Buktinya aku yang sangat pendiam yang harus ditanya agar berbicara pun bisa menjalin hubungan lebih dari satu tahun tanpa merasa kecewa karena ketidakmampuan laki-laki mengenali pasangannya. Bahkan ketidakmampuan itu justru ada ditanganku karena aku tidak pernah bisa  mengetahui keinginan Dendra tanpa diberi tahu.
Suasana kafe malam ini benar-benar menyenangkan. Cahaya temaram lampu menambah kehangatan. Dan Dendra kembali menunjukkan dominansinya sebagai seorang pria. Menyusun daftar tamu undangan sepenuhnya diserahkan padaku. tapi lihat bagaimana dia mengingatkanku pada teman-teman dekatku saat kuliah yang sudah jarang sekali kutemui.
“Bukan berarti karena kamu jarang bertemu lantas tidak diundang. Mereka kan pernah menjadi salah satu bagian terbaik dalam hidup kamu.”
Lihat? Rasanya aku tidak memiliki alasan untuk tidak memilihnya menjadi calon suamiku. Dendra sangat mengenalku dan membuatku selalu terlihat baik dihadapan semua orang.
Kemampuanku bersosialisasi dengan manusia mungkin mendapat nilai minus. Tapi berkat Dendra aku mendapat nilai positif. Dimata orang aku menjadi sosok yang tidak melupakan masa lalu. Yang selalu mengingat orang-orang yang hadir dalam hidupku.
Jarum jam hampir menunjuk angka 10 malam. tidak terasa sudah lebih dari dua jam kami menghabiskan waktu di kafe ini. beberapa pramusaji sudah mulai bersiap untuk menutup restoran. Bahkan hanya tinggal beberapa meja saja yang masih terisi oleh pengunjung.
“Lama juga ya bikin daftar undangan aja.”
“Untung kita kerjain bareng. Kalau aku sendiri mungkin sampai besok belum selesai.” Aku menutup laptop dan memasukkannya kedalam tas. “Tinggal nyatuin sama daftar tamu orang tua kita.”
“Aku jadi ingat pesan Indica. Katanya ada banyak printilan pernikahan yang kelihatan sepele tapi sangat menyita waktu. Mungkin ini kali ya maksudnya.”
Aku sempat berhenti sejenak untuk mengambil cangkir berisi minuman coklat yang sudah dingin. Nama itu sekejap membuatku kehilangan selera untuk menghabiskan minuman manis itu. Dan memilih espreso yang tidak benar-benar ingin ku minum. Hanya dalam sekali teguk minuman hitam pekat itu langsung berpindah kedalam lambungku.
Aku tahu. Itu adalah kesalahan dalam menikmati sari pati kopi. Aku mungkin bisa tersedak karena rasa pahit yang tidak biasa dengan indera perasaku. Bahkan mungkin lambungku akan berteriak protes terkena hantaman asam yang cukup kuat.
Meski begitu Dendra tidak berusaha mencegah atau mengingatkan. Dia hanya menatapku dengan sorot mata heran mungkin juga takjub karena melakukan hal yang tidak seharusnya.
 “Dia hebat banget ya? tahu segala macam jenis minuman bahkan kelihatannya punya banyak sekali pengalaman tentang persiapan pernikahan. Siapa tadi namanya?”
“Ran …”
“India? Ahh Indica. Mungkin sesekali aku harus bertemu dengannya. Bisa kamu bantu aku?”
“Ran … “
Kuabaikan Dendra. Aku mengambil ponsel Dendra yang tergeletak diatas meja. Kubuka kontak dan mencari nama wanita yang mendengarnya saja aku tidak mau.
“Aku harus belajar banyak darinya biar aku jadi wanita yang pantas buat kamu.”
“Ranti!!!”
Dendra merebut ponsel ditanganku.
Aku tahu. aku sudah kalah banyak disini. tapi aku tidak ingin menyerah lalu melangkah ke belakang. Dendra terlalu banyak mengambil peran dalam hidupku.
“Aku harus menjadi wanita yang pantas untuk menjadi istri kamu.”
Emosi dalam diriku terllau tinggi. Aku tidak bisa menghalaunya. Sehingga membuat bibirku bergerak tanpa bisa kukendalikan. Maka hanya racauan yang bisa kuucapkan.
“Aku harus menjadi wanita yang pantas”
“Aku harus menjadi wanita yang pantas”
“Aku harus menjadi wanita yang pantas”
Ketika emosi benar-benar menguasaiku, seluruh indra yang kumiliki akan kehilangan kemampuannya. Aku tidak bisa memahami apa yang orang ucapkan. Aku hanya terus mengulang kalimat-kalimat yang hanya bisa menunjukkan betapa buruknya seorang Meranti.
pixabay

“Ranti.” Dendra menarik lembut tanganku lalu menggenggamnya. “Kamu sudah sangat pantas untuk jadi istriku.”
Sentuhan hangat itu membuatku perlahan mengangkat kepala. Memaksa kelopak mata terbuka lebar. Meski bola mataku sedang ditenggelamkan oleh cairan bening yang entah bagaimana tidak tumpah.
“Lalu kenapa kamu selalu menyebut namanya dihadapanku?”
“Ran, itu cuma reflek. Seperti kebiasaan aja. kamu tahu aku pernah bersamanya dalam waktu yang cukup lama.”
“Jadi gitu.”
Nyalang dimataku sirna sudah. Emosi yang sudah berada dipuncak menguap begitu saja.
“Karena kebiasaan.” Ucapku lirih.
Kepalaku kembali tertunduk. Aku segera bangkit dari duduk. Meski
“Ranti, bukan itu maksudku.”
“Aku mau pulang.”
Aku kehilangan seluruh kekuatan dalam tubuhku. Untuk berjalan sampai pada mobil Dendra pun aku harus menyeret kedua kakiku.
Ketika Dendra membukan pintu mobil, aku langsung melempar diriku kedalam. Menyandarkan kepala setelah memakai sabuk pengaman.
Gerimis kembali turun. Membasahi kaca jendela.
Keheningan malam semakin terasa karena jalanan mulai sepi dari kendaraan yang melintasinya.
Sepanjang perjalanan pun hanya ada suara penyiar radio yang mengisi celah-celah keheningan.

Dendra tahu aku sedang marah. Itu juga yang membuatnya tidak mengajakku berbicara sedikit pun. Dia seperti sedang membiarkanku masuk kedalam ruang yang hanya ada aku dan emosiku didalamnya.

Badanku terlalu lelah untuk berpikir kejadian yang bukan pertama kali terjadi itu. Aku memilih untuk menutup mata dan membiarkan suara penyiar radio yang menemani Dendra.



Note
Terinspirasi dari lagu yang berjudul Karna Aku Tlah Denganmu yang dinyanyikan oleh Ari Lasso berduat dengan Ariel Tatum

Minggu, 22 Desember 2019

AKU MENCIPTA ALFAMERIA

14.03 0 Comments
EWS 2.0

Elfa Writing Sprint 2.0 bisa dikatakan ini ada kompetisi menulis fiksi pertama yang kuikuti. Nekat tentu saja. sombong apalagi (hahaha biar nggak minder). Akhirnya daftar. Mengisi formulir melalui google form dan menyertakan fiksi mini sebanyak 250 kata sebagai salah satu syaratnya.
Aku tuh baperan. Semakin tambah umur bukannya tambah bijak tapi tambah sensitif. Akhirnya pake trik klasik, daftar dan lupakan.
Enggak pernah tahu kapan pengumumannya. Yang diingat akhir bulan Oktober ada event menulis. Entah sibuk apa, niat lupa itu benar-benar lupa. Sampai pemberitahuan masuk grup WA muncul.
Aneh, heran dan nyaris keluar pas tahu dimasukkan grup WA oleh sembarang orang. Cuma pas baca nama grup jadi mikir lalu bongkar ingatan.
“Jadi aku lolos seleksi awal?”

Secepat kilat ubek-ubek facebook dan ketemulah. Ada namaku dari 25 peserta yang lolos. Resiko menjadi pemilik nama dengan huruf depan Y, apa-apa selalu dibelakang.

Belajar dan Menjadi Bodoh

Semua orang belajar untuk menjadi pintar. Itu juga yang kuyakini selama hampir 20 tahun mengenyam pendidikan. Baru kali ini merasakan bahwa belajar itu untuk mengetahui seberapa bodohnya kita.
Tahun 2019 memutuskan berhenti belajar. Berhenti mengikuti kelas-kelas menulis yang bertebaran dijagad dunia maya. Karena ingin mengganti fokus untuk praktik, menulis, menulis, dan terus menulis. Apalagi akhir tahun lalu ditutup dengan hadirnya blog pribadi yang cukup mendongkrak kepercayaan diri untuk melempar tulisan dikhalayak ramai.
Menjadi salah satu peserta di EWS 2.0 tidak hanya berkompetisi tetapi juga mendapat pelatihan untuk menulis fiksi yang fokusnya adalah novella.
Seminggu pertama adalah pemberian materi dan mengerjakan tugas sesuai materi.
Dikompetisi ini aku benar-benar mengosongkan kepala. Membuang jauh-jauh apa yang sudah kupelajari selama ini. Dan benar saja, meski bukan yang pertama kali, aku benar-benar menghadapi kesulitan yang sangat.
Bahkan dikesempatan ini aku baru bisa membenarkan pernyataan banyak orang bahwa menulis fiksi itu susah.     

Premis dan sinopsis adalah bagian paling susah, baik dulu bahkan sekarang. Karena kesulitan inilah aku jadi tahu alasan cerita-ceritaku selalu berada dijalan panjang yang penuh kemacetan untuk mencapai kata ‘tamat’.
Kesulitan ini nyaris membuatku menyerah. Karena aku benar-benar merasa down, merasa tidak bisa menulis. Bahkan menulis artikel untuk blog sebagai pengalihan pun gagal. Parahnya lagi, aku hiatus dari blog. Tabungan artikelku mengendap dilaptop. Selama bulan November engak ada satu unggahan disana. Lagi-lagi tekat menjadi penyelamatku. Hingga akhirnya membuatku tetap bertahan diantar 19 peserta yang tersisa.

Sahabatku Alfameria

Pada minggu kedua proses menulis dimulai. Aku bisa bernafas lega. Kalau ada penyanyi buta nada maka aku buta teori. Menulis menjadi jalan yang cukup mudah kulalui. Dengan adanya outline benar-benar sangat membatu perjalanan itu.
Alfameria ini bergenre 100% teenlit. Alasannya aku sendiri tidak tahu (hahaha)
Aku senang dengan film-film yang diproduksi Walt Disney dan serial drama korea yang diproduksi SBS. Sebut saja High School Musical yang membuatku tergila-gila dengan Troy Bolton dalam wujud Zac Effron, Joey Parker yang berwujud Drew See ley. Cerita yang diangkat mengenai permasalahan remaja yang diselesaikan dengan sangat apik dan dewasa untuk usia mereka. Dan aku ingin cerita-cerita itu berwujud tulisan.
Alfameria mungkin tidak sekomplek drama-drama diatas tapi aku benar-benar ingin menunjukkan pada remaja sekarang bahwa ada banyak hal baik yang bisa dilakukan dengan mengikuti perkembangan zaman. Aku ingin mengajak mereka untuk membangun mimpi, menemukan passion sejak awal agar masa-masa peralihan itu tidak dipenuhi oleh kisah-kisah picisan yang menyempitkan pola pikir. Bukan mengkerdilkan kisah-kisah percintaan (kan aku romance freak) hanya ingin mereka untuk think bigger terutama remaja yang tumbuh dikota-kota kecil.
Maka muncullah Alfa, Ameria dan Aksa dengan balutan kisah cinta klasik, cinta segitiga. Mereka adalah karakter-karakter yang kuharapkan hadir dalam hidupku dijaman itu (sadar udah tua hahaha).
Menulis kisah mereka benar-benar membuatku merasa muda. Meski sangat menikmati bukan berarti berjalan tanpa kesulitan. Justru karena mereka hidup didunia yang sangat berbeda denganku, usaha untuk menciptakan atmosfernya berkali-kali lipat lebih susah. Karena referensiku yang sangat kurang baik buku atau film.

Hari-hari menuju penilaian pun semakin dekat. Meski sudah selesai menulis tapi perasaan puas masih sangat jauh didepan. Hal positif yang bisa kupetik lebih awal adalah aku bisa mengalahkan diri sendiri. Ini benar-benar menjadi langkah besar dalam perjalananku meniti karir sebagai seorang penulis yang sangat rimbawan.

MADEZEIN NEW LOOK NEW ME

13.57 17 Comments
Sudah masuk liburan, nih. Akhirnya datang juga waktu yang ditunggu-tunggu. sudah ada rencana kemana? Kemanapun tujuannya jangan lupa menjaga keselamatan selama di perjalanan dan lokasi tempat tujuan kita.
Saya punya pertanyaan, nih. Kira-kira kalau disuruh pilih antara eye liner dan lipstick, mana diantara dua benda tadi yang tidak boleh ketinggalan saat memakai make up?
Kebanyakan jawabannya pasti lipstick, termasuk saya. Alasannya sederhana biar bibir nggak pucat dan wajah selalu segar dalam kondisi apapun. Bahkan katanya nih bangun tidur dengan lipstick yang merona bisa menghilangkan kesan ngantuk.
Tapi saya selalu punya kendala dalam memilih pewarna bibir ini. Saya itu memiliki bibir yang cukup kering. Bahkan dalam kondisi yang panas sering kali bibir mengelupas dengan sendirinya. Sementara itu tidak banyak lipstick yang dijual diluar sana yang bisa menjaga dan memperbaiki bibir saya tersebut.
Saya pernah pakai beberapa merek yang katanya bagus tapi hasilnya malah bikin bibir tambah kering. Pernah juga pakai lipstick yang bikin bibir lembab dan memang lembab selama pemakaian tapi hasil akhirnya bibir bibir basah berminyak kaya orang habis makan gorengan yang minyaknya sangat banyak. Dan itu enggak banget deh buat penampilan.
Akhirnya saya menyerah melakukan uji coba pada bibir saya. Dan memutuskan hanya memakai pelembab bibir saja untuk aktivitas harian. Dan terpakas memakai lipstick apa adanya ketika menghadiri acara. Sebenarnya enggak pede tapi mau gimana lagi, kebutuhan.
Kali ini saya bisa tersenyum cerah secerah bibir saya pagi itu. karena saya akhirnya menemukan sebuah lipstick yang cocok untuk bibir saya, Madezein lip matte cream.
Ada yang bilang untuk jenis bibir kering kurang cocok pakai lipmate karena bikin kondisi bibir tambah kering. Awalnya sempat ragu dan cukup trauma dengan kejadian sebelumnya. Tapi akhirnya nekad mau mencoba.

Waktu itu lagi siang yang cukup panas. Saya bersihkan bibir lalu saya aplikasikan madezein lipmatte cream. Hasil akhirnya sangat bagus sangat matte di bibir saya dan ringan banget jadi nyaman banget. Kesan pertama yang menyenangkan, bukan?
Pertama kali pemakaian

Saya teruskan penggunaannya esok hari sampai beberapa hari hingga saya menulis artikel ini. Hasilnya tidak berubah masih sama seperti pertama kali pemakaian. Bahkan bibir saya cukup lembab selama memakai madezein lipmatte. Pengelupasan yang sering terjadi ketika memakai pemerah bibir pun tidak terjadi. Ketahananya cukup lama bahkan selepas terkena air wudhu pun masih ada meski warnanya sedikit memudar.
Hasil yang menyenangkan ini cukup membuat saya penasaran. Kok bisa lipmate tidak membuat bibir kering semakin kering. Akhirnya saya kepo dan melakukan sedikit penelusuran. 



KANDUNGAN
Madezein lip matte cream merupakan lipstick dengan formula lembut yang mengandung vitamin E dan moisturizer yang dapat menutrisi bibir. Selain itu juga diperkaya dengan emollient untuk mempertahankan kelembaban bibir, menjaga kesehatan  bibir, dan memberi warna pada bibir.
Lip matte cream madezein ini memiliki 5 kandungan emollient yaitu capomicia cerifera wax, jojoba ester, isopropyl titanium triisotearate, methicone dan acacia deccurens flower wax. Emollien ini juga berfungsi untuk mengentalkan konsistensi produk, sehingga memiliki tekstur yang lembut dan creamy serta memberikan hasil matte.
Pantas saja bibir saya lembab saat pemakaiannya. Komposisi bahan yang berfungsi melembabkan banyak banget. Belum lagi kandungan vitamin E yang memberikan nutrisi sehingga bibir kita tetap terjaga kesehatannya.

VARIAN WARNA
Madezein lip matte cream memiliki cukup banyak pilihan warna yang dapat disesuaikan dengan jenis aktivitas kita.
Shade no 1 Baby Pink

Yang fanatik dengan warna pink rasanya wajib memilih shade no 1 ini. selain warnanya yang cerah juga akan menambah kesan girly yang ceria.

Shade no. 2 Red Cherry

Kalau ada yang senang tampil di depan dan menjadi pusat perhatian, warna ini sangat cocok sekali. Karena warna ini mampu meningkatkan rasa percaya diri serta membuat penampilan semakin menawan.


Shade no. 3 Burgundy
Harus menghadiri undangan pernikahan atau acara resmi lainnya? Cukup poles Lipmatte warna Burgundy sangat sesuai untuk penampilan dengan outfit formal.
Shade no. 4 Sugary Pink
Kalau warna ini sangat cocok untuk digunakan sehari-hari. Warna pinknya memberikan kesan sweet dan cute pada penampilan kita.


Shade no. 5 Coral

Warna nude yang satu ini bagus dipakai untuk pergi ke kampus. Warnanya yang lembut tapi tidak membuat wajah menjadi pucat. Justru akan membuat wajah tampak segar dan tidak mencolok.
Shade no. 6 Caramel

Kalau ini favorit saya. Warna kecoklatannya memberikan kesan natural yang lembut. Juga cocok sekali untuk kulit saya yang cenderung gelap.

Shade no. 7 Rose wood
Warna ini juga cocok untuk dipakai beraktivitas sehari-hari. Warna pink ke orange menambah kesan cerah dan segar pada wajah.
Shade no. 8 Red Blood

Ingin tampil memikat dan berani? Coba pakai warna yang satu ini. dijamin akan menambah kesan glamor dan pusat perhatian.

KEMASAN

Madezein lip matte dikemas dalam kotak persegi panjang. Dengan dominasi warna gelap sudah memberikan kesan awal yang elegan dan glamor yang didapat dari warna emas pada tulisannya. Ditambah dengan tambahan kemasan dibagian dalam untuk mencegah goncangan selama produk dalam perjalanan.



Sayangnya tutup yang digunakan sebagai pegangan saat pengaplikasian kurang rapat. Sehingga setiap memutar tutupnya akan ikut terbuka. hal ini cukup menyita waktu jika digunakan saat sedang terburu-buru.

SEKILAS TENTANG MADEZEIN
Madezein merupakan salah sebuah brand kosmetik dan skincare yang berada dibawah naungan PT. Mouza Sinergi Indonesia. Mulai tanggal 16 februari 2019 Madezein mulai dikenalkan pada publik. Lipmatte ini sendiri baru diluncurkan pada tanggal 25 november 2019 menyusul produk skincare yang lebih dulu dikenalkan.
Seluruh produk madezain ini dibuat dan berada dibawah pengawasan dokter estetika sehingga sangat aman digunakan. Bahkan tidak mengganggu aktivitas beribadah juga. Jadi kualitas dan keamanannya benar-benar terjaga.


Lipmatte ini cukup terjangkau. Dengan dibandrol harga IDR 119 K kita sudah bisa membawa pulang Madezein lipmatte.

Dengan pengaplikasian yang sangat mudah semua permukaan bibir akan tercover dengan sangat baik. Sehingga membuat kita tambah percaya diri dengan penampilan dan semangat baru. “Madezein New Look New Me”



Referensi
www.madezein.com






Senin, 09 Desember 2019

KARENA KUSAYANG

20.42 16 Comments
Salah satu nikmat menjadi seorang wanita adalah menjadi tuan rumah setiap bulan. Yup, menstruasi adalah salah satu ‘tamu’ yang kehadirannya sangat dinanti oleh hampir semua pemilik hormon progesteron.
Welcome!!!
Selalu dinantikan karena menjadi salah satu indikasi metabolisme tubuh yang normal. Meski penuh perjuangan dalam menyambutnya. Emosi yang lebih sering naik turun karena pengaruh perubahan keseimbangan hormon. Membengkaknya payudara seringkali disertai rasa nyeri luar biasa. Atau dalam kasus saya merasa encok selama berhari-hari.
Semua kenikmatan itu wajar dan sangat normal. Dan harus di syukuri karena banyak wanita luar biasa di luar sana yang rindu merasakannya karena “keistimewaan” yang Tuhan berikan.
Setelah ‘tamu’ datang, hal utama dan wajib ada adalah pembalut. Penting sekali menggunakan pembalut yang berfungsi optimal untuk menjaga sang tuan rumah tetap nyaman dan sehat.
Semakin berkembangnya teknologi, salah satu produk kewanitaan ini pun semakin banyak  mengeluarkan inovasi. Pada mulanya pembalut hanya sekumpulan kapas yang dikemas sedemikian rupa yang mampu menyerap cairan. Kemudian berkembang lagi dengan penambahan lingkaran anti bocor juga sayap yang memiliki fungsi untuk menahan pembalut bergeser.
Nampaknya banyaknya inovasi tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kaum hawa ini. Maka munculnya pembalut dengan berbagai macam ukuran panjang juga kemampuan daya serap yang semakin tinggi banyak dicari.
Bebas bergerak, anti tembus, nyaman sepanjang malam banyak digunakan sebagai tag line brand-brand pembalut. Akibatnya semakin banyak orang terutama wanita yang berlomba-lomba untuk bertemu dengan jodohnya, pembalut yang sesuai.
Fakta Pembalut Sekali Pakai
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa rata-rata 300 sampah pembalut sekali pakai dihasilkan setiap orang dalam setahun.  Jika setengah dari total penduduk Indonesia adalah wanita yang menggunakan pembalut sekali pakai maka bisa dilihat berapa banyak sampah yang dihasilkan.
Kabar buruknya adalah pembalut sekali pakai ini tidak dapat diurai secara alami. Sehingga akan berakhir dengan bertumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Memangnya kenapa jika bertumpuk di TPA? Bukankah disana adalah tempat terbaik untuk barang-barang yang sudah tidak dimanfaatkan?
Baiklah, mari kita lihat satu per satu.
Pembalut sekali pakai terbuat dari bahan sintetis salah satunya adalah plastik. Umum diketahui bahwa alam tidak bisa menguraikan plastik. Dan akan bertahan hingga beratus-ratus tahun lamanya.
Selain itu didalam plastik juga terdapat zat yang lebih kecil lagi yang mudah larut yaitu zat mikroplastik. Sifatnya yang mudah larut membuatnya mudah sekali berpindah. TPA mungkin hanya tempat pemberhentian sementara karena muara akhirnya ada dilautan yang memiliki jutaan jenis makhluk hidup. Makhluk-makhluk tak berdosa ini mau tidak mau harus menyerap zat berbahaya tersebut secara langsung maupun tidak.
Pola seperti ini seperti rantai melingkar yang tidak memiliki ujung. Karena semuanya akan kembali lagi pada manusia. Pernahkah kita menyadari bahwa ikan yang kita konsumsi mengandung zat mikroplastik yang berasal dari sampah pembalut yang sudah kita buang?

Itu hanya satu unsur saja. Sebenarnya ada banyak sekali zat kimia yang dikandung oleh sebuah pembalut sekali pakai. Jika di jelaskan satu per satu akan membuat kita bergidik ngeri.
Ig : zerowaste.id_official 

Pembalut Sekali Pakai Bukan Satu-satunya Pilihan
Tapi teknologi tak selalu membawa dampak negatif. Karena teknologi pun memberikan banyak pilihan lain termasuk perangkat kewanitaan ini. Menstrual cup misalnya. Atau yang belum memiliki keberanian untuk mengenakannya di organ vital, bisa menggunakan pembalut kain.
Pembalut kain?
Duhh ribet dong. Kudu bolak balik ganti dan lebih sering dari pembalut sekali pakai. Belum lagi rasa tidak nyaman karena lembab dan takut bocor. Hari gini tembus? Tenggelamin diri aja.
Saya dulu juga berpendapat seperti itu. Tak kenal maka tak sayang. Itu juga yang sering di dengungkan si pembalut kain ini. Mereka sering memberi hasutan bahwa mengenakannya tidak sehoror itu.
Begini ceritanya.
Saya tuh sering merasa nggak nyaman saat memakai pembalut sekali pakai. Lebih kaya pegel gitu di daerah kewanitaannya. Bahkan pas banyak-banyaknya, tag line kering sepanjang waktu itu nggak terbukti. Kalau tembus ya tembus aja. Dan rasanya tetap kurang nyaman.
Kemudian seorang teman menyarankan untuk mengenakan pembalut kain. Dia berbagi pengalamannya yang sudah menggunakan lebih dari setahun. Testimoni langsung itu nyatanya belum membuat saya untuk berubah pikiran meninggalkan pembalut sekali pakai.
Hingga teman lain pun mengajak untuk membeli pembalut kain. Patungan ongkos kirim ceritanya. Tanpa pikir panjang, saya pun meng-iya-kan ajakan tersebut.
Beberapa hari kemudian datanglah pembalut kain tersebut.
Kaget!!!
Itu perasaan yang pertama kali menghampiri ketika membuka dan memegangnya. Tapi disaat bersamaan juga merasa lucu. Desainnya menarik rupanya.
Bentuknya pun menyerupai pembalut sekali pakai yang memiliki sayap. Ada kancing diujung sayap yang berfungsi menjaga pembalut tidak lari-larian ketika dipakai.
Permukaan pembalut yang menyentuh kulit kita langsung pun sangat lembut dan berwarna terang. Putih dan kuning. Ini untuk menunjukkan kebersihan. Dan disalah satu ujungnya dibuat terbuka sebagai tempat memasukkan kain tambahan jika diperlukan. Kain tambahan ini sudah termasuk didalam kemasan.
Ketika teman saya mengatakan bahwa pembalut kain pun bisa nggak bocor meski dipakai dalam jangka waktu ideal (4 jam), saya membenarkan. Karena lapisan terluar dari pembalut kain berbahan spandek yang tidak mudah ditembus cairan.
Pertama kali mengenakan pembalut kain ini di hari pertama menstruasi. Pada hari-hari yang biasanya darah keluar banyak saya masih menggunakan pembalut sekali pakai. Masih ada rasa tidak percaya.
Total ada 2 pembalut sekali pakai yang saya gunakan pada bulan pertama pemakaian pembalut kain. Pada bulan kedua dan sampai sekarang bulan ketiga, sudah tidak menggunakan pembalut sekali pakai sama sekali.



Rasanya sangat nyaman karena tidak perlu menggunakan celana ketat seperti saat masih mengenakan pembalut sekali pakai. Bebas bergerak karena rasanya seperti memakai celana dalam saja. Tidak khawatir bocor dan tentunya lebih bersih dan sehat.
Hemat, begitu yang dikatakan. Tapi ini relatif. Tergantung pilihan masing-masing memilih menggunakan brand pembalut kain yang mana. Karena setiap brand pembalut kain memiliki masa kadaluarsa yang berbeda. Semakin mahal semakin tahan lama, katanya. Kepunyaan saya disertai cara peremajaan pembalut berikut dengan ciri-cirinya.
Bonus yang menakjubkan lagi adalah saya tidak lagi menyumbangkan sampah pembalut. Salah satu hal yang melegakkan karena rasa bersalah saya pada alam bisa dikurangi.
Mengurangi produksi sampah pembalut tidak lantas menjadikan bumi bebas sampah. Hal itu hanya sebuah langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi beban lingkungan yang begitu baik terhadap kita.

Bukankah hal besar dimulai dari sebuah langkah kecil?

Minggu, 10 November 2019

MENCINTAI BANGSA MELALUI CAGAR BUDAYA INDONESIA

13.15 24 Comments
Hampir 4 tahun tinggal ditanah majapahit tapi sekalipun belum pernah membicarakannya bersama anak-anak. Hingga suatu ketika saya pergi ke toko buku dan menemukan sebuah buku fiksi yang menceritakan sosok legendaris, Maha Patih Gajah Mada.
Usai membaca buku tersebut muncul sebuah keinginan untuk mengajak anak-anak napak tilas perjuangan Gajah Mada. Yang pertama kali terbersit adalah menunjukkan pada anak-anak bahwa tempat tinggal mereka saat ini pernah berdiri kerajaan besar yang menjadi cikal bakal wilayah Indonesia.
Kesempatan itu akhirnya datang.
Awal tahun 2019 saya mengajak anak-anak mengunjungi Museum Majapahit yang berada di Trowulan. Museum ini terletak di dalam wilayah Situs Trowulan.
Mengenal Situs Trowulan
Situs Trowulan merupakan situs perkotaan klasik dan satu-satunya di Indonesia. Wilayah dengan luas 11 km x 9 km berada di 4 kecamatan dari dua kabupaten. Yaitu Kecamatan  Trowulan dan Sooko yang berada di Kabupaten Mojokerto serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno berada di Kabupaten Jombang.
Penelitian yang dilakukan di situs trowulan dimulai pada tahun 1815 sampai sekarang. Diperkirakan masih banyak benda-benda peninggalan Kerajaan Majapahit yang belum ditemukan.
Didalam Situs Trowulan ini menjadi tempat terakumulasinya aneka benda peninggalan kota di jaman Majapahit. Meski belum bisa dipastikan posisi persis keraton dari Kerjaan Hindu-Budha tersebut. Adapun situs-situs yang tersebar meliputi situs upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industri, situs perjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal, dan situs waduk.
Pada kesempatan itu kami hanya sempat mengunjungi tiga objek saja. Yang pertama adalah Museum Trowulan (Pusat Informasi Majapahit), Gapura Bajang Ratu dan Situs Pendopo Agung.
Museum Trowulan
Bisa dikatakan Museum Trowulan harus menjadi lokasi pertama sebelum mengunjungi objek-objek lain yang berada di Situs Trowulan. Karena semua artefak-artefak bersejarah di simpan dan dipamerkan disini.
Memasuki area museum, kami disambut dengan taman yang luas dan tertata rapi serta banyak pohon-pohon besar yang membuat kawasan ini semakin asri. Halamannya pun luas dan bersih yang menambah kenyamanan saat berkunjung.
Pada tahun 1924 oleh bupati Mojokerto yang bekerjasama dengan arsitek Belanda menginisiasi perkumpulan diberi nama Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). OVM bertujuan untuk meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit. Kemudian pada tahun 1926 terbentuk bangunan tempat menyimpan benda-benda bersejarah tersebut dan dikenal dengan nama Museum Trowulan.
Museum Trowulan terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu Koleksi tanah liat, koleksi keramik, koleksi logam dan koleksi Batu.

Koleksi Batu yang pertama kali kami datangi. Berada dibangunan sendiri dan terletak dibelakang bangunan utama. Bangunan dengan konsep terbuka untuk menyimpan artefak berbahan batu seperti komponen candi, arca, relief dan prasasti.
Setelah itu kami beralih pada bangunan utama yang ada didepan. Gedung ini menjadi tempat dipamerkannya koleksi keramik, logam dan tanah liat. Disini ruangan dibagi dua dengan lobi yang berada diantaranya. Satu sisi ruangan dengan pendingin udara sebagai tempat dipamerkannya koleksi logam dan keramik. Sementara ruangan lainnya berisi koleksi tanah liat.
Melihat artefak-artefak tentu sangat membosankan untuk anak-anak. Maka saya menjadi tour guide dadakan. Berbekal pada papan informasi yang tersedia di setiap objek ditambah sedikit kreatifitas jadilah kunjungan ini sesuatu yang sangat menarik.

Tahun penemuan menjadi daya tarik utama terutama Kakak. Sementara Adek lebih suka melihat-lihat tanpa memedulikan bundanya yang sedang memberi penjelasan sehingga ayah yang mendampinginya.
Kakak sangat antusias ketika saya menyebutkan tahun ditemukannya benda-benda tersebut. Kakak kaget dan tidak menyangka bahwa benda-benda berusia ratusan tahun itu masih ada dan disimpan. Bahkan sengaja dipajang untuk dipamerkan dan menarik perhatian banyak orang. Lalu pertanyaan lain khas anak-anak pun meluncur bebas yang membuat saya cukup kewalahan.
Saat di pintu masuk, kami menjumpai papan besar berisi larangan selama didalam museum. Disinilah saya sisipkan adab ketika mengunjungi tempat-tempat sejarah seperti museum.  Tentu saja disertai penjelasan agar anak-anak bisa memahami aturan-aturan tersebut. Diantaranya :
1. Dilarang menyentuh dan memegang benda koleksi
Tangan sekalipun bersih dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan secara langsung maupun tidak langsung. Benda-benda sejarah umumnya berusia ratusan tahun dan dalam kondisi rapuh. Sehingga perlu kehati-hatian dalam merawatnya.
2. Dilarang mengambil gambar
Kamera pada umumnya menggunakan flash. Cahaya yang dihasilkan flash ini lah yang dikhawatirkan akan memicu kerusakan karena reaksi kimia yang dihasilkan ketika cahaya mengenai objek. Meski flash ini bisa dinonaktifkan namun penggunaan kamera dikhawatirkan mengganggu kenyamanan pengunjung lain.
3. Dilarang membawa makanan dan minuman
Biasanya aturan ini sudah diberlakukan sebelum memasuki gedung. Hal ini diberlakukan untuk mencegah teradinya makanan atau minuman yang tumpah dan mengenai objek yang dipamerkan.
Pengetahuan tentang aturan-aturan ini penting sekali diajarkan sebagai salah satu cara menjaga benda-benda bersejarah. Selain itu juga bermanfaat agar anak-anak terbiasa bersikap baik dan taat pada aturan dimanapun mereka berada.

Kurang lebih 1 jam kami berkunjung ke museum. Sejujurnya waktu tersebut belum cukup untuk mengelilingi semua bagian museum. Namun waktu tersebut sangat cukup bagi anak-anak terutama kakak untuk menikmati benda-benda purbakala.
Candi Bajang Ratu
Objek kedua yang kami kunjungi adalah Gapura Bajang Ratu. Memasuki lokasi, saya tertinggal jauh karena anak-anak langsung berlarian.
Bangunan segiempat yang berukuran 11,5x10,5x16,5 meter berdiri tunggal ditengah-tengah lahan yang luas. Taman yang indah, rapi dan bersih berada mengelilingi gapura. Sekaligus menjadi salah satu daya tarik utama untuk anak-anak. Ditambah jalur menuju lokasi yang cukup lebar menjadi lokasi terbaik untuk anak-anak bereksplorasi.
Tidak banyak yang bisa diceritakan pada anak-anak selain fungsi dari gapura ini. Yaitu sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara.

Sebenarnya ada banyak informasi yang bisa diberikan seperti bentuk relief, desain arsitekturnya atau proses ditemukannya situs tersebut. Namun tempat terbuka menjadi lokasi terbaik bagi anak-anak untuk melatih motoriknya. Ditambah waktu sore yang sejuk semakin menambah betah saat berkunjung. Sehingga berlarian dan berfoto menjadi aktivitas yang menarik untuk dilakukan disini.
Situs Pendopo Agung
Pendopo Agung menjadi objek terakhir yang kami kunjungi. Sesuai dengan namanya objek utama dari situs ini adalah pendopo. Pendopo ini didirikan pada 15 Desember 1966 atas prakarsa Kolonel Sampurna. Bangunan ini bisa dimasuki dan dimanfaatkan oleh pengunjung untuk beristirahat. Dibagian belakang bangunan terdapat silsilah raja-raja Majapahit.
Terdapat kompleks makam dibagian belakang bangunan pendopo. Salah satunya diberi nama Kubur Panggung. Makam yang disebut kubur panggung ini berupa bangunan kecil. Namun, tempat ini bukanlah sebuah makam yang digunakan untuk mengubur manusia yang sudah meninggal melainkan sebuah maqom atau petilasan tempat Raden Wijaya bertapa.
Di depan pendopo berdiri patung Raden Wijaya, raja pertama Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada. Dua tokoh besar ini bisa diteladani anak-anak tentang kegigihan tekad dan semangat pantang menyerah demi mencapai cita-cita.
Pendopo ini dikelilingi pohon-pohon besar yang dimanfaatkan sebagai arena permainan anak-anak. Diantaranya persewaan mobil remote control, rumah balon, dan melukis. Biaya yang dikenakan untuk memanfaatkannya pun relatif murah.
Selain kami, juga banyak keluarga-keluarga lain bersama anak-anak yang memanfaatkan lokasi ini sebagai tempat berlibur.
Menyenangkan menjadi kesan pertama kakak ketika diajak ke museum. Hasil yang sangat baik karena objek wisata identik dengan aktifitas yang membosankan. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan kakak mengusulkan untuk berkunjung kembali dilain waktu.
Hal ini tentu memacu semangat saya untuk terus belajar sejarah melalui banyak cara. Selain untuk memperkaya pengetahuan saya juga menjadi bekal saya untuk mengajarkan pada anak-anak tentang sejarah bangsanya.

Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Dan museum menjadi salah satu cara paling efektif mengajarkan sejarah.
Situs Trowulan adalah salah satu cagar budaya yang dimiliki bangsa kita. Dan bisa menjadi objek menarik untuk dikunjungi bersama anak-anak. Berkunjung ke tempat-tempat bersejarah menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian kita pada cagar budaya Indonesia. 
Teman-teman punya pengalaman menyenangkan serupa? Yuk, tulis dan bagikan pengalaman tersebut melalui Kompetisi Blog "Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”

Pengalaman adalah sedekah terindah yang bisa kita berikan kepada sesama.

Referensi :

Buku Panduan ‘Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan’ Oleh I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, Wicaksono Dwi Nugroho.

Follow Us @soratemplates