Jumat, 27 Maret 2020

SETELAH KAMU MENGHILANG

21.11 0 Comments


Pixabay

“Bu!!! Ada polisi.”
Butiran keringat menempel dipelipis Bi Marni. Bukan hanya itu nafasnya pun tersengal-sengal. Namun ibu sama sekali tidak terusik dengan ketegangan yang ditampilkan oleh asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak  Rea belum dilahirkan. Ibu sudah terbiasa menghadapi Bi Marni yang sering berlebihan menghadapi beberapa situasi. Ingat kejadian Rea pingsan tapi Bi Marni mengatakan meninggal?
“Bu, Kayanya Bi Marni nggak lebay deh.” Rea mengingatkan.
Ibu pun melepas sarung tangan karetnya dan meletakkan cangkul kecilnya. Singkong-singkong didepannya sebenarnya ingin segera dicabutnya karena sudah harus dimasak mala mini agar etalase di kafe tidak kosong esok pagi.
“Memangnya Bi Marni habis lihat apa?”
“Polisi, Bu. Didepan rumah.”
“Rumah siapa?”
“Rumah kita. Ada banyak mobil dan orang-orang berpakaian hitam. Lagi  nunggu diluar. Saya nggak berani bukain pager. Takut.”
Kepanikan yang diperlihatkan Bi Marni sepertinya bukan sikap berlebihan.
Tanpa melepas celemek yang masih melekat Ibu langsung melangkah pergi. Rea menyusul dibelakangnya dengan Bi Marni yang berjalan takut-takut.
Kali ini bukan hanya Bi Marni, Ibu dan Rea pun lemas melihat halaman depan rumah sudah dipenuhi kendaraan milik aparat keamanan dan dua mobil sedan mewah. Pertanyaannya adalah siapa yang membukakan pagar rumah?
Dengan langkah cepat ketiga wanita tadi memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka itu. dengan dua laki-laki mengenakan setelan berwarna hitam seperti yang dikatakan Bi Marni serta dua polisi yang duduk dikursi teras.
Bisa ditebak betapa tegangnya wajah tiga wanita berbeda generasi itu. ibu bahkan tidak merasa perlu menyapa apalagi bertanya bagaimana orang-orang berpenampilan sangar itu bisa memasuki rumahnya. Yang Rea yakini sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi. hatinya selalu berbisik semoga sesuatu itu bukan lagi hal yang mendatangkan kesedihan dirumahnya. Tahun boleh berganti tapi waktu, sejauh ini, belum mampu menghapuskan kesedihan yang pernah menghampiri tanpa permisi.
Ini bukan sinetron atau film yang penuh dengan dramatisasi. Tapi drama itu benar-benar sedang terjadi. secara tiba-tiba langkah ibu terhenti ketika sudah melewati pintu. Ibu hanya berdiri mematung tanpa memedulikan Rea dan Bi Marni yang nyaris menabraknya karena berhenti secara tiba-tiba.
“Ibu!” Rea memprotes. “Ada … apa?”
***
Pixabay

Bukan tanpa alasan polisi dan para bodyguard itu bertandang ke kediaman keluarga Rea. Para laki-laki yang bertugas memberikan pengamanan itu sedang mengawal mantan Presiden ke-5 Indonesia. Tentu saja kedatangannya tidak sendiri melainkan bersama istri juga anaknya.
Kedatangan salah satu tokoh penting Negara saja sudah memberikan kejutan yang tidak terduga bagi Pak Haryo. Jangan dikira perasaan bahagia yang sedang dirasakan. Perasaan itu masih 10% persen menyapa. Sisanya adalah gugup dan panic. itu belum ditambah dengan tujuan khusus yang dibawa.
Bi Marni datang dengan satu nampan penuh teh panas dan satu piring besar singkong goreng. Meletakkan satu per satu cangkir didepan enam orang yang duduk saling berhadapan. Rea berharap semua ini adalah salah satu mimpinya yang sebentar lagi menghilang bersama uap panas dari dalam cangkir putih itu.
Sajiansedap.com

“Sebelumnya kami mohon maaf sudah menganggu waktu istirahat Pak Haryo. Tapi sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kami Orang tua Albi. Tapi teman-temannya lebih sering memanggilnya Ben, betul begitu Anak Rea?”
Rea hanya menanggapi dengan anggukan pelan. Sangat pelan.
“Maksud kedatangan kami yang mendadak ini ingin menyambung silahturahim dengan keluarga Bapak.”
“Ba … baik, Pak. Te .. terimakasih atas kunjungannya.”
“Silahkan diminum. Singkong hasil panen dari sawah kami sendiri.”
Kalau berhadapan dengan orang, Ibu sangat bisa diandalkan dibanding Bapak. Ibu memang memiliki kemampuan diplomasi yang sangat bagus. Tentu saja kemampuan itu bukan turunan atau takdir seperti yang kebanyakan orang yakini bahwa kecerdasan itu menurun. Meski hanya menjadi istri petani, Ibu adalah sarjana komunikasi. Kemampuan itu juga yang mengantarkan Bapak menjadi seperti saat ini.
“Saya dengar dari Albi kalau Bapak jadi pemasok bahan baku disalah satu perusaan besar.”
“Ya … kebetulan tetangga menyewakan sawahnya untuk kami kelola. Bagi hasil dari kerjasama itu lumayan. Minimal sebagian besar masyarakat sini tidak pergi ke kota untuk menjadi buruh pabrik atau satpam karena merasa penghasilan dari bertani tidak cukup.”
Percakapan basa-basi yang dilakukan ibu itu rupanya tidak sekalipun mengalihkan kegelisahan hati Rea. Bukan karena kedatangan tamu besar atau karena kemunculan yang mengejutkan dari laki-laki yang duduk didepannya. Melainkan tujuan utama yang belum juga tersampaikan setelah percakapan panjang itu.
“Suguhan yang disajikan Ibu sangat memanjakan kami. Tentu saja itu bukan maksud kedatangan kami.”
Rea ingin sekali menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. hanya sekedar meredakan degup jantungnya yang tidak beraturan.
“Selain silahturahim, maksud kedatangan kami adalah untuk meminta putri bapak ibu, Nak Rea. Karena anak bungsu kami, Albi berkeinginan untuk meminang Nak Rea.”
“Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih atas niat baik bapak sekeluarga. Saya mewakili bapak sangat senang atas maksud kedatangan bapak.”
Sesak semakin menghimpit Rea. Bukan hanya dari pertemuan dua keluarga atau tatapan Ben yang sejak tadi tidak berpaling yang hanya membuat Rea semakin terkunci dalam duduknya. Remasan di kedua tangannya pun semakin kuat.
Ibu menarik salah satu tangan Rea yang berkeringat dan menggenggamnya. Menegakkan duduknya, Ibu memandang putrid tunggalnya tersebut.
“Rea memang bukan gadis istimewa. Bukan pula seorang anak yang terlahir dari keluarga terpandang. Tapi Rea kami besarkan dilingkungan yang menjunjung tinggi norma-norma timur yang menjunjung tinggi kehormatannya. Pendidikannya juga tinggi meski hanya anak dari keluarga petani. Dengan latar belakang keluarga kami yang saya yakin sudah bapak ketahui. Saya atas nama suami menerima pinangan putra bapak, Albi.”
“Ibu … “ Rea mendesis menatap ibunya yang dengan percaya diri menjadi juru bicara itu.
Rea tidak habis pikir bagaimana mungkin Ibu membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu padanya. Memang seperti budaya yang dianut keluarga besar selama ini bahwa suami dari anak perempuan adalah tanggung jawab orang tua. Tapi bukan berarti tanpa mempertimbangkan pendapat seorang anak, bukan?
“Alhamdulillah.”
Ucap syukur tidak hanya ditunjukkan oleh kedua orang tua Ben. Bahkan Bapak pun merasa sangat lega mendengar kesepakatan yang baru saja terjadi itu.
“Kalau begitu kapan kita adakan pertemuan lagi untuk membahas tanggal pernikahan?”
Rea menatap sekaligus meremas tangan ibunya. Berharap ibunya mau memberikan sebuah kesempatan untuknya menyampaikan pendapat.
“Semakin cepat semakin baik. Bahkan kalau bapak ibu tidak ada rencana, sekarang pun bisa kita membicarakannya.”
***

“Ibu, kenapa nggak tanya Rea dulu?”
“Ini sudah adat keluarga, Rea. Ingat?”
“Tapi Rea ada disana. Bu. Rea bukan manekin yang bisa diatur sesuka hati. Pernikahan itu …”
“Kamu yang jalani?”
Rea terdiam mendangar kalimatnya dipotong Ibu dengan cepat.
“Bukan hanya persoalan adat keluarga Rea. Ibu tahu kamu juga menginginkan pernikahan ini terjadi. Ben keluarga terpandang yang dengan jelas menginginkan kamu menjadi bagian keluarga mereka. Tidak ada yang salah dari semua ini.”
“Salah, Bu. Semua ini salah. Justru karena Ben dan keluarganya pernikahan ini adalah kesalahan.”
“Dibagian mananya Ben salah?”
“Ibu nggak ngerti. Rea nggak bisa nikah dengan Ben.”
“Kenapa?”
“Karena … karena …”
“Karena Ben usianya lebih muda dari kamu? Karena Ben anak mantan pejabat?” cecer Ibu.
“Karena Rea sudah bertunangan!!!”
“Dendra sudah meninggal, Rea. Dia sudah pergi dua tahun yang lalu.” Sahut Bapak dengan suaranya yang dalam.
Tidak ada yang bersuara setelahnya. Hanya Rea yang akhirnya menjatuhkan air mata dipipi.
“Kedua orangtua Dendra sudah ikhlas. Kami semua sudah ikhlas. Cincin yang kamu kenakan itu tidak memiliki arti apa-apa lagi.” Bapak menatap lingkaran emas dijari manis anaknya. Lalu berindah pada wajah Rea yang bersimbah air mata. “Lepaskan.”
Wajah Ayu Rea memandang tidak percaya pada Bapak dan Ibu secara bergantian. Tidak percaya karena memutuskan pernikahan secara sepihak. Tidak percaya karena meminta anaknya melepaskan cincin pertunangan dengan begitu mudah.
Rea bangkit dari duduk dan pergi tanpa berucap sepata kata pun.
“Pernikahan ini untuk kebaikanmu Rea. Karena kami …”
Debaman pintu menjadi jawaban perkataan bapak yang belum usai.
“Karena kami menyayangimu.” Lanjut Bapak lirih.
Sepasang suami istri yang rambutnya mulai memutih itu kembali menyambut duka. Sangat mengerti kehilangan yang pernah dialaminya putrinya. Bahkan mereka pun merasakan hal yang sama. Hanya tidak pernah mengira bahwa ratusan hari yang sudah terlewati belum juga membawa pergi duka yang tersisa.
Ibu meraih telapak tangan Bapak. Menggenggamnya lembut.
“Rea pasti bisa ikhlas, Pak. Rea pasti bisa menerima Ben.”
“Entahlah, Bu. Bapak bahkan tidak apa yang Rea rasakan selama ini.”
“Percaya saja, Pak. Rea hanya perlu sedikit waktu lagi untuk menerima Ben.”
“Maksud, Ibu?”
“Menurut Bapak, dari mana keluarga Pak Yudho melamar Rea?”
“Entahlah. Tuhan yang mengirim?” jawab Bapak tidak yakin.
“Melantur Bapak ini.”
“Lah bisa saja tho. Namanya jodoh Cuma tuhan yang tahu.”
“Rea dan Ben itu sudah lama saling kenal. Kalau nggak salah sekarang Ben itu jadi suplyer tetap di kedai kopi Rea.”
“Ya itu kan cuma urusan pekerjaan Bu.”
“Bapak aja yang nggak tahu. Ben itu beberapa kali pernah ke rumah pas antar Rea pulang.”
“Jadi ibu udah kenal Ben lama?”
“Ya tahu aja Pak.”
“Berarti ibu juga tahu kalau Ben anaknya mantan presiden?”
“Nah kalau itu ibu juga baru tahu.” Ibu menyesap the yang sudah dingin. “Ibu tadi beneran takut ada apa-apa, Pak. Rumah didatangi polisi. Ibu pikir bapak jadi korban tabrak lari.”
“Emang ibu aja. bapak juga hampir kena serangan jantung. Pulang dari sawah ditungguin mobil polisi. Kirain rumah kita habis dirampok.”
Ya, perbincangan itu sudah melenceng jauh. Secepat itulah topic pembicaraan itu berganti. Seolah persoalan yang sedang mereka hadapi semudah mencabut singkong di kebun belakang atau menanamnya di sawah.
Padahal disalah satu ruangan dirumah besar mereka, termenung Rea seorang diri. menangisi sesuatu yang sudah lama meninggalkannya atau kebahagian yang datang terlalu cepat hingga gagal menginterpretasikannya dengan benar.
Ben, siapa lagi seseorang yang selalu gagal dipahami Rea. Meski hati kecil Rea berusaha menerobos dinding penolakan yang Rea bangun. Usaha yang begitu gigih itu pun meruntuhkan sedikit demi sedikit tembok pembatas. Yang kini telah mengibarkan bendera kemenangan. Sedikit lagi Rea akan menyadari bahwa Ben adalah laki-laki yang tepat dari segala perbedaan yang semu itu.
Benar kata ibu, bahwa Rea hanya perlu sedikit waktu lagi. tambahan kesempatan untuk mengumpulkan kepingan kepingan hati yang selama ini tercecer yang akan disatukan dan membentuk nama Ben dihatinya.
Tidak hanya semesta yang mendukungnya. Bahkan jika Tuhan memberi kesempatan, Dendra akan menyemangatinya untuk kembali mencinta tanpa perlu melupakan cinta yang pernah hadir sebelumnya.



Rabu, 25 Maret 2020

Alfameria_ CHAPTER II

01.16 9 Comments

  
Tiga puluh pasang meja dan kursi berbaris rapi membentuk tiga baris memanjang. Semua penghuninya sedang menatap serius pada selembar kertas yang berisi 5 soal fisika. Enam puluh menit sudah berlalu tapi tidak satu pun kepala yang mendongak. Semuanya menunduk memastikan rumus yang mereka gunakan untuk memecahkan kode-kode yang diciptakan oleh Newton berabad-abad lalu.
Pak Robby tengah duduk di mejanya sambil memeriksa jawaban dari kelas sebelumnya. Sang guru fisika tersebut tidak perlu berjalan berkeliling untuk memastikan murid-muridnya bersikap jujur. Karena soal-soal yang Ia berikan sudah cukup menyita perhatian murid-murid sehingga tidak akan memiliki kesempatan untuk bertindak curang.
Bel sekolah berbunyi. Tanda jam pelajaran telah usai sekaligus berakhirnya masa penyiksaan otak bagi murid-murid kelas XII IPA 3. Tentu saja layak disebut penyiksaan karena dua jam terakhir sebelum jam sekolah selesai adalah masa-masa otak berada dalam gelombang beta. Kalau disederhanakan menjadi jam tidur siang. Seharusnya waktu-waktu tersebut sebaiknya diisi dengan pelajaran agama atau sejarah yang sangat cocok untuk dongeng sebelum tidur.
“Yang duduk paling belakang silahkan mengumpulkan jawaban teman-temannya.” Perintah Pak Robby.
Seketika keheningan kelas musnah. Berganti dengan suara lega siswa meski tidak ada yang puas dengan jawaban soal fisika tetapi mereka merasa senang bisa segera pulang.
“Langsung balik, Fa?” tanya Aksa sambil menutup tasnya.
“Biasanya gitu.”
“Bareng Ameria?”
“Biasanya.” Jawab Alfa singkat.
“Dari dulu aku penasaran dengan hubungan kalian.”
Alfa menyimak.
“Kalian yakin cuma sahabatan?” tanya Aksa heran. “Nggak pernah punya perasaan khusus gitu? Ya, tahulah.”
“Suka maksudnya?”
“Ya, mungkin. Setiap orang punya definisi sendiri-sendiri.”
“Tentu aku menyukai Ameria. Dia tipikal cewek yang menyenangkan untuk diajak ngobrol dan jalan. Asik aja.”
Aksa tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala. “Okay.”
“Kenapa emang?” selidik Alfa.
“Nggak. Cuma penasaran aja. Yaudah, duluan ya.”
Aksa meninggalkan Alfa yang masih belum menyelesaikan aktifitas merapikan peralatan sekolah sebelum pulang. Percakapan singkat dengan teman sebangkunya sejak kelas X itu membuatnya harus menunda memasukkan buku-buku kedalam tas.
“Alfa!”
Suara ringan dan penuh semangat sudah menantinya di depan kelas. Siapa lagi kalau bukan Ameria. Tas ransel berwarna merah dengan sebuah totebag dibahu kiri membuat tubuh mungilnya semakin tenggelam.
Alfa bergegas. Tidak ingin sahabat terbaiknya itu menunggu terlalu lama dengan barang bawaan yang lebih besar dari badannya sendiri.
Langkah yang Alfa niatkan untuk bergerak cepat mulai melambat. Pandangannya menangkap Ameria sedang berbincang dengan Aksa di pintu kelas. Iya, dipintu. Menghalangi satu-satunya jalan keluar.
“Jangan lupa, ya.”
Alfa menangkap senyum bahagia tercipta di bibir Ameria usai teman sebangkunya itu pergi.
“Hei.”
“Al,”
“hhmm”
“Jadi teman sebangku kamu itu bukan kapten basket?”
“Bukan.”
“Ya ampun, pantes kok dia ketawa waktu kutanya soal badminton.”
“Maksudnya?”
“Tadi kita sempet ngobrol dikit. Say hello gitu deh. Terus dia nawarin aku buat datang di Tournamen Badminton. Kutanya dong siapa yang main, eh dijawabnya dia salah satu atlit peserta.”
“Kok bisa kamu nyangkain kalau Aksa itu kapten basket?”
“Ya, aku sering lihat dia main basket. Badannya juga tinggi cocok lah jadi anak basket. Terus … “ Ameria sedikit ragu bahkan malu-malu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Ganteng.” Alfa menambahkan.
Ameria hanya menjawab dengan cengiran lucu. “Tunggu, kalau Aksa bukan kapten basket. Terus siapa dong?”
Alfa merasa kesal dengan senyum Ameria. Entah apa alasannya. Dia hanya merasa tidak suka dan memilih berjalan lebih dulu.
“Al, tunggu dong. Jalannya jangan cepet-cepet. Berat nih.”
Alfa mendesah. Rasa kesalnya selalu dikalahkan oleh empatinya sebagai sahabat. Dia pun melangkah mundur lalu mengangkat tas yang ada di bahu kiri Ameria tanpa bicara.
Pinterest

Diperhatikan begitu selalu membuat Ameria senang. Dimatanya Alfa benar-benar sahabat sejati. Selalu ada saat Ia membutuhkan. Selalu membantu bahkan saat ia sendiri tidak tahu apa kesulitannya.
Kalau ditanya apakah dia tidak memiliki perasaan pada Alfa maka dengan tegas akan menjawab ‘ada’.
Perasaan itu pernah muncul ketika masih duduk di kelas X. Tepat setelah tiga bulan hubungan persahabatan itu berjalan. Ameria berusaha menunjukkan pada Alfa tentang perasaannya. Tapi Alfa tidak pernah menangkap sinyal-sinyal yang Ia kirimkan. Hingga Ameria merasa bahwa Alfa hanya tertarik untuk menjalin persahabatan saja dengannya.
“Alfa tunggu!” Ameria harus berlari untuk bisa menyusul langkah Alfa yang lebar. Ia harus mengerahkan energinya dua kali hanya agar bisa menyesuaikan langkah orang-orang giganteus. Istilah yang Ameria buat untuk orang-orang yang lebih tinggi darinya.
“Kamu marah gara-gara aku bilang Aksa ganteng?”
“Untuk apa aku marah?”
“Ya kali kamu nggak suka aku bilang Aksa ganteng.”
Alfa memilih tidak menjawab dan mempercepat langkahnya. Ia bahkan mengabaikan getaran ponsel dari saku celananya.
“Alfa! Nyebelin banget sih.”
Alfa terpaksa menghentikan langkah dan berbalik malas karena dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Berdiri bersedakap dengan wajah ditekuk dan bibir yang dimajukan. Itulah yang terjadi dengan sahabatnya saat ngambek.
“Astaga, Mer.” Ameria memalingkan wajahnya. “Aku nggak tahu harus bersikap apa saat kamu bilang Aksa ganteng. Nggak mungkin kan aku loncat-loncat kegirangan. Aku cowok, dimataku semua cowok itu sama. Memangnya kamu nggak serem lihat aku bilang cowok ganteng sambil tersipu kaya kamu barusan.”
“Bener?” bibir monyong Ameria mulai kembali ke bentuk semula.
“Iya.”
“Terus ngapain kamu jalan cepet-cepet gitu?”
Kadang Alfa bisa kehabisan akal menghadapi sikap Ameria. Kalau bukan karena besarnya rasa sayang seorang sahabat mungkin Ia tidak akan peduli meski Ameria mengamuk.
“Tante Marisa udah nunggu di depan. Kamu dari tadi ditelponin nggak bisa.” Alfa menunjukkan layar ponselnya yang berkedip dengan memunculkan nama Tante Marisa.
“Kenapa baru bilang. Bunda kan nggak suka nunggu.”
Seperti dikejar anjing galak, Ameria berlari seketika. Tubuhnya memang kecil yang tingginya tidak sampai 160 cm tetapi larinya cepat dan gesit. Alfa bahkan ikut berlari untuk bisa segera menyusul.
Rasa kesal yang membuat hatinya berkabut hilang seketika. Wajah panik Ameria yang takut karena telah membuat Tante Marisa menunggu menumbuhkan senyum diwajah Alfa.
====

“Pagi, Tante.”
“Hey, Alfa. Pas banget kamu datangnya. Tante baru aja selesai bikin cookies. Nyobain resep yang suka berseliweran di Youtube.” Tante Marisa mengeluarkan toples kaca dari salah satu kabinet yang ada di dapur. “Tante setengah mati dibuat penasaran sama Youtuber yang nggak pernah kasih lihat mukanya itu. Kok bisa bikin kue pake bahan minuman instan.”
Selagi Tante Marisa memasukkan kue kering berbentuk bulat kedalam toples, Alfa mencomot satu dan memakannya dalam sekali suap.
“Gimana?” tanya Tante Marisa penasaran.
“Entahlah.” Alfa memakan satu cookies lagi. Kali ini dengan penuh penghayatan. Dengan mata yang sesekali memejam seolah sedang mengerahkan seluruh kekutan pada indera perasanya.
Tante Marisa benar-benar sedang menanti pendapat Alfa tentang kue buatannya itu. hanya saja, setelah Alfa berhasil menelan kue kedua, mulutnya mengunyah kue ketiga lalu keempat. Saat tangannya hendak mengambil kue kelima, Tante Marisa segera menutup toples.
“Ngincip apa doyan?” Tante Marisa meninggalkan Alfa yang tergelak dengan mulut penuh makanan.
“Sekarang trend-nya tukang ngincip yang doyan, Tan.”
“Bisaan ya, kamu itu.” Tante Marisa menyalakan TV kemudian duduk di sofa berwarna putih. “Sini temenin Tante ngabisin kue sambil nonton TV.”
“Drama korea, Tan?”
“Waktu Tante nggak sebanyak Ameria yang bisa menghabiskan satu drama dalam 24 jam.”
tvseriesfinale.com

Pada layar datar itu sedang menampilkan sebuah regu pemadam kebakaran sedang melakukan pencarian didalam kargo pesawat. Tidak lama kemudian petugas tersebut menemukan sebuah kardus besar. Ketika dibuka kubus berukuran sangat besar itu berisi seorang pria yang lemas karena terjebak didalamnya selama berjam-jam.
“Tante lagi suka lihat film-film penyelamatan kaya gini.”
Laki-laki yang diperkirakan berusia 20 tahunan tersebut menderita hipotermia. Sehingga petugas berseragam biru tersebut menyelimutinya dengan selimut khusus untuk menghangatkan.
“Orang mungkin lebih mengenal Batman, Spidermen, Kapten Amerika, bahkan Gundala sebagai superhero. Tapi buat Tante merekalah superhero sesungguhnya. Seorang manusia biasa yang memilih berprofesi sebagai seorang penolong.”
Adegan berganti saat pemuda tadi akan dimasukkan kedalam ambulan. Kemudian seorang petugas memberikan ponsel padanya.
“Lihat wanita yang bernama Maggy. Dia berusaha keras untuk menyelamatkan pemuda itu hanya dengan suaranya. Dia meyakinkan pemuda itu untuk yakin bahwa dia pasti selamat. Bukan hal mudah tentu saja.”
Narasi panjang yang diberikan Tante Marisa benar-benar membuat Alfa terhipnotis. Perhatiannya berpusat pada adegan demi adegan yang Ia saksikan di layar televisi. Hingga membuatnya lupa tujuannya datang kesana.
Kisah penyelamatan pemuda yang terjebak dalam sebuah kardus membuat sebuah ketukan lembut dalam hatinya. Getaran itu berlanjut kemudian mengirimkan sinyal-sinyal pada otaknya untuk dibuatkan bentuk visual. Namun, belum sempat imajinasi itu terjadi sebuah suara yang khas ditelinganya bergema.
“Diihh, malah asik nemenin bunda nonton TV. Jadi pergi nggak?”
“Gimana nggak asik. Nungguin kamu dandan aja lama banget. Padahal tambah cantik juga nggak. Gimana mau punya pacar.” Bunda menyahut.
“Cantik dan punya pacar itu nggak ada hubungannya kali, Bun. Yuk, berangkat. Keburu tutup toko bukunya.”
Sepertinya Ameria sedang berada di zona peralihan, antara dunia nyata dengan dunia fiksi yang dibacanya semalaman. Sehingga Ia tidak tahu sedang di dunia mana saat ini. Padahal matahari sedang bersemangat menyinari bumi dan disambut gembira oleh kepakan sayap kupu-kupu mencari sari bunga malah disangkanya sudah malam.
Ameria mencium tangan bundanya untuk berpamitan. Disusul Alfa sambil mengucapkan terima kasih karena sudah diberi kesempatan mencicipi cookies buatannya.
“Kuenya beneran enak, Tan.”

====

Akhirnya buku bersampul putih itu berhasil Alfa temukan. Setelah berjalan mengelilingi toko buku. Beralih dari satu rak ke rak yang lainnya.
Sebenarnya mudah saja jika ingin membeli sebuah buku tanpa harus mencari satu per satu. Tinggal menggunakan komputer yang sudah disediakan lalu masukkan judul buku atau nama penulisnya. Maka katalog digital tersebut akan menemukannya dengan menunjukkan  kategori dan ketersediaannya saat ini.
Tentu saja hal itu tidak dilakukan anak-buku seperti Alfa dan Ameria. Berkunjung ke toko buku seperti hangout di mall bersama teman.

Setelah menemukan salah satu buku karangan David Wallace-wells, Alfa mencari Ameria. Tidak sulit mencari gadis mungil diantara lautan buku ini. cari saja diantara rak buku-buku fiksi. Disanalah satu-satunya sudut toko buku yang bisa menahan Ameria hingga berjam-jam lamanya.
Nah, itu dia. Satu-satunya perempuan yang masih mengenakan penutup kepala berbahan rajut ditengah hebohnya bunny hat. Alfa langsung menemukan Ameria bahkan saat Ia masih dibagian buku-buku bahasa yang letaknya dipaling ujung.
“Mau dibeli semua?”
Ameria mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari buku yang sedang dibaca. Disampingnya ada tas yang hampir penuh dengan buku.
“Winna Effendy, Winna Effendy, Ilana Tan, Prince Charming? Move on?” Alfa menaikkan satu oktaf pada nada suaranya. “Mau sampai kapan kamu baca buku ginian?”
“Buku ginian?” Ameria menurunkan buku yang sejak tadi menutupi wajahnya.
“Ya gini. Buku-buku yang bahas cinta-cintaan yang terlalu sulit ditemukan dalam dunia nyata.”
Ameria menutup bukunya. Kemudian mengambil sebuah buku yang ada ditangan Alfa.
“Bumi Yang Tak Dapat Di Huni. Kamu sendiri ngapain baca buku ginian?” balas Ameria ketus.
“Ginian? Kamu tahu nggak buku ini tuh berisi tentang betapa kacaunya bumi saat … “
“Udah deh, Stop book shaming … “
“Setiap orang punya selera masing-masing.” Ucap keduanya bersamaan.
Alfa meringis. “Sorry, khilaf.”
Mereka sudah sepakat untuk tidak mengomentari pilihan bacaan orang. topik-topik tentang buku fisik atau buku digital, fiksi atau non-fiksi semuanya memiliki sisi baik dan buruk. Semua itu kembali pada selera masing-masing.
“Udahan, yuk? Haus banget.” Ameria mengambil ponsel di dalam tas. “Astaga! Udah tiga jam kita disini.”
Ameria nyelonong sendiri menuju kasir. Melupakan tas yang berisi buku-buku yang akan dibelinya. Juga sahabatnya yang hendak berucap sesuatu karena lawan bicaranya sudah pergi.
====
“Mau makan apa?”
“Minum aja deh. Makan dirumah aja. Bunda udah masak. Nanti ngomel lagi kalau anaknya nggak makan dirumah.”
Mereka sudah tiba disebuah coffe shop. Letaknya sangat dekat karena masih satu gedung dengan toko buku langganan mereka. Hanya berbeda lantai saja. toko buku berada dilantai atas sementara kafe berada dilantai dasar.
“Yaudah. Kamu mau minum apa?”
Salted caramel milkshake sama air mineral, deh.”
“Oke. Tunggu bentar, ya.”
Setelah Alfa pergi untuk memesan, Ameria kembali disibukkan dengan hasil belajanya. Setelah memastikan meja dihadapannya bersih, Ameria mengeluarkan semua buku-buku tersebut. Menatanya sedemian rupa sehingga tampak menarik saat dilakukan pengambilan gambar.
Satu bidikan berhasil diambil. Tetapi Ameria masih merasa belum cukup. Ia lalu mengubah sedikit kompisisinya dengan mengubah posisi buku.
Alfa sudah kembali dengan nampan berisi dua gelas besar dan satu botol air putih. Ia mendesah melihat sahabatnya itu meliuk-liukkan badan demi mendapatkan sebuah foto.
“Nggak bisa dirumah aja?”
“Hari ini aku belum posting sama sekali. Nyampe rumah pasti nggak sempet. Harus mandi dulu lah, makan dulu lah. Belum alarm peringatan untuk belajar.” Setelah blitz berkedip barulah Ameria berdiri tegak seperti manusia normal. “Cukuplah. Nanti tinggal edit dikit.”
Ameria segera mematikan ponsel, menyimpan kedalam tas lalu membereskan buku-buku dari atas meja. Setelah Alfa meletakkan semua pesanan diatas meja, Ameria langsung mengahabiskan sebotol air dalam sekali teguk. Alfa hanya bisa berdecak dengan sikap tidak sabarannya.
“Lega akhirnya.” Ameria mengusap dahinya yang berkeringat. “Dehidrasi deh, aku.”
“Kupluk kamu basah tuh. Kena keringat.”
Ameria memegang ujung penutup kepalanya. Memang terasa lembab. “Biarin aja, deh.”
“Tapi, Mer. Kamu perlu memperkaya bacaan deh. Aku nggak meremehkan suma, ya, sesekali keluar dari kebiasaan aja.”
“Selama novel aku mau.”
“Kamu anti banget sama buku non fiksi.”
“Bukan anti. Mauku selesai baca itu seneng, fresh makanya aku lebih suka baca teenlit karena ceritanya ringan.”
“Ehm … “Alfa sedang berpikir. “Coba seri Dark Guardiannya Rachel Hawhorne, deh. Fantasi sih tapi asik kok. Ada cinta-cintaannya juga.”
“Kamu baca novel? Serius?”
Alfa mengangguk sambil menyeruput Americano hangatnya.
“Terus kenapa kamu ngomel terus kalau aku baca novel?”
Alfa mengangkat bahunya ke atas, acuh. “Iseng, aja.”
“Alfa!”
 “Tunggu, ada chat dari bunda.”
Ini salah satu aturan tidak tertulis yang mereka sepakati. Tidak menggunakan gawai untuk aktivitas media sosial ketika bersama. Keculi untuk hal-hal tertentu seperti panggilan dari orang tua dan mereka memberi nada khusus sebagai pemberitahuan.
“Bunda nanya kapan kita pulang. Aku bilang sejam lagi sampai rumah.” Ameria membaca dan menjawab isi pesan dari Tante Marisa agar juga Alfa mengetahuinya. Setelah mengirim balasan itu, sebuah notifikasi dari Instagram muncul. Dan isinya tidak sengaja terbaca olehnya.
“Kamu tahu nggak? Follower instagram aku udah sampai 3000. Hari ini mungkin lebih.”
“Tahulah. Kamu lupa kalau aku salah satu dari 3000 akun itu.”
Ameria menjawab dengan menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Mau sampai kapan kamu aktif di komunitas itu?”
“Sampai semua orang biasa membaca buku.”
Alfa mendesah. “Itu sama aja kaya kamu lagi nunggu perdamaian antara Palestina dan Israel.”
“Kiamat, dong” balas Ameria. ”Ya nggak apa-apa. Biar lama tapi kan pasti terjadi. Meski entah kapan.” Ameria meminum milkshake melalui sedotan. “Kamu tahu nggak, salah satu pengikutku nge-DM aku. dia bilang bahwa sejak mengikuti postinganku dia mulai baca buku. Padahal awalnya dia follow aku karena dia suka sama konsep feed IG aku yang sederhana dan klasik.”
“Kita tuh nggak bisa maksa orang buat ngikutin kesukaan kita. Lagi pula media sosial bikin orang lupa waktu”
“Emang. Tapi kita nggak bisa menilai dari salah satu sisi aja. Lihat, ada banyak orang yang terbantu dari medsos. Ya, meski banyak juga yang akhirnya kena musibah. Tapi kan kita bisa ngasih pengaruh positif untuk banyak orang. Makanya influenzer sekarang pertumbuhannya kaya pengguna facebook.” Ameria mengakhiri teorinya dengan senyum percaya diri.
“Analogi kamu tuh sama sekali nggak nyambung.”
Ameria mengangguk setuju lalu tertawa bersama Alfa. Tawa yang selalu mengiasi percakapan tentang penilaian terhadap sesuatu.
“Alfameria?”
Dua orang pemilik nama langsung menghentikan tawa. Dan mencari sumber suara yang menggabung kedua nama mereka.
“Aksa? Disini juga?” Ameria menyambut dengan antusias.
“Iya lagi beli minum terus lihat kalian.”
“Sendirian?” tanya Alfa.
“Sama nyokap tapi lagi belanja. Tuh disana.” Aksa menunjuk pada seorang wanita yang ada di sebuah gerai baju tepat di depan kafe.
“Gabung yuk?” Ajak Ameria.
“Thanks. Tapi lain kali aja. Nggak enak kalau dicariin nyokap. Yaudah, aku duluan ya?”
Alfa dan Ameria memerhatikan Aksa yang berjalan keluar kafe. Perhatian itu bahkan berlangsung sampai Aksa menghampiri mamanya yang sedang memilih baju.
“Lucu, ya? Masih ada aja anak milenial yang nemenin mamanya jalan. Nggak kaya …” Ameria melanjutkan ucapannya dengan lirikan mata yang ditujukan pada Alfa.
“Kalau tiap weekend aku nemenin mama jalan lalu yang bawain belanjaan buku kamu siapa?”
Lagi-lagi Ameria hanya bisa meringis. “Makasih udah nemenin aku kemanapun aku pergi.”
“Lebay, deh. Pulang yuk?”







Sabtu, 14 Maret 2020

Alfameria_chapter 1

01.39 0 Comments

“Hallo!” sapa gadis dengan kupluk rajut berwarna coklat. Langkahnya ringan, senada dengan senyumnya yang terus berkembang.

Ruangan seluas dua puluh lima meter persegi sudah dipenuhi kamera yang berjejer. Yang membuat siapa saja akan merasa terintimidasi. Benda berlensa itu seperti memiliki kekuatan magis yang bisa melemahkan kekuatan lawan.

Tiga orang yang duduk dibalik meja panjang yang berada di tengah ruangan menjawab sapaan yang penuh energi itu serempak.

“Perkenalkan diri kamu. Sebutkan nama, usia dan pekerjaan kamu saat ini.” ucap laki-laki yang duduk ditengah.

“Selamat sore. Nama saya Ameria. Sekarang duduk dikelas XII. Usia saya 17 tahun.”

“Langsung mulai saja, ya. Action!”

Ameria melenturkan tangannya lemas. Kertas putih yang dipegangnya terjatuh. Kepalanya tertunduk lemah. Dan terangkat perlahan.

“Itu dia masalahnya, Gas. Aku nggak pernah bener-bener tahu.” Matanya menyalang. Menatap lurus dan tajam. “Aku nunggu, Gas. Nunggu.” Tangan kiri yang mengepal, mengeras didepan dadanya yang membungkuk kedepan.

“Tapi akhirnya aku sadar satu hal,” kakinya melangkah kedepan “kamu nggak sesayang itu sama aku.”

Menegakkan badan dan menghembuskan nafas dalam. “Aku nggak milih siapa-siapa.”

“CUT!”

Tepuk tangan berderai mengikuti. Membuat ramai ruangan bercat putih itu. Wajah berseri  nampak menghapus semua ketegangan selama 5 menit sebelumnya.

“Ameria.” Ucap laki-laki berbadan besar yang duduk ditengah dengan kumisnya yang tebal.

“Saya suka tipe suara kamu, berkarakter. Artikulasi dari dialog kamu juga jelas. Tapi nggak ada jiwanya. Emosi kamu nggak keluar.”

“Iya,” sahut wanita yang duduk disebelahnya. “gerak tubuh kamu itu bertolak belakang. Seharusnya kamu menunjukkan kekecewaan, kesedihan sekaligus marah disatu waktu. Tapi kamu hanya menunjukkan kemarahan saja. itu pun nggak maksimal.”

“Ini pertama kalinya kamu ikutan casting ya?” tanya pria yang mengenakan topi.

“Iya.”

“Acting kamu bagus tapi masih mentah. Interpretasi kamu nggak jelas. Dan, untuk memerankan tokoh Jasmine ini buat aku belum.”

“Banyak latihan.” Laki-laki berkumis itu menambahkan.

Sedih, kecewa bahkan mungkin marah akan menghampiri Ameria. Tapi malah sebaliknya. Wajahnya yang bulat tidak berkerut sedikit. Senyumnya bahkan melebar manakala dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas.

“Makasih.” Ameria hendak pergi tapi tidak jadi. Seperti sedang menahan sesuatu. “Om, boleh minta tanda tangannya, nggak?”

Ketiga juri itu tersenyum mendengarnya. Ameria berjalan mendekat dan memberikannya pada laki-laki berkumis.


“Mamaku ngefans banget lho sama Om Rano. Dia nonton semua seri si Doel anak sekolahan.”

“Oh ya?” jawab Om Rano sambil menggeser kertas agar ditanda tangan pada juri yang lain.

“Iya. Waktu nobar di plaza yang om datang itu, mamaku nonton. Cuma nggak kebagian foto bareng.”

“Oh nonton bareng.” sahut Om Rano.

“Kamu beneran mau kita tanda tangan disini?” laki-laki yang ada diujung membolak balik kertas berukuran A4 itu.

“Ini piagam penghagaan, lho. Beneran mau dicoret-coret?”

“Iya, nggak pa-pa.”

“Kamu hebat lho. Juara satu lomba cerdas cermat. Kenapa ikut casting?”

Percakapan yang terjadi lebih banyak memakan waktu dibanding peran yang dimainkan Ameria. Bahkan kini terdengar lebih akrab seperti seorang paman yang bertanya pada keponakannya tentang cita-cita.

“Pengen bikin tandingannya Marvel Studio.”

Jawaban polos Ameria mengundang tawa juri.

“Baik-baik. Selamat ya. salam buat mama.”

=====

Tembok itu menjadi tempatnya bersandar. Menghabiskan waktu yang pelan-pelan membuatnya terserang rasa bosan. Didalam tasnya hanya ada sebuah buku yang berisi kumpulan soal dan sudah cukup memuakkan untuk dibaca ulang.

Otaknya cukup penat menuruti kemauan Ameria mengikuti lomba cerdas cermat. Harusnya hari libur seperti ini ia bisa tidur seharian dikamar. Atau pergi ke toko buku. Ada sebuah buku yang sangat menarik dan ingin sekali dibacanya. Dan terpaksa harus ditunda lagi demi sebuah persahabatan.

Sebuah teriakan mengejutkannya. Bayangan buku bersampul putih perlahan kabur diterjang seorang gadis dengan penutup kepala yang ingin sekali dibuangnya.


“Alfa, aku seneng banget.”

“Kamu lolos? Diterima?” Antusias yang Ameria bawa meracuninya juga. Bagaimana pun juga ratusan menitnya bisa terbayar dengan keberhasilan sahabatnya itu.

“Hhmm … mana mungkin.”

Jawaban apa itu? sangat kontradiktif.

“Aku dapat tanda tangannya Om Rano Karno.”

“Ngapain kamu minta tanda tangan pejabat?”

Alfa dengan nada datarnya itu benar-baner merusak kesenangan Ameria. Sahabatnya yang jenius meski tidak pernah belajar itu terlalu banyak bersinggungan dengan buku-buku yang terlalu tua untuk anak remaja seusianya.

“Demi apa coba.” Ameria berkacak pinggang. “Kamu beneran nggak tahu siapa Rano Karno?”


“Gubernur Banten dari tahun 2014-2017.”

“plt Gubernur Banten. Beliau menggantikan Ratu Atut Chosiyah.”
“Yang terkena kasus korupsi.” Lanjut keduanya bersamaan. Kompak.

Hening sejenak kemudian derai tawa keduanya pun menggema. Meski tidak selucu tingkahnya Rowan Atkinson ketika memerankan karakter Mr. Bean, kejadian seperti itu selalu terdengar lucu. Saling melengkapi atau membenarkan seperti sebuah hal tanpa pernah membuat satu sama lain merasa lebih rendah.

“Jadi kamu gagal?”

Mereka berjalan bersisian. Dengan lebar langkah yang sama. Dan dengan sepatu yang sama.

Alfa sangat bersyukur Ameria tidak memintanya untuk mengenakan penutup kepala yang terbuat dari rajutan. Karena hal itu hanya akan membuatnya terlihat konyol.

“Iya. Makan, yuk? Laper nih.”

Ameria sering mengubah topic pembicaraan secara tiba-tiba. Dan Alfa seperti seorang pengemudi yang akan mengembalikan ke jalan semula.

“Kok kamu nggak sedih?”

Ameria menghentikan langkahnya. “Memangnya semua kegagalan harus dirayakan dengan derai air mata dan tangis penuh ratapan?”

Alfa mengangkat kedua tangannya, tidak tahu.

“Aku hanya perlu pembuktian seberapa berbakatnya aku dibidang seni peran.”

“Pembuktian pada tante Marisa?”

“Mama hanya salah satu alasanku. Aku hanya ingin tahu arah dari masa depanku sebelum lulus SMA.”

Alfa mengikuti Ameria yang kembali berjalan.

“Kalau nanti aku serius didunia acting kamu mau nemenin aku?”

“Ogah. Jadi orang lain terus dilihat jutaan orang? makasih.”

“Kalau gitu kamu jadi sutradara aja. Isi kepalamu itu terlalu liar kalau cuma disimpan dalam kepala. Aku mau deh, jadi pemeran utamanya. Kujamin film pertamamu langsung meledak dipasaran.”

Alfa menertawakan ide yang disampaikan Ameria.

“Kamu ngeremehin bakat actingku?”

Alfa memutar kedua bola matanya sebelum berlari meninggalkan Ameria yang berteriak kesal.

Dalam larinya itu Alfa memikirkan ucapan Ameria tentang masa depan. Ratusan buku yang sudah dibacanya hingga kini tidak membuatnya berpikir akan seperti apa hidupnya kelak. Dia tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Selama ada Ameria masih berkhayal ke langit ketujuh dan toko buku masih buka maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

====

“Kepalaku mau pecah rasanya.” Ameria datang dengan sejuta keluhannya yang khas. “Masa Pak Anwar tiba-tiba ngasih kuis. Katanya kalau nilai kusinya bagus, ulangan minggu depan bakal ditiadakan. Kalau nilainya ancur-ancuran selama jam fisika minggu depan bakal diisi dengan ulangan.”

Ameria meneguk botol minuman yang ada didepannya tanpa memastikan isinya juga bertanya siapa pemiliknya. Melupakan tumpukan map plastik dan buku yang Ia bawa. Mengisi salah satu sisi meja ditaman yang ditempati Alfa sejak bel istirahat berbunyi.

“Bukannya nilai fisika kamu selalu bagus.”

“Alfa!” hardik Ameria.

“Apa?” balas Alfa tenang seolah manusia paling suci seantero SMA Persada. Sikapnya yang selalu tenang kadang Ia manfaatkan untuk menggoda sahabatnya yang bertubuh mungil dengan mulut sebesar gajah alias cerewet.

“Kamu kasih aku kopi?”

“Aku nggak ngasih. Kamu sendiri main langsung minum nggak pake tanya.”

Ameria mengabaikan Alfa dan kembali meneguk minuman kopi instan yang dikemas didalam botol. Meski minuman berkafein sangat tidak disukainya tapi saat ini Ia butuh sesuatu untuk membuat kepalanya kembali dingin setelah dipaksa mengerjakan soal-soal fisika.

“Kamu tuh ya, buku yang sering kamu baca aja udah  ketuaan untuk usia kita. Ditambah dengan kopi, instan pula. Benar-benar remaja jadul.”

Ocehan panjang Ameria hanya dibalas dengan gelak tawa Alfa. Semua penilaian Ameria terhadap kebiasaannya selalu terlihat lucu.

“Kupluk kamu mana?” tanya Alfa usia tawanya reda.

Ameria sedang membuka map plastik. Kertas hasil fotokopi itu tidak menarik bagi Alfa melainkan sesuatu yang melekat dikepala sahabatnya. Yang menjaga rambut lurus Ameria tidak jatuh menutupi wajahnya.

“Ulah mama, nih. Masa hari ini aku disuruh pakai bando. Emang ini jamannya bawang merah bawang putih apa.”

Tawa Alfa kembali membahana. Kali ini lebih keras hingga membuatnya terpingkal-pingkal.

“Ketawa sana sampai puas. Kamu mau bilang kalau seleraku sama jadulnya dengan minuman kesukaanmu kan? Aku udah bilang sama mama kalau bando itu udah nggak hits ditengah budak teknologi.”

“Tante Marisa emang paling jago bikin anaknya terlihat cantik.” Ameria mendelik menganggap pujian Alfa sebagai ejekan dalam kalimat positif.

“Beneran” Alfa menegaskan.

Penegesan yang dilakukan Alfa dibalas dengan angin yang datang tiba-tiba. Hembusannya yang kuat menerbangkan apa saja yang memiliki bobot ringan. Daun-daun kering, bungkus plastik di tempat sampah. Semuanya saling berkejaran termasuk Ameria yang kertasnya sudah berlarian ke sana kemari.

Ada selembar kertas yang terbang dan langsung ditangkap oleh Alfa. Selembar kertas yang bersisi bagian dari naskah skenario. Setiap huruf yang tertera sangat menarik perhatiannya hingga melupakan seseorang yang datang mendekati Ameria.

“Ameria kan?” Seorang laki-laki mengenakan seragam olahraga membantu memungut kertas. “Anak XII IPA 3. Aku Aksa, teman sekelasnya Alfa.”

Dalam hati Ameria tertawa. Siapa yang tidak tahu Aksa. Murid laki-laki paling populer di SMA Persada saat ini. Entah apa yang membuatnya terkenal. Karena sejak bersekolah di sini, Ameria sama sekali tidak pernah satu kelas. Jadi tidak heran kalau dia termasuk kelompok minoritas yang menganggap Aksa biasa saja.

“Makasih.” Ameria menerima kertas yang diulurkan Aksa.

Serombongan anak laki-laki keluar dari lapangan. Tembok kawat yang memberi batas antara lapangan dengan taman harus mereka lewati melalui sebuah pintu yang ada di keempat sudutnya.

“Aksa, ganti yuk!”

Meninggalkan sebuah senyum, Aksa berlalu meninggalkan Ameria yang merapikan kertasnya. Bergabung dengan teman-temannya untuk berganti baju karena sebentar lagi jam istirahatnya selesai.

Sambil menghitung untuk memastikan lembar naskahnya tidak berkurang, Ameria melirikkan matanya pada geng Aksa yang nampak punggungnya saja.

“Kamu beneran mau serius dengan acting?”

Akhirnya Alfa sadar sedang bersama dengan Ameria lalu menghampirinya. Meskipun matanya belum bisa lepas dari penggalan adegan yang sedang Ia baca.

“Bukan acting tapi seni.” Ameria bangkit.

“Aku belum tahu seni apa yang ingin aku dalami nanti. Yang jelas tahun depan aku mau kuliah di IKJ untuk mencari tahu seni apa yang paling cocok denganku.”

“IKJ?”

“Iya. Itu salah satu kampus yang melahirkan banyak seniman. Bahkan sutradara-sutradara besar di Indonesia banyak yang lulusan sana.”

Alfa hanya manggut-manggut. Dia kurang begitu paham dengan dunia perfileman Indonesia. Pergi ke bioskop hanya saat Ameria mengajaknya. Itupun jarang dilakukan karena mereka lebih senang nonton film di rumah. Alasannya sederhana, karena di rumah mereka bisa berisik untuk memberikan sejuta komentar pada film.

“Kenapa nggak ke Korsel aja? Semua artis dari drama-drama yang sering kamu lihat pasti multitalented.”

“Iihhh ... Alfa.” Ameria memukul-mukul Alfa menggunakan sebelah tangannya yang kosong. “Aku serius!”

Alfa bingung sendiri karena dia juga serius dengan ucapannya tadi. Kalau menggunakan karya seni sebagai alasan untuk memilih kampus maka Korsel menjadi tujuan utama. Lihat saja, di Indonesia drama korea memiliki penggemar yang jumlahnya sangat fantastis. Belum lagi jika ditambahkan dengan pengagum idol-idol Korea Selatan.
Meski tidak bermaksud untuk bercanda dengan usulannya tadi, sepertinya Ameria benar-benar tersinggung. Dia berjalan meninggalkan Alfa dibelakang.

“Iya deh, maaf.” Susul Alfa. Dia tidak tega melihat Ameria sedih. Meski bukan kesalahannya Alfa selalu berusaha memperbaiki suasana hati gadis yang sudah cukup lama dikenalnya. “Aku temanin kamu masuk IKJ. Tapi jangan ngambek lagi.”

“Beneran? Kamu mau sekolah seni?” Alfa mengangguk mantab. “Tapi kan kamu nggak suka seni.”

“Tidak harus suka untuk belajar hal baru. Lagian nggak harus jadi seniman kan kalau lulus dari IKJ?”

Hal terbaik mana selain menemukan sesuatu yang ingin kita lakukan di masa depan. Ameria sudah menemukan itu dan Alfa senang melihatnya. Meskipun ia sendiri belum bisa melihat pintu masa depannya terbuka disebelah mana.
Bagi Alfa, seni bukan sesuatu yang diminatinya. Tapi Ameria membuatnya ingin mencoba hal baru dan mulai memikirkan apa yang ingin dicapainya di masa depan. 

Follow Us @soratemplates