Minggu, 10 November 2019

MENCINTAI BANGSA MELALUI CAGAR BUDAYA INDONESIA

13.15 4 Comments
Hampir 4 tahun tinggal ditanah majapahit tapi sekalipun belum pernah membicarakannya bersama anak-anak. Hingga suatu ketika saya pergi ke toko buku dan menemukan sebuah buku fiksi yang menceritakan sosok legendaris, Maha Patih Gajah Mada.
Usai membaca buku tersebut muncul sebuah keinginan untuk mengajak anak-anak napak tilas perjuangan Gajah Mada. Yang pertama kali terbersit adalah menunjukkan pada anak-anak bahwa tempat tinggal mereka saat ini pernah berdiri kerajaan besar yang menjadi cikal bakal wilayah Indonesia.
Kesempatan itu akhirnya datang.
Awal tahun 2019 saya mengajak anak-anak mengunjungi Museum Majapahit yang berada di Trowulan. Museum ini terletak di dalam wilayah Situs Trowulan.
Mengenal Situs Trowulan
Situs Trowulan merupakan situs perkotaan klasik dan satu-satunya di Indonesia. Wilayah dengan luas 11 km x 9 km berada di 4 kecamatan dari dua kabupaten. Yaitu Kecamatan  Trowulan dan Sooko yang berada di Kabupaten Mojokerto serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno berada di Kabupaten Jombang.
Penelitian yang dilakukan di situs trowulan dimulai pada tahun 1815 sampai sekarang. Diperkirakan masih banyak benda-benda peninggalan Kerajaan Majapahit yang belum ditemukan.
Didalam Situs Trowulan ini menjadi tempat terakumulasinya aneka benda peninggalan kota di jaman Majapahit. Meski belum bisa dipastikan posisi persis keraton dari Kerjaan Hindu-Budha tersebut. Adapun situs-situs yang tersebar meliputi situs upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industri, situs perjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal, dan situs waduk.
Pada kesempatan itu kami hanya sempat mengunjungi tiga objek saja. Yang pertama adalah Museum Trowulan (Pusat Informasi Majapahit), Gapura Bajang Ratu dan Situs Pendopo Agung.
Museum Trowulan
Bisa dikatakan Museum Trowulan harus menjadi lokasi pertama sebelum mengunjungi objek-objek lain yang berada di Situs Trowulan. Karena semua artefak-artefak bersejarah di simpan dan dipamerkan disini.
Memasuki area museum, kami disambut dengan taman yang luas dan tertata rapi serta banyak pohon-pohon besar yang membuat kawasan ini semakin asri. Halamannya pun luas dan bersih yang menambah kenyamanan saat berkunjung.
Pada tahun 1924 oleh bupati Mojokerto yang bekerjasama dengan arsitek Belanda menginisiasi perkumpulan diberi nama Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). OVM bertujuan untuk meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit. Kemudian pada tahun 1926 terbentuk bangunan tempat menyimpan benda-benda bersejarah tersebut dan dikenal dengan nama Museum Trowulan.
Museum Trowulan terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu Koleksi tanah liat, koleksi keramik, koleksi logam dan koleksi Batu.

Koleksi Batu yang pertama kali kami datangi. Berada dibangunan sendiri dan terletak dibelakang bangunan utama. Bangunan dengan konsep terbuka untuk menyimpan artefak berbahan batu seperti komponen candi, arca, relief dan prasasti.
Setelah itu kami beralih pada bangunan utama yang ada didepan. Gedung ini menjadi tempat dipamerkannya koleksi keramik, logam dan tanah liat. Disini ruangan dibagi dua dengan lobi yang berada diantaranya. Satu sisi ruangan dengan pendingin udara sebagai tempat dipamerkannya koleksi logam dan keramik. Sementara ruangan lainnya berisi koleksi tanah liat.
Melihat artefak-artefak tentu sangat membosankan untuk anak-anak. Maka saya menjadi tour guide dadakan. Berbekal pada papan informasi yang tersedia di setiap objek ditambah sedikit kreatifitas jadilah kunjungan ini sesuatu yang sangat menarik.

Tahun penemuan menjadi daya tarik utama terutama Kakak. Sementara Adek lebih suka melihat-lihat tanpa memedulikan bundanya yang sedang memberi penjelasan sehingga ayah yang mendampinginya.
Kakak sangat antusias ketika saya menyebutkan tahun ditemukannya benda-benda tersebut. Kakak kaget dan tidak menyangka bahwa benda-benda berusia ratusan tahun itu masih ada dan disimpan. Bahkan sengaja dipajang untuk dipamerkan dan menarik perhatian banyak orang. Lalu pertanyaan lain khas anak-anak pun meluncur bebas yang membuat saya cukup kewalahan.
Saat di pintu masuk, kami menjumpai papan besar berisi larangan selama didalam museum. Disinilah saya sisipkan adab ketika mengunjungi tempat-tempat sejarah seperti museum.  Tentu saja disertai penjelasan agar anak-anak bisa memahami aturan-aturan tersebut. Diantaranya :
1. Dilarang menyentuh dan memegang benda koleksi
Tangan sekalipun bersih dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan secara langsung maupun tidak langsung. Benda-benda sejarah umumnya berusia ratusan tahun dan dalam kondisi rapuh. Sehingga perlu kehati-hatian dalam merawatnya.
2. Dilarang mengambil gambar
Kamera pada umumnya menggunakan flash. Cahaya yang dihasilkan flash ini lah yang dikhawatirkan akan memicu kerusakan karena reaksi kimia yang dihasilkan ketika cahaya mengenai objek. Meski flash ini bisa dinonaktifkan namun penggunaan kamera dikhawatirkan mengganggu kenyamanan pengunjung lain.
3. Dilarang membawa makanan dan minuman
Biasanya aturan ini sudah diberlakukan sebelum memasuki gedung. Hal ini diberlakukan untuk mencegah teradinya makanan atau minuman yang tumpah dan mengenai objek yang dipamerkan.
Pengetahuan tentang aturan-aturan ini penting sekali diajarkan sebagai salah satu cara menjaga benda-benda bersejarah. Selain itu juga bermanfaat agar anak-anak terbiasa bersikap baik dan taat pada aturan dimanapun mereka berada.

Kurang lebih 1 jam kami berkunjung ke museum. Sejujurnya waktu tersebut belum cukup untuk mengelilingi semua bagian museum. Namun waktu tersebut sangat cukup bagi anak-anak terutama kakak untuk menikmati benda-benda purbakala.
Candi Bajang Ratu
Objek kedua yang kami kunjungi adalah Gapura Bajang Ratu. Memasuki lokasi, saya tertinggal jauh karena anak-anak langsung berlarian.
Bangunan segiempat yang berukuran 11,5x10,5x16,5 meter berdiri tunggal ditengah-tengah lahan yang luas. Taman yang indah, rapi dan bersih berada mengelilingi gapura. Sekaligus menjadi salah satu daya tarik utama untuk anak-anak. Ditambah jalur menuju lokasi yang cukup lebar menjadi lokasi terbaik untuk anak-anak bereksplorasi.
Tidak banyak yang bisa diceritakan pada anak-anak selain fungsi dari gapura ini. Yaitu sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara.

Sebenarnya ada banyak informasi yang bisa diberikan seperti bentuk relief, desain arsitekturnya atau proses ditemukannya situs tersebut. Namun tempat terbuka menjadi lokasi terbaik bagi anak-anak untuk melatih motoriknya. Ditambah waktu sore yang sejuk semakin menambah betah saat berkunjung. Sehingga berlarian dan berfoto menjadi aktivitas yang menarik untuk dilakukan disini.
Situs Pendopo Agung
Pendopo Agung menjadi objek terakhir yang kami kunjungi. Sesuai dengan namanya objek utama dari situs ini adalah pendopo. Pendopo ini didirikan pada 15 Desember 1966 atas prakarsa Kolonel Sampurna. Bangunan ini bisa dimasuki dan dimanfaatkan oleh pengunjung untuk beristirahat. Dibagian belakang bangunan terdapat silsilah raja-raja Majapahit.
Terdapat kompleks makam dibagian belakang bangunan pendopo. Salah satunya diberi nama Kubur Panggung. Makam yang disebut kubur panggung ini berupa bangunan kecil. Namun, tempat ini bukanlah sebuah makam yang digunakan untuk mengubur manusia yang sudah meninggal melainkan sebuah maqom atau petilasan tempat Raden Wijaya bertapa.
Di depan pendopo berdiri patung Raden Wijaya, raja pertama Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada. Dua tokoh besar ini bisa diteladani anak-anak tentang kegigihan tekad dan semangat pantang menyerah demi mencapai cita-cita.
Pendopo ini dikelilingi pohon-pohon besar yang dimanfaatkan sebagai arena permainan anak-anak. Diantaranya persewaan mobil remote control, rumah balon, dan melukis. Biaya yang dikenakan untuk memanfaatkannya pun relatif murah.
Selain kami, juga banyak keluarga-keluarga lain bersama anak-anak yang memanfaatkan lokasi ini sebagai tempat berlibur.
Menyenangkan menjadi kesan pertama kakak ketika diajak ke museum. Hasil yang sangat baik karena objek wisata identik dengan aktifitas yang membosankan. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan kakak mengusulkan untuk berkunjung kembali dilain waktu.
Hal ini tentu memacu semangat saya untuk terus belajar sejarah melalui banyak cara. Selain untuk memperkaya pengetahuan saya juga menjadi bekal saya untuk mengajarkan pada anak-anak tentang sejarah bangsanya.

Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Dan museum menjadi salah satu cara paling efektif mengajarkan sejarah.
Situs Trowulan adalah salah satu cagar budaya yang dimiliki bangsa kita. Dan bisa menjadi objek menarik untuk dikunjungi bersama anak-anak. Berkunjung ke tempat-tempat bersejarah menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian kita pada cagar budaya Indonesia. 
Teman-teman punya pengalaman menyenangkan serupa? Yuk, tulis dan bagikan pengalaman tersebut melalui Kompetisi Blog "Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”

Pengalaman adalah sedekah terindah yang bisa kita berikan kepada sesama.

Referensi :

Buku Panduan ‘Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan’ Oleh I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, Wicaksono Dwi Nugroho.

Sabtu, 02 November 2019

Masa Lalu

14.36 0 Comments
“Ibu sangat menyayangi anak-anaknya. Tidak perduli aku atau Diar, kami diperlakukan sama dalam segala hal.”
Satya menyadari telah terjadi sesuatu antara Ibu dan Killa. Dan dengan ucapan Satya bermaksud menenangkan. Nampak sekali perubahan pada diri Killa.
Diar sudah memberinya peringatan. Tanpa itu pun Satya sendiri sudah tahu. Tahapan ini memang perlu Killa lalui agar kedepannya lebih baik. Hanya saja Satya melewatkan akibat setelahnya. Killa nampak sangat terguncang.
“Aku kira karena kamu perempuan, Ibu tidak akan terlalu keras. Rupanya yang dialami Rasyid tidak jauh berbeda dengan kamu.”
Killa hanya memberikan tanggapan dengan sebuah senyuman.
“Ki,” Satya menggenggam tangan Killa. “Aku tetap akan mengusahakan hubungan kita. Sesulit apapun itu. Kamu bisa pegang janjiku.”
Kemampuannya mencerna perkataan Satya jauh berkurang. Killa tidak tahu harus menjawab apa. Sebuah anggukan lemah yang bisa dia berikan.
Satya membalas dengan tersenyum. “Kamu istirahat aja. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai rumah.”
Killa menurut.
Tidur memang yang paling ia butuhkan. Energinya terkuras habis saat berhadapan dengan Ibu. Dan Satya menjadi selimut yang memberinya kehangatan pada jiwanya yang kedinginan.
Usapan lembut Satya berikan pada puncak kepala Killa ketika wanita disampingnya itu sudah terhanyut dalam dekapan mimpi. Nafasnya tenang dan teratur. Gurat kelelahan dan ketakutan masih tersisa diwajahnya.
Apa yang sudah kamu dengar dari ibu?
Satya berkendara dengan pikiran yang berkecamuk. Rasa penasarannya begitu besar. Keyakinannya membawa Killa bertemu dengan Ibu tidak tergoyahkan. Bahkan restu yang sedang ia cari akan dengan mudah didapatkan. Tapi kini, keyakinan itu pelan-pelan mulai terkikis.
Mimpi benar-benar memeluk Killa erat. Mama yang datang membangunkan pun tak membuat Killa terlepas dari jerat bunga tidur. Sehingga Satya meminta izin pada Mama untuk memindahkan Killa ke kamarnya. Mama terpaksa menyetujuinya. Saat ini hanya Satya yang mampu melakukannya. Keenan tentu saja sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.
“Makasih ya nak Satya.” Mama memberikan sebuah tas berisi kotak makan. “Untuk Nak Satya selama jauh dari rumah.”
“Wah, jadi merepotkan.”
“Anggap saja Nak Satya sedang menyenangkan hati seorang ibu.”
Apalagi yang bisa Satya lakukan selain menerima dan berterima kasih. Tidak ada penolakan untuk ibu bukan? 
Pinterest
Maka Satya pun membawanya seperti sebuah oleh-oleh. Dikepalanya sudah tersusun rapi jurus pertahanan untuk menghadapi celotehan Diar nanti.
Barisan rapi alasan yang harus diucapkan pertama kali siap meluncur dari bibir tipis Satya. Namun segera tertelan kembali, ketika mendengar perdebatan 2 wanita yang terdengar dari dalam rumah, Ibu dan Diar.
“Itu masa lalu, Bu. Tidak perlu dibawa-bawa.” Suara Diar terdengar kesal
“Masa lalu seorang wanita itu menjadi jejak permanen yang tidak bisa dihapus. Itu seperti penyakit bawaan yang sewaktu-waktu bisa kambuh.” Balas ibu tidak kalah sengit.
“Tapi ibu tidak bisa menilai orang dari pertemuan pertama, kan? Paling tidak ibu harus menghargai usaha Mas Satya, Bu.”
Diar terlihat sedang memohon pada Ibu ketika Satya masuk ke dalam. Meja makan itu belum berubah sejak satu jam lalu ia tinggalkan.
“Serius sekali?” Satya melihat Ibu maupun Diar tidak ada yang berbicara. “Diar?.”
 “Enggak apa-apa kok mas. Biasa debat kecil sama ibu soal Rasyid.” Diar bergerak cepat dengan menarik Satya menjauh.
“Bukan Rasyid.” Ucapan ibu menghentikan langkah Satya. “Tapi Killa.”
“Ada apa dengan Killa, Bu?”
“Bukan soal penting, Mas. Mending Mas Satya siap-siap. Bentar lagi jemputannya pasti datang. Oh, ini apa?”
Satya menyerahkan paper bag yang sejak tadi dipegangnya pada Diar. “Mas mau bicara dengan ibu.”
Diar memandang penuh permohonan agar Satya mengikutinya pergi.
“Diar, Mas bisa menyelesaikan apapun masalah yang kamu khawatirkan.”
“Tapi janji sama Diar kalau Mas nggak akan melepaskan Mbak Killa.” Ucap Diar pelan-pelan.

Satya menjawabnya dengan tersenyum dan sebuah belaian lembut di kepala adik perempuannya. “Pasti.”
Pinterest
Setelah memastikan Diar pergi, Satya menghampiri ibu yang sejak tadi duduk membelakanginya. Terlihat sekali sedang diselimuti amarah. Nafasnya naik turun tidak beraturan, begitu dengan sorot mata yang menunjukkan rasa tidak suka.
“Minum dulu, Bu.” Satya menyodorkan segelas air putih.
Segelas air dingin mampu menurunkan emosi. Itu yang ayahnya sering ucapkan sejak Satya kecil.
Hampir 35 tahun hidupnya selalu menerima gelas berisi air dari orang tuanya ketika sedang marah atau sedih. Ini pertama kalinya bagi Satya menyajikan untuk meredam emosi ibu.
Nafas ibu pun berangsur-angsur tenang. Emosi yang tadi menguasainya perlahan hilang. Satya pun mulai berbicara.
“Ibu kenapa?”
“Ibu nggak suka kamu sama Killa. Apalagi kalau niat kamu membawanya kemari untuk mendapatkan restu ibu. Sebaiknya kamu buang jauh-jauh rencana itu.”
Satya menghela nafas. “Kalau gitu bisa Satya simpulkan bahwa ibu kurang menyukai Killa?”
“Tidak suka!” Ibu menegaskan.
“Baik, ibu tidak suka Killa. Tapi kenapa? Pasti ibu punya alasan.”
Ibu berbalik, duduk menghadap Satya. “Kamu harus tahu bahwa setiap orang tua menginginkan pendamping yang terbaik untuk anak-anaknya.”
“Meski aku laki-laki?”
“Justru karena kamu laki-laki, kamu harus didampingi perempuan yang baik. Yang bisa menjadi rumah yang selalu kamu rindukan setiap saat.”
Satya diam. Menunggu. Dia masih belum menemukan titik yang menghubungkan harapan ibu dengan Killa.
“Dan Killa bukan perempuan seperti itu.”
“Kenapa?”
Ibu menghela putus asa. “Kamu ingat proses pernikahan sepupu kamu, Rian?”
“Iya. Tapi tapi kenapa sekarng jadi membicarakan Rian?.”
“Karena ada hubungannya. Kamu tahu Rian hampir tidak jadi menikah dengan Tantri?”
Satya menelengkan kepala. Dia tidak pernah tahu hal itu. Dia tahu dari Tantri bahwa pernikahan itu terpaksa ditunda karena orang tuanya tiba-tiba merasa keberatan jika Rian menikahinya. Ketika Satya bertanya lebih lanjut, Tantri hanya menjawab dengan gelengan kepala kemudian menangis selama berhari-hari.
“Ada perempuan yang datang saat keluarga kita dan Tantri sedang membicarakan tanggal pernikahan.” Ibu bercerita. “Perempuan itu membuat keributan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan baik-baik. Dia seperti tidak punya harga diri dengan memohon-mohon pada laki-laki yang sudah memiliki calon pendamping.”
Pada bagian ini Satya tahu karena saat kejadian ada disana. Tapi dia tidak tahu siapa perempuan itu. melihat wajahnya saja tidak sempat karena ibu segera membawa pergi wanita tadi.
Ingatannya hanya menggambarkan seorang wanita, masih sangat muda. Usianya mungkin sekitar 19 atau 20 tahun. Dan terlihat cukup berantakan. Kemeja entah kaos yang dikenakannya kusut disana sini. Ditambah ikatan rambutnya yang hampir terlepas membuat rambut panjangnya awut-awutan.
“Kamu ingat sekarang?”
“Iya. Tapi aku masih tidak mengerti hubungannya dengan Killa.”

“Perempuan itu Killa.”

Senin, 28 Oktober 2019

3 HAL UNIK YANG DIRASAKAN ANAK BUKU

19.31 32 Comments
Kutu buku, book freak, book dragon, monster book dan masih banyak lagi sebutan untuk orang-orang yang menyukai buku. Istilah tersebut pun sangat populer di Instagram sehingga banyak digunakan sebagai tagar. Kalau saya lebih suka menyebutnya anak buku.
Instagram menjadi salah satu wadah bagi orang-orang tersebut. Mereka biasa menamai bookstagram. Komunitas ini mulai berkembang di Indonesia sekitar 2 tahun belakangan. Tidak selalu mereka yang gemar membaca bahkan mereka yang hanya mengunggah foto dengan buku sebagai objek pun sudah bisa disebut bookstagram.
Nah, mereka yang menyukai hal-hal seputar buku ini juga memiliki kebiasaan unik. Jika ada yang melihat pasti akan memberi kesan lebay deh, enggak ada kerjaan, dan lain sebagainya. Salah? Tidak. Itu kan hanya pendapat orang yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Biar tidak menghakimi seenaknya sendiri, yuk, kita selami sedikit dunia mereka.
IG azura.arts
Kumpulan Buku adalah Taman Bunga
Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi. Berbagai jenis tanaman berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tanaman berbunga, tanaman berduri, perdu, tanaman merambat, pohon-pohon dengan tajuk yang besar-besar menjadi penghuninya.
Siapapun akan senang mengunjunginya. Datang bersama keluarga, menikmati bekal yang dibawa dengan pemandangan yang memanjakan mata. Disaat seperti ini kita akan merasa kadar oksitosin dalam tubuh meningkat. Senang rasanya.
Kurang lebih seperti itu yang dirasakan oleh anak buku. Barisan rak yang menjulang tinggi yang berderet rapi. Dipenuhi oleh buku-buku yang sudah dikelompokkan sesuai kategorinya.
Filsafat, sejarah, psikologi itu seperti kelompok perdu yang bergerombol dengan daun hijaunya yang seragam.
Agama, pendidikan, social-budaya adalah tajuk-tajuk ilmu yang senantiasa menaungi dari sengatan hal buruk dunia.
Komik, novel, kumpulan cerpen bahkan puisi terlihat seperti bunga yang sedang mekar dengan genre-genre yang siap membuka pintu segala emosi.

Ekonomi, politik, teknologi mengakar dan berkembang tanpa batas. Menjerat orang-orang untuk terus mengasah kemampuan.
IG azura.arts
Perpustakaan dan Toko Buku adalah Tempat Hang Out Terbaik
Kalau jalan bareng teman kemana? Nongkrong di kafe atau nonton di bioskop biasanya jadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Tidak heran kalau saat ini banyak sekali kafe-kafe baru yang menawarkan banyak konsep demi kenyamanan nongkrong.
Anak buku pun demikian. Jangan salah, mereka juga suka hang out. Bisa sendiri atau rame-an.
Nah, ini juga salah satu yang seru yang hanya anak buku lakukan (mungkin). Pergi sendirian. Tidak semua sih. beberapa ada yang demikian untuk mereka dengan karakter introvert.
Alasannya sederhana. Tidak suka mendapat banyak gangguan. Kalau sesama jenis enggak akan masalah (anak buku) tentu saja. Lah kalau beda? Asli itu hal yang sangat berbahaya untuk dibayangkan.
Pernah suatu waktu pergi ke toko buku di temani suami. Sebelum masuk saya sudah berpesan untuk tidak bertanya kapan selesai. Sekaligus memberi saran  untuk menunggu di kafe atau Time Zone saja. Saking sayangnya, suami maksa ikut masuk.
30 menit pertama saya sudah disamperin. Awalnya hanya melihat apakah saya sudah menemukan buku yang dicari. 15 menit kemudian menawarkan diri untuk membantu mencari judul buku. Akhirnya setelah genap 1 jam kesabarannya diambang kepunahan pun bertanya, “Sudah selesai?”
Inilah tragedi!!!
Toko buku dan book fair kadang terlalu berisik untuk dikunjungi. Beberapa anak buku yang suka ketenangan akan memilih perpustakaan.
Perpustakaan seperti surga dunia. Bayangkan, buku-buku yang sudah tidak beredar akan bisa di jumpai di sana. Bahkan buku-buku yang terbit sejak jaman kolonial pun pasti ada.

Kalau di perpustakaan Hogwarts ada yang disebut restricted area, perpustakaan dunia nyata pun ada. Bedanya tidak ada rantai yang mengikat buku agar tidak berteriak liar. Kita cukup bertanya kepada petugas atau membawa dokumen tertentu terkait perijinan seperti surat izin penelitian. Karena buku langka sehingga tidak bebas untuk dibaca dan dipinjam.
IG splendidwords
Over Protective terhadap buku
Pacar protektif itu biasa. Orang tua protektif itu kewajiban. Anak buku protektif harus diwaspadai.
Jangan bangunkan harimau tidur. Pepatah itu sangat sesuai untuk disematkan pada anak buku.
Pasalnya ketika kita meminjam atau sekadar membaca buku miliknya, hal pertama yang akan diucapkan adalah daftar panjang kata jangan. Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan ditekuk, jangan makan sambil baca, jangan baca sambil minum dan ada ratusan lagi kata jangan.
Untuk anak buku daftar jangan adalah aturan mutlak. Sekali saja jangan sampai melanggar. Hal itu sangat melukai hati.
Hal-hal tersebut adalah bentuk penjagaan yang bisa dilakukan terhadap koleksi bukunya baik kesayangan maupun bukan. Jika mereka masih memberi izin itu adalah sebuah kebaikan dan hargailah. Ketika mereka bilang ‘tidak boleh’ maka mengertilah. Biasanya mereka pernah mengalami kejadian buruk yang traumatis.

Mempunyai Dunia Sendiri
Menjadi seorang anak buku terkadang mendapat label pintar. Tapi tidak sedikit juga yang mengalami kesulitan saat berbincang atau nggak nyambung.
Secara umum seorang anak buku memang memiliki wawasan luas dan lebih terbuka cara berpikirnya. Tapi ketika berbicara lebih dalam, seringkali mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraannya.
Apalagi jika berhadapan dengan anak buku yang sering membaca novel. Mereka seperti berada di dunia yang berbeda dengan kebanyakan orang. Atau justru menjadi sosok lain. Bukan hal yang aneh ketika seorang anak buku sangat terpengaruh dengan karakter yang sedang atau pernah dibaca kedalam kepribadiannya.
Bersabarlah!

Selebihnya anak buku itu menyenangkan. Mereka bisa menjadi teman berbincang yang menyenangkan karena wawasan mereka yang luas dan bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Yang jelas kesenangan mereka dengan buku membuat mereka lebih bijak dalam melihat sesuatu sehingga tidak membuatnya menjadi karakter korek api yang mudah sekali tersulut emosi.

Sabtu, 26 Oktober 2019

LIFE SUCKS

22.23 15 Comments
Disclaimer
Tidak memasukkan unsur agama juga kadar keimanan seseorang. Semua tulisan hanya dilihat dari sisi kemanusian dan psikologi kejiwaan
First Suck
“Halo.”
“Hai, sorry aku lagi rapat sekarang. Nanti kutelpon, ya.”
Percakapan yang umum sekali tapi tidak pernah ada yang menyadari bahwa hal itu memberikan dampak yang sangat besar.
Untuk beberapa orang, dialog itu dapat diterjemahkan sebagai sebuah penolakan.
Satu kata yang memiliki magnet besar untuk menarik hal-hal buruk. Merasa tidak dibutuhkan, merasa bukan sesuatu yang penting, tidak menjadi prioritas bahkan tidak memiliki arti apa-apa.
Dan itu tidak disadari terjadi setiap saat oleh orang-orang terdekat.
Sakit kepala, pusing, lelah, meriang bisa jadi adalah gejala flu. Istirahat yang cukup dan makan yang bergizi bisa menjadi obat. Itu adalah fisik yang sakit.
Bagaimana jika mental yang sakit?
Mereka yang setiap hari tersenyum, yang setiap hari bercanda, melontarkan kalimat lucu bisa jadi tengah menyimpan kesedihan yang dalam akibat dari sepenggal percakapan tadi.
Seorang ibu yang setiap hari marah dan berteriak pada anaknya bisa jadi disebabkan bukan karena kesalahan si anak.
Orang lain mungkin akan menilai bahwa dia adalah seorang ibu yang galak. Ibu yang jahat, terlalu keras pada anak-anak. Sehingga cemoohan, caci maki pun dilontarkan semudah membalik telapak tangan.
Satu lagi luka digoreskan.
Belum lagi kehadiran seorang suami seperti ada dan tiada. Dengan kesibukan pekerjaan yang tiada batas, merasa kewajiban sudah terwakili dengan pemenuhan materi.
Jika sumber masalah terletak pada pelampiasan emosi maka kehadiran pendengar yang baik itu cukup. Dan jutaan keluh kesah akan tersalurkan dengan baik.
Namun, jika penolakan yang dirasa, kehadiran pendengar saja tidak cukup.
Apa yang mau didengar jika mereka tidak berbicara?


Second Suck
“Tuuuttt”
Dering pertama
“Tuuuttt”
Dering kedua
“Tuuttt”
Dering ketiga.
Kemudian sebuah pesan masuk.
“Maaf, lagi ketemu klien. Nanti kutelepon. Ada apa?”
Tambahan pertanyaan diakhir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa. Bahkan jika diletakkan diawal kalimat.
Bahkan kehadiran pesan itu saja tidak akan memperbaiki keadaan.
Gelas yang pecah tidak bisa disatukan kembali. Begitulah wanita. Sekali hatinya terluka, selamanya luka itu akan menganga.
Kondisi ini tak lebih baik dari penolakan. Karena rasa-rasa yang dulu hanya melayang di awan tiba-tiba datang menyergap.

IG : anxiety_depression___

Finally
Ini adalah titik paling berbahaya.
Ketika seseorang merasa dirinya hanya seorang diri di dunia ini. ketika dia merasa bahwa hanya ada dirinya sendiri. Ketika dalam gegap gempita tapi kekosongan menyelimuti diri.
Hal ini berbeda dengan kesepian.
IG : selfcareispriority
Kesepian hanya merindukan kehadiran orang lain disampingnya. Ketika seseorang datang maka segalanya akan berubah menjadi lebih baik.
Namun keadaan ini tidak lah demikian. Ada atau tidakadaan orang lain tidak memberi perbedaan.
Dia tetap merasa sendiri. Dalam dunianya yang gelap dan pekat. Setitik cahaya tak mampu memberikan penerangan.
Sehingga keputusasaan akan lebih mudah menghampiri hingga kalimat terakhir pun terucap.
“Aku berhenti.”


Bukan mata, bukan pula telinga. Tapi rengkuhan hangat yang menunjukkan bahwa aku ada untuk kamu.

Jumat, 25 Oktober 2019

Rebound : Kamus Killa

14.39 0 Comments
Semesta berkonspirasi. Sejujurnya ungkapan itu kadang terdengar sangat menggelikan. Sebuah ungkapan yang dipakai untuk menyederhanakan frasa takdir Tuhan. Tapi baiklah, apa salahnya menggunakannya sesekali.
Coba kita lihat sejauh mana konspirasi itu.
Matahari bersinar cukup terik. Namun hujan semalam mampu menahan sengatan sinarnya. Ditambah embusan angin pagi ini yang sedikit lebih kencang dari biasanya. Tentu hal ini menambah kesempatan untuk menangkal matahari yang tersenyum diatas langit.
Pukul enam pagi, Surabaya sudah benar-benar menyingkirkan malam. Cahaya bintang kecil benar-benar dikalahkan oleh bintang utama.
Kehidupan manusia pun benar-benar sudah aktif. Lihat saja, jalan-jalan protocol sudah seperti lahan parkir. Semua kendaraan tumpah ruah. Saling berebut untuk lebih dulu lewat. Bunyi klakson sahut bersahutan tak berirama, hanya menulikan telinga saja.
Sekali lagi konspirasi itu ada.
Menggelar tabir untuk menghalau pengaruh buruk jalanan pada seseorang yang sedang menunggu.
“Mbak Ki, ada customer pake credit card.” Lisa melongokkan kepalanya melalui pintu manager.
“Aku udah hand over-an. Emang Pak Wahyu kemana?”
“Udah dicariin tapi nggak ketemu. Minta tolong deh mbak, kasian customernya udah nunggu dari tadi.”
Untuk transaksi non tunai memang mengharuskan setiap manager turun tangan. Karena harus menggunakan swiep card yang hanya dipegang oleh manager.
“Yaudah. Tapi habis ini kamu cari Pak Wahyu, ya.”
Dengan terpaksa Killa mengikuti Lisa. Menunda sebentar waktunya untuk membereskan barang-barangnya sebelum pulang. Masih ada cukup banyak waktu sampai Satya datang menjemputnya.
Killa sudah menukar seragamnya dengan sebuah dress berwarna hitam. Tinggal memoles sedikit make up untuk menutupi wajah lelahnya. Begadang memang sudah biasa dilakukannya. Meski terbiasa wajahnya tidak berbohong setelah semalaman tidak tidur.
“Ciee seragaman.” Lisa kembali melongokkan kepalanya ketika Killa sedang memoles kan lipstick di bibir.
Killa merapatkan bibir atas dan bawahnya. “Bagus nggak?”
“Cantik banget.” Lisa tersenyum mengagumi salah satu atasannya itu. “Mau kondangan mbak?”
“Mana ada kondangan jam segini.” Killa memasukkan lipstick kedalam pouch berikut cermin bergambar bola basket.
“Ketemu camer, ya?”
“Hus! Jangan ngarang deh.”
“Habis rapi banget.” Lisa menarik lagi kepalanya, pegel. Menegakkan dirinya dan berbalik pergi.
Killa mencangklong sling bag putihnya. Melangkah keluar tapi hanya berdiri diam. Kepalanya teringat ucapan Lisa tentang calon mertua.
Mungkinkah?
Satya tidak memberitahunya akan pergi kemana. Ia hanya bilang ingin menghabiskan waktu libur bersama Killa.
Mungkinkah?
“Lupa bilang. Mas Satya udah nunggu dari tadi.”
“Ohh … makasih ya.”
Jantung berdetak sedikit lebih cepat. Apa yang special? Karena sepanjang hidupnya Killa tetap merasakan. Bahkan saat dia memutuskan untuk menjauh dari cinta, jantungnya justru lebih mudah berdetak ketika ada lawan jenis mencoba mendekatinya. Hanya berdetak saja tidak ada rasa lain yang mengikuti.
Dengan Satya sedikit berbeda. Tidak , ada banyak sekali yang berbeda.
Sebelum jantung itu bisa berdetak idak beraturan ada rasa lain yang lebih dulu sampai. Yang mampu melilit perutnya tapi bukan karena dia lapar atau sakit. kemudian dia akan menjadi orang paling dungu, yang tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada hal benar yang bisa dia lakukan.
Pun sekarang.
Killa kembali mengeluarkan kaca, memastikan bahwa riasan wajahnya sudah rapi. Ahh … Killa melupakan rambutnya. Saat bekerja hanya ada satu model rambut jadi tidak membuatnya kesulitan. Saat ini dia tidak tahu akan membiarkan rambutnya di gerai atau digelung rapi.
Ini bukan kencan apalagi mengunjungi calon mertua seperti kata Lisa
Killa terus merapalkan banyak mantra untuk membuatnya lebih rileks.
Tempo hari saat pergi piknik, Killa tidak perlu melakukan hal aneh seperti ini. dia hanya berpenampilan seperti yang dia inginkan. Hanya saja kesungguhan yang Satya ucapan merubah keadaan.
Killa tidak menjawab kejadian itu terjadi lebih cepat dari dugaannya. Dan Ia sama sekali tidak memiliki persiapan. Tapi gesture tubuh yang ditunjukkan cukup membuat Satya yakin bahwa penglihatannya menangkap sebuah persetujuan.
Mata memang memiliki kemampuan luar biasa. Bisa menangkap jawaban yang tidak bisa indera lain terima. Juga bisa menyampaikan apa yang tidak mampu bibir ucapkan.
Pintu terbuka.

Nampaklah sosok yang membuat Killa salah tingkah. Slim pants warna khaki dengan kemeja hitam yang lengannya dilipat rapi sampai ke siku dan sepatu sneakers warna senada. Memangnya pilot harus selalu terlihat menarik di setiap kesempatan? Kenapa tidak jadi model saja. Untung Killa hanya meneriakkan ocehan tresebut dalam kepala.
Damn! He looks hot
Andai putri mendapat kesempatan ini mulutnya akan lebih liar dalam berucap. Melupakan lembaga sensor apalagi undang-undang ITE. Semua kata akan keluar tanpa melalui proses seleksi. Orang akan jengah mendengarnya. Itu sebabnya Killa bersyukur putrid tidak ada. Tapi Lisa ada dan melihatnya. Mulut paling berbahaya kedua setelah putri.
“Hey, Sorry lama.”
Women take a longer time.”
Satya membukakan pintu. Killa gelagapan karena tidak terbiasa. Biasanya dia yang memberikan pelayanan pada banyak orang. Dan Satya tahu, sangat tahu. membaca Killa tak lagi susah baginya. Kamus Killa sudah terekam jelas hingga di luar kepala.
Hanya saja Satya kesulitan mengendalikan nalurinya seagai seorang laki-laki. Penampilan Killa membuatnya sedikit gemetar. Killa mengika rambutnya sedemikian rupa hingga leher jenjangnya itu terekspose sempurna. Dress hitam dengan bentuk kerah rendah memberikan sudut pandang terbaik untuk mengagumi ciptaan Tuhan.
Dibalik kesempurnaannya, Satya tetap laki-laki biasa. Yang merasa setiap wanita terkaku menarik untuk dilihat saja. kali ini Satya harus mengeluarkan semua benteng pertahanannya agar hari ini tertap berjalan seperti biasa. Dia harus banyak bergerak agar tidak terpengaruh.
Meski dalam hati Satya juga mengutuk pada semesta yang memberi dukungan. Mungkin lebih baik hari ini hujan deras, badai kalau bisa sehingga Killa akan memilih mengenakan celana panjang dan sweeter dibanding blouse yang panjangnya hanya sampai lutut. Meski ini pakaian yang paling terbuka yang pernah Killa kenakan, tetap saja alarm peringatan Satya menyala.
pinterest
Baca sebelumnyaFirst date

Rumah-rumah dengan halaman yang luas. Pagar tinggi yang pasti didalamnya terdapat pos satpam atau mungkin anjing galak. Khas orang kaya. Jalannya pun lebar meski di dalam komplek perumahan.
Pertanyaannya adalah mengapa harus melewatinya? Ahh … sekarang kan lagi banyak café-café keren yang berada di dalam komplek. Satya kan anak sosmed pasti tahu tempat-tempat yang happening untuk sedekar duduk dan menikmati secangkir kopi
Tapi tunggu, rumah besar, halaman luas. Killa seperti pernah melewati area ini. cukup lama sehingga ia harus mengorek ingatannya yang muncul tenggelam. Mungkin juga salah, jadi Killa menajamkan kembali.
“Sat, tujuan kita ada disekitar sini?”
“Kamu pernah kesini?”
“Sepertinya.” jawab Killa ragu-ragu.
“Aku tidak ingat pernah mengajakmu kemari.”
Satya mengarahkan mobilnya memasuki halaman salah satu rumah. Dengan halaman luas, pagar tinggi tapi tanpa pos satpam dan anjing galak seperti yang Killa pikirkan.
“Ini rumah kamu?”
“Sekarang aku heran kalau kamu pernah kemari.”
“Catering! Iya, aku pernah antar mama kesini. Gazebo yang dihias dengan serba putih, acara lamaran.” Killa menuding Satya dengan mata yang membuka lebar.
“Benar. Acara lamaran adikku, Diar. Tapi aku tidak ingat pernah melihatmu datang. Cuma ada Tante Ayu yang ngobrol sama ibu.”
“Tante?”
“Kamu berharap aku memanggil Tante Ayu dengan panggilan mama?” Satya tersenyum menggoda.
“Bukan, maksudku. Semua pelanggan mama memanggilnya Bu Ayu bahkan anak SMP pun sama. Kamu?”
“Sekarang aku paham maksud Tante Ayu.” Satya mendengkus. “Kamu tidak lihat bahwa hubunganku dengan tante ayu cukup akrab?”
Killa menggeleng.
“Lain kali kamu bisa memperhatikan. Sekarang kita masuk, sepertinya ibu sudah menunggu kita untuk sarapan.”
“Sarapan? Ibu kamu?”
“Ya … aku sudah bilang akan mengenalkanmu pada keluargaku kan?”
Killa menggeleng.
“Sekarang kamu tahu. Yuk!”
Satya sudah mengucapkan salam tapi tidak ada jawaban. Bagaimana mungkin sepagi ini rumahnya kosong. Bahkan mobil Diar ada di rumah. Mobil ayahnya juga masih ditempat yang sama ketika dia pergi pagi tadi.
“Kamu duduk dulu. Aku panggil ibu dulu.”
Killa menunggu di ruang tamu. Melihat halaman rumah berikut garasi mobil, ruang tamunya termasuk kecil. Hanya berisi dua sofa berwarna coklat, sebuah meja kecil dan sebuah vas bunga. Killa baru sadar tidak ada foto keluarga disana. Karena hampir semua dindingnya terbuat dari kaca yang ditutup gorden dua lapis. Tapi ada sebuah partisi yag terbuat dari kayu, mungkin awalnya ruang tamu ini luas kemudian diberi sekat untuk pembatas. Secara keseluran ruang tamu ini sangat nyaman dan hangat. Seperti mencerminkan kehidupan penghuninya.
Pintu depan terbuka.
Seorang wanita masuk. Masih mengenakan piyama dengan karakter Winnie the pooh. Ditangannya ada sebuah tas jinjing yang penuh barang. Berbagai jenis makanan dan minuman.
“Eh ada tamu. Cari …” Hendak mengajak bersalaman tapi Diar menggantungkan hanya tangan diudara. “Killa? Shakilla Andriana?”

Killa lebih dulu menjabat tangan Diar.
“Betul.” Killa menjawab dengan bingung sekaligus heran. Wanita yang ada dihadapannya saat ini baru pertama kali ditemui tapi sudah mengetahui nama lengkapnya.
“Kerja di restoran kan?”
Killa hanya mengangguk semakin tidak mengerti.
“Ya ampun akhirnya.” Dia tersenyum lega. “Aku Diar, adiknya Mas Satya. Udah ketemu Ibu? Tunggu bentar ya aku panggil dulu.”
Tercengang? Pasti. Setengah linglung malah.
Menghadapi orang dengan berbagai macam karakter sudah biasa bagi Killa. Sikap profesionalnya membuatnya selalu siap dalam berbagai situasi. Hanya hari ini saja keadaan berjalan diluar kendalinya.
“Bu !!! Ada pacarnya Mas Satya.”
Seruan Diar itu mustahil tidak ditangkap oleh Killa. Meski sudah berada di dalam rumah, suaranya terdengar seperti lolongan serigala. Keras dan panjang. Membuat Killa semakin bersemu.
“Ya ampun! Lagi pada disini toh? Terus tamunya dianggurin gitu?”
“Kamu itu. anak gadis kok suaranya kaya kebo minta kawin. Nggak ada sopan santunnya.”
“Aku emang minta dikawinin, Bu.”
Hus diem kamu! Rapiin ini mejanya. Ibu mau nemuin temannya masmu.”
“Pacar, Bu.”
“Kok kamu ngatur? Mas mu aja Cuma bilang teman.”
“Iya, mas?”
Satya hanya bisa tertawa melihat interaksi dua wanita pertama dalam hidupnya, Ibu dan Diar.
“Ahh Mas Satya. Nggak gentle. Sama ibu aja nggak berani, gimana mau ketemu orang tuanya.”
Satya kembali tertawa. Kemudian duduk dan mengambil emping melinjo.
“Mas Satya ngapain masih disini?” Diar mengambil mlinjo yang sudah separuh dimakan Satya. “Ibu itu galak lho kalau sama calon mantunya. Ingat nggak waktu Rasyid pertama kali kesini? Yang paling banyak nanya itu ibu lho.”
Diar menarik paksa Satya. Menyeretnya agar menyusul ibu yang sedang menemui Killa. Sementara Satya malas mengikuti adiknya.
Aksi tarik menarik itu berhenti ketika Ibu masuk bersama Killa.
“Diar!!!” Tegur ibu dengan suara tertahan. Sementara anak gadisnya hanya tertawa seperti tidak merasa bersalah.
pixabay

Acara sarapan yang cukup siang pun berlangsung. Menu yang disajikan pun sesuai dengan permintaan Satya.
“Gimana rasanya, Killa? Tante tidak terlalu pintar masak tapi Satya maksa minta dibuatkan gado-gado.”
Pertanyaan itu datang ketika mulut Killa baru saja dipenuhi sepotong lontong dan daun selada. Tidak enak hati, Killa buru-buru menelannya.
“Enak kok Tante. Rasanya masih sama enaknya dengan yang Satya bawa dulu.”
Sendok berisi potongan tempe goreng pun tertahan beberapa detik sebelum akhirnya masuk kedalam mulut ibu.
“Sudah berapa lama kerja di restoran?”
Satya hendak menjawab tetapi disaat bersamaan ponselnya bordering. Kelihatannya penting sehingga dia meminta izin untuk menerima panggilan.
“Tahun ini genap delapan tahun.”
Begadang membuat Killa sangat kelaparan. Namun, ia urung menambah porsi karena ibu sepertunya sedang tertarik untuk berbicara dengannya. Ketiadaan Satya membuatnya harus menjawab setiap pertanyaan. Mungkin ketika nanti pulang dia bisa melanjutkan untuk mengisi perutnya.
“Sudah pernah pacaran berapa kali?”
“Ibu…” Diar menegur dengan merendahkan suaranya.
Killa tersenyum sopan. “Belum pernah.”
“Tuh dengar, Diar. Nggak usah pacaran dulu kalau mau nikah.”
Diar menatap heran pada ibunya. Wanita panutannya itu benar-benar bersikap diluar kebiasaan. Dia justri khawatir Killa akan mundur pelan-pelan mendapati calon mertuanya semenyeramkan ini.
“Di, bukannya kamu tadi mau buat mojito ya? mana? Keluarin dong.”
“Ohh iya. Tunggu aku ambil dulu.”
Diar pun menyusul kakaknya ke belakang. Tidak untuk menerima telpon melainkan menyiapkan minuman yang akan dia buat sendiri.
Pixabay

“Jadi selama ini kamu belum pacaran ya. kalau laki-laki yang pernah dekat, ada?”
Killa tidak tahu bahwa topik pribadi ini akan berlanjut. Untuk pertama kalinya seseorang bertanya padanya. Bahkan Satya sendiri tidak pernah. Dan itu adalah satu bagian kecil dari dirinya yang ingin sekali disembunyikan. Jika memang bisa dihapus maka Killa akan merelakannya dengan senang hati
 “Kamu tidak perlu menjawabnya kalau tidak berkenan.” Ibu mendorong ke tengah meja piringnya yang sudah kosong. “Ayo nambah lagi. Ini permintaan khusus dari Satya lho.”
“Sejujurnya tante kaget kamu tidak pernah pacaran.” Ibu melanjutkan.
Killa hanya bisa memandang dengan penuh tanya.
“Kita pernah bertemu sebelumnya,” Ibu meletakkan sendok diatas piring dan menegakkan duduknya.  “Harusnya kamu ingat karena kamu jauh lebih muda dari tante. Tentu kamu memiliki ingatan yang cukup tajam.”
Killa semakin bingung dengan pembicaraan ini.
“10 tahun lalu keponakan tante melangsungkan acara lamaran. Rian, Adrian Pranata.”
Killa tidak berani mengangkat kepalanya. Wajahnya tertunnduk menatap piring yang tinggal berisi beberapa potong sayuran yang sudah berlumuran saus kacang. Ada medan magnet besar disana. Sehingga apapun yang terjadi diluar sana tidak mampu membuatnya berpaling.
Dalam diam Killa mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ibunya Satya. Mengulik setiap kisah menjadi potongan-potongan adegan hanya untuk mengingatkannya. Bagian paling kelam dalam hidupnya kini nampak jelas dimatanya. Berputar silih berganti seperti sebuah rekaman yang diputar ulang.
Sakit. perih.
Luka itu kembali tersayat. Irisan yang pelan dan begitu dalam. Membiarkan darah menetes-netes. Merembes menembus tiap lapis jaringan dalah hatinya. memenuhi rongga dada hingga membuanya terhimpit. Sesak, tak mampu bernapas.
Tuhan, tak cukupkah selama ini tersiksa dengan luka menganga? Tak cukupkah selama ini membuatku menderita dengan bayang rasa bersalah?
Sekelebat gambaran wajah Papa tertangkap ingatannya. Laki-laki yang sedang tidur dengan tenang dengan sinar kehidupan yang baru saja pergi.
Papa
Killa menulikan telinga. Pertahanan terakhir dalam diri membuatnya kebas dengan semua rasa. Dia hanya sesosok raga yang kehilangan jiwa. Dia ingin memohon pada Tuhan agar mempercepat waktunya.
Tapi Tuhan mengabaikannya. Sekerasa apapun memohon tidak akan dikabulkan. Karena Tuhan menyayanginya. Bukan itu yang Killa butuhkan. Maka Tuhan mengiriminya pertolongan.
“Wah lagi asik banget ngobrolnya. Tapi maaf harus kupotong.” Ibu dan Killa bersamaan menatap Satya. “Tiba-tiba ada panggilan terbang sore ini. Mungkin sebaiknya aku antar kamu pulang sekarang.”
“Benar,” Ibu memandang lekat Killa yang mematung dihadapannya. “sebaiknya kamu antar pulang sekarang. Kelihatannya Killa sedang enak badan.”
Satya berjalan mendekat hingga berdiri disamping Killa. “Kamu sakit?”
Sebuah dengungan menabrak pendengaannya. Tepukan lembut dilengannya menarik kembali jiwanya yang melayang. Senyum terbaik yang bisa Killa berikan saat ini meski dengan paksaan. “Sedikit pusing.”
Setelah berpamitan, Satya segera mengantar Killa pulang.


Follow Us @soratemplates