Senin, 26 Desember 2016

# Tugas

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK ANAK USIA DINI

Pendidikan Lingkungan Hidup Di Indonesia
Di Indonesia sendiri, Pendidikan Lingkungan Hidup—atau disingkat PLH—mulai muncul pada tahun 1986-an yang pada saat itu bernama Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan (Suncoko,2016). Pada tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan program Adiwiyata yang diikuti oleh sekolah-sekolah se-Indonesia. Program Adiwiyata ini diharapkan dapat mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (KLH,2012).
Pada tahun 1996/1997 terbentuk Jaringan Pendidikan Lingkungan yang beranggotakan LSM yang berminat dan menaruh perhatian terhadap Pendidikan Lingkungan Hidup. Hingga tahun 2010, tercatat 150 anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL, perorangan dan lembaga) yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup. Sedangkan tahun 1998 – 2000 Proyek Swiss Contact berpusat di VEDC (Vocational Education Development Center) Malang mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Sekolah Menengah Kejuruan melalui 6 PPPG lingkup Kejuruan dengan melakukan pengembangan materi ajar PLH dan berbagai pelatihan lingkungan hidup bagi guruguru Sekolah Menengah Kejuruan termasuk guru SD, SMP, dan SMA (KLH,2012).
WWF-Indonesia memiliki salah satu program PLH yang disebut Program Southern Eastern Sulawesi Subseascape/SESS adalah mendukung pemerintah dalam pengelolaan kawasan Konservasi Taman Nasional Wakatobi. WWF-Indonesia Program SESS bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Wakatobi. Melalui Forum Musyawarah Guru Muatan Lokal Daerah (FMGML) Wakatobi, melakukan revisi dan desiminasi bahan ajar PLH Kelautan dan Budaya Maritim Wakatobi untuk tahun Ajaran 2017/2018. Materi PLH yang direvisi merupakan materi mata pelajaran muatan lokal untuk pendidikan dasar (kelas 1-6 SD) dan pendidikan menengah (kelas 7-9 SMP). Materi ajar PLH sebagai muatan lokal Kelautan dan Budaya Maritim Wakatobi yang direvisi disesuaikan dengan standar kurikulum 2013 (K-13). Proses pengerjaan revisi dan desminasi materi PLH ini berlangsung selama bulan April hingga Juni 2016 (Suncoko,2016).
Selain itu Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT-PPSC) menggunakan metode SMART (Smart, Measurable, Action, Realistics, dan Time Bond) dalam melakukan kegiatan PLH. Salah satu program PLH untuk pelajar adalah melalui kegiatan “Pendidikan Lingkungan Hidup dan Konservasi Satwa Liar dan Habitatnya” untuk para pelajar di seluruh wilayah. Kegiatan ini mengedepankan pendidikan tentang pelestarian satwa liar dan habitatnya.

Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Anak Usia Dini
Pendidikan lingkungan hidup (PLH) merupakan sebuah proses pembentukan karakter seseorang agar memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Merubah pola pikir seseorang menjadi sadar dan peduli dengan lingkungan menjadi hal yang penting dilakukan sebagai upaya menjaga kelesatarian lingkungan. Melalui penanaman budaya cinta lingkungan sejak dini, maka generasi masa depan yang tercipta nantinya adalah generasi yang sadar lingkungan dan peka terhadap persoalan di masyarakat
Anak-anak adalah objek yang tepat untuk mendapatkan PLH ini karena mereka memiliki susunan saraf yang masih berkembang sehingga harus mendapatkan rangsangan positif untuk membantu berkembangnya susunan sarafnya. Seseorang yang mendapatkan PLH sejak dini memiliki dasar yang kuat untuk peka terhadap lingkungannya. Sehingga anak-anak perlu mendapatkan PLH sedini mungkin untuk mengasah kepekaannya terhadap lingkungan.
Anak-anak sangat tertarik dengan hal-hal baru. Mengajak anak-anak berjalan-jalan di alam bebas sambil mengenalkan hal-hal yang ditemui selama perjalanan mampu memberikan pengalaman pada anak. Menjelaskan nama pohon yang ditemui, manfaatnya serta mengajak anak untuk menjaga agar pohon tersebut dapat terus tumbuh.

Manfaat Pendidikan Lingkungan Hidup
PLH memiliki manfaat yang besar untuk anak usia dini. Kegiatan PLH yang banyak dilakukan di ruang terbuka mampu merangsang perkembangan motorik anak. Kegiatan PLH yang banyak melibatkan gerakan motorik memiliki daya tarik tersendiri sehingga anak-anak senang saat melakukannya.
Anak-anak bisa mengenal lingkungannya dengan baik. Anak-anak akan terbiasa berada di alam terbuka bila dikenalkan sejak usia dini. Hal ini juga membantu anak dalam mengasah kepekaannya terhadap lingkungan. Dengan membiasakan anak terbiasa dengan PLH anak-anak mampu membangun sebuah hubungan baik hubungan antara manusia dengan lingkungan maupun dengan sesame manusia.

Tantangan Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Anak Usia Dini
Menurut Nofijantie (2015) ada enam hal yang menjadi tantangan dalam PLH yaitu kesadaran, pengetahuan, sikap, keterampilan, partisipasi, dan evaluasi. Kesadaran yaitu merubah pola pikir anak agar mampu mencintai lingkungannya. Selain itu memberikan pengetahuan yang cukup sebagai modal dasar agar anak mampu bersikap baik terhadap lingkungannya. Menjadi role model tentang keterampilan dalam menjaga lingkungan sehingga anak memiliki sosok panutan. Melibatkan diri dalam kegiatan lingkungan membuat anak-anak menjadi lebih berani dalam bertindak. Selain itu melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan untuk mengetahui seberapa besar materi yang bisa diterima oleh anak-anak
Menurut Supiyanto (2016), tantangan yang dihadapi PLH adalah sarana-prasarana yang kurang memadai serta fasilitas yang belum mendukung pendidikan lingkungan di Indonesia. Selain itu juga pemahaman tenaga pendidik serta materi (kurikulum) terkait pendidikan lingkungan yang masih terbatas.

Implementasi Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Kehidupan Sehari-hari
Menanamkan kebiasaan baik dalam menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan banyak hal dan memerlukan peran dari berbagai pihak. Menurut Yudistira (2014) keterlibatan orang tua dan guru dapat memberi teladan yang baik kepada anak-anak dalam menjalankan kegiatan-kegiatan yang bisa membentuk karakter anak-anak menjadi peduli dengan lingkungan. Selain menjadi contoh, orang tua juga memiliki peran dalam memberikan dorongan dan pengingat agar anak-anak mampu menjaga lingkungan dengan baik. Seperti membuang sampah pada tempatnya, mengajak anak menanam pohon dan mengenal berbagai macam jenis binatang.
Alam sebagai media dan tempat belajar anak bisa membantuk mengasah kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi disekitarnya, seperti menyiram tanaman. Kegiatan yang banyak dilakukan ditempat terbuka dapat membentuk karakter anak-anak menjadi bentuk yang positif seperti tanggung jawab, bersosialisasi, tenggang rasa, bekerjasama dan peduli lingkungan (Yudistira, 21014).

Daftar Pustaka
Kementerian Lingkungan Hidup.2012.Informasi Mengenai Adiwiyata. http://www.menlh.go.id/informasi-mengenai-adiwiyata/
Nofijantie, Lilik.2015.MENANAMKAN NILAI KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP TANTANGAN BAGI FITK. Dalam : Prosiding Halaqah Nasional dan Seminar Internasional Pendidikan Islam.
Suncoko, Rinto Andhi.2016. Mengawal Konservasi dengan Pendidikan Lingkungan Hidup Sejak Dini. WWF-Indonesia Program Southern Eastern Sulawesi Subseascape/SESS). http://www.wwf.or.id/?50102/Mengawal-Konservasi-dengan-Pendidikan-Lingkungan-Hidup-Sejak-Dini
Supiyanto, Bambang.2016.Kebijakan dan Tantangan Pendidikan Lingkungan di Indonesia.Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Yudistira, Cecep.2014. Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah Alam Ungaran Kabupaten Semarang.Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT-PPSC).Pendidikan Lingkungan Hidup. http://www.cikanangawildlifecenter.com/?page_id=1427

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates