Selasa, 25 Desember 2018

# Buku # Review

Fantasy

Love doesn’t conquer all, Faith does

Fantasi, imajinasi, khayalan dan ada banyak lagi kata serupa lainnya.
Tahun 2014 sebuah novel beredar di sebuah toko buku yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka. Dengan mengambil judul Fantasy, buku ini menceritakan sebuah mimpi dari seorang anak SMA yang baru saja menemukan kesenangan baru dalam hidupnya.
Terdiri dari 307 halaman, buku ini menggambarkan masa remaja yang beragam. Dengan memilih latar belakang sekolah menengah di Kota Surabaya. Sayangnya tidak banyak yang bisa kita dapat dari setting tempat ini. Surabaya hanya menjadi setting tempat tempelan. Seandainnya tidak di sebut berada di Surabaya, pembaca bisa leluasa menggambarkan sebuah kota. Selain juga ada jepang dan perancis yang justru penggambarannya sangat detail. Sehingga pembaca akan merasa sedang berdiri di sebuah taman yang ada di Shibuya atau di sebuah sekolah music terkenal di Paris
Memilih warna biru gelap yang mendominasi sampul  buku, dengan gambar grand piano dibagian bawah membuat orang awam langsung menduga bahwa music akan menjadi pembicaraan besar dalam buku ini. dengan Tulisan jenis huruf untuk menuliskan judul membuatnya terlihat semakin menarik dan elegan.

Dengan menampilkan salah satu instrument maka pembaca akan dibawa berkelana, menyelam kedalam lautan music klasik yang sangat dalam. Seolah-olah telinga sedang menangkap denting piano atau atau mata yang disuguhkan atraksi menarik dari seorang konducor memimpin sebuah orchestra.

Novellina A menggunakan sudut pandang orang pertama dari dua tokoh utama perempuan. Davina dan Armitha adalah dua orang yang mula bersahabat sejak hari pertama masuk sekolah. Merasa memiliki banyak kesamaan, menjadi remaja yang tidak popular, mereka menjadi salah satu alasan kecocoka tersebut.
Sayangnya baik sudut pandang maupun alur campuran yang dipilih disajikan sangat jelas. Sehingga pembaca tidak perlu berpikir keras untuk menyesuaikan pikiran saat melai melalui transisi waktu.
Cinta segita antara Davina, Armitha dan Awang, tokoh utama laki-laki, menjadi sisi romantic yang diangkat. Tidak memilih perebutan dan pertengakaran khas anak remaja perempuan menjadikan kisah cinta ini sangat epic untuk dinikmati.

Dialog yang disajikan cukup panjang dalam setiap bagian. Bahkan tokoh Awang saat menceritakan masa lalunya pada Davina sampai menghabiskan tiga paragraph. Tapi dari panjangnya percakapan-percakapan tadi banyak kalimat-kalimat cantik yang bisa diambil pelajarannya.
Cinta tidak selamanya menjadi beban untuk orang yang kita sadari
Tak jarang sebagian orang mengagung-agungkan cinta yang menurut mereka adalah anugerah yang datang langsung dari Tuhan justru tidak mampu menyadari ada duka yang dirasakan orang lain akibat cinta itu sendiri.
Selain dialog yang panjang dan sarat makna itu menyimpan sebuah ketakjuban. Bagaimana mungkin seorang remaja tujuh belas tahun memiliki pemikiran sejauh itu. hal ini banyak muncul pada sisi Davina. Meski memang digambarkan bahwa Davina ini memilik pemikian yang jauh kedepan. Hanya saja sentuhan pola pikir remaja seharusnya kurang dimunculkan. Sehingga saat Davina beranjak dewasa tidak Nampak perubahan pemikiran seiring bertambahnya usia seseorang.

Davina juga di gambarkan sebagai sosok perempuan yang gagal move on. Melepaskan seseorang yang sangat disayangi tapi selama bertahun-tahun memendam luka atas keputusannya. Namun dibalik itu semua sosok Davina juga seorang yang struggle karena mampu bertahan, menjalani hidup dengan baik juga mewujudkan cita-cita meski di dalam hatinya meraung-raung kesakitan.

Cinta dan persahabatan, janji dan mimpi akan ditemukan di dalam buku ini. Tentang sebuah hati yang tetap setia tanpa menodai persahabat yang lebih dahulu berdiri.

29 komentar:

  1. MasyaAllah, kalau tentang Cinta ya selalu bikin dada ini terbalik balik😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang penting bukan kepala aja yang dibalik hehehe

      Hapus
  2. Saya suka cara Mbak Yenny mengulas buku ini. Di luar banyak hal yang enggak pakai logika ternyata nilai moralnya yaa..bahwa persahabatan yang telah ada sungguh lebih indah tanpa dinodai cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak. semoga kedepannya bisa lebih baik lagi

      Hapus
  3. Novel itu selalu mengaduk-aduk hati yah. Cinta dan persahabatan...Kayaknya seru relationnya nih...

    BalasHapus
  4. Salut deh, penulisnya masih berusia 17 tahun, tapi sudah mmpu menghasiljan sebuah karya novel.

    BalasHapus
  5. Jadi belajar tentang penggambaran watak sesuai usia tokoh. Bukan sesuai pandangan penulis ya? Seperti seni bermain peran ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang lebih seperti itu. mungkin juga ada sebagian karakter penulis yang diselipkan

      Hapus
  6. Wah, cerita cinta segitiga remaja tanpa pertengkaran khas remaja. Jadi penisirin, pingin baca.

    BalasHapus
  7. Wah, cerita cinta segitiga remaja tanpa pertengkaran khas remaja. Jadi penisirin, pingin baca.

    BalasHapus
  8. Saya belum pernah nih baca novel bergenre remaja. Jadi penasaran, makasih ya info dan sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bikin fresh klo novel remaja, menurut saya

      Hapus
  9. Saya belum pernah nih baca novel bergenre remaja. Jadi penasaran, makasih ya info dan sharingnya.

    BalasHapus
  10. Wah kalau bicara tentang cinta tak cukup waktu singkat ya... Seperti dalam ulasan novel ini. Asik deh buat hati jadi mak serrrr...hehe

    BalasHapus
  11. Cerita cinta masa sma memang banyak warna-warninya, pasti banyak adegan seru yang bikin deg2an ya.

    BalasHapus
  12. Berat ini kalau cinta segitiga, sahabatan pula. Saya salut sama penulisnya. Masih muda tapi bisa bikin novel yang cukup tebal. Keren banget...😊

    BalasHapus
  13. keren ini cara interpretasi musik klasiknya

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates