Rabu, 23 Januari 2019

# Fiksi # married

Remind Me_Enam

Mobil SUV berwarna hitam berhenti didepan rumah bertipe town house. Dengan sebuah halaman tanpa pagar. Dari deretan rumah yang mereka lewati semuanya berdesain sama hanya warna dan nomer rumah yang menjadi pembeda.
“No. 27?” gumam Lila yang melihat angka menempel didinding rumah. “Sama dengan rumah kakek.”
Hari ini mereka pindah ke rumah baru. Rumah yang Ray beli dengan uang pribadinya. Yang ia kumpulkan selama bekerja. Tinggal berbeda rumah dengan orang tua seperti sudah menjadi aturan tidak tertulis dikeluarga besarnya. Orangtuanya juga  langsung pindah begitu menikah. Pun dengan Oma yang memilih tinggal dirumahnya sendiri meski Opa sudah meninggal dunia.
Hampir dua bulan Lila tinggal dengan orangtua Ray. Dia merasa sangat nyaman disana. Meja makan yang terisi penuh, papa mama, Oma, Ray juga dirinya. Suasana keluarga lengkap yang lama tidak dirasakannya.  Bukan berarti selama tinggal berdua dengan kakek dia merasa kesepian. Hanya saja keberadaan anggota yang lain membuatnya seperti memiliki kembali sebuah keluarga yang utuh.
Lila sekarang sudah berada di ruang tamu yang hanya diisi satu set sofa berwarna hitam. Melewati sebuah partisi yang terbuat dari kayu yang menjadi penyekat ada ruang makan yang menyatu dengan dapur. Semua perkakas yang mengisi sangat simple. Sesuai dengan tipe rumah minimalis. Berjalan lebih dalam lagi ada sebuah taman yang baru selesai dibangun. Terlihat dari rumput yang ditanam belum tumbuh menutupi tanah. Dan tembok pembatas itu didesai seperti bebatuan tebing yang menambah kesan alami.
Berjalan lagi kedepan Lila mendapati dinding kosong dihadapan sofa. Sepertinya cocok bila diisi dengan lukisannya. Lalu sekat-sekat pada partisi akan diisinya dengan foto-foto pernikahan.
Lila tersenyum sendiri melihat kemampuannya mengatur isi ruangan. Tentu saja semua itu terjadi di dalam kepalanya. Dan senyum itu segera pudar saat kedua matanya melihat Ray berdiri di ujung tangga. Sedang memerhatikannya.
 “Kamarnya diatas.”
Rumah berlantai dua ini tidak memiliki banyak kamar. Ada satu di lantai dasar dengan ukuran yang cukup kecil dan satu kamar utama dilantai dua. Tetapi memiliki kamar mandi ditiap lantai.
Malam berjalan semakin larut. Suara jangkrik yang bersahutan. Dan sesekali di selingi oleh suara kodok yang bergembira karena gerimis masih mengguyur. Menyenangkan mendengar nyanyian alam ditengah perkotaan seperti ini. Mungkin ini alasan yang dipilih Ray untuk membeli rumah dikawasan ini.
Suara riuh rendah di luar sana berbanding terbalik dengan sebuah ruang berukuran 3x4m yang sangat hening. Pencahayaan di dalam ruangan ini jauh berkurang. Hanya sebuah lampu tidur berwarna kuning yang menyala. Membuat ruangan menjadi temaram. Ditambah nyanyian gerimis membuat semuanya menjadi begitu romantic. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Karena hanya kecanggungan yang memenuhi setiap sudutnya.
Malam terus bergerak menuju puncaknya. Paduan suara serangga malam semakin jelas terdengar. Menjadi pengiring mimpi setiap orang. tapi tidak untuk sepasang manusia yang masih terjaga.
Hampir setiap malam dari hari pertama mereka melewati malam pertama sebagai suami istri sampai detik ini, tak satu pun bisa melewatkan malam dengan indah. Canggung berubah menjadi gelisah berganti keheningan. Hanya kelelahan fisik yang membuat mereka tidur pulas tanpa memikirkan seseorang yang ada disampingnya.
“Sudah puluhan malam kita lewati dengan berdiam seperti ini. Pura-pura tidur hanya untuk saling menghindar. Mungkin tak satupun diantara kita yang merasa senang saat malam tiba.”
Lila membuka mata terlebih dahulu. Dan mengangkat badannya untuk setengah menyandar pada headboard.
“Kita pernah seperti ini. Berbaring berdampingan tanpa bicara satu sama lain. Watu itu aku mau bilang tapi takut. Kamu marah sekali gara-gara aku nekat naik pohon sampai terjatuh. Meski kakiku hanya terkilir tapi kamu benar-benar marah. Bahkan sampai dua hari kamu mendiamkanku.”
Dulu Lila akan terus berceloteh meski Ray sedang marah dan tidak ingin berbicara dengannya. Saat Ray menghindar dan menjauh Lila akan semakin gesit mengikutinya. Hingga akhirnya kemarahan itu berakhir dengan kekesalan Ray yang memuncak lalu luluh lantak dengan berdiri mematung. Menampilkan wajah polos dengan kelopak mata yang berkedip-kedip seperti boneka.
“Mungkinkah kamu sedang marah seperti dulu? Sepertinya tidak. Aku selalu ketakutan saat melihat wajahmu saat marah.”
Saat Lila masih kecil pernah menggambarkan wajah Ray yang marah dan mengeluarkan asap dari kedua telinganya. Dan gambar itu akan ia bawa kemana-kemana untuk ditunjukkan saat Ray mulai menunjukkan gejala marah. Lalu Ray akan berusaha merubut kertas yang berisi wajah marahnya hingga emosi yang seakan tidak terbendung itu menguap begitu saja.
Sifat Ray dan Lila saat masih kecil memang seperti bumi dan langit. Ray yang emosinya seperti gunung berapi yang bisa meletus sewaktu-waktu sementara Lila seperti petasan yang meledak-ledak tetapi selalu menyenangkan setiap orang.
“Dan aku belum menjumpai wajahmu seperti itu.”
Lila tahu Ray masih terjaga dan berbaring memunggunginya. Tapi tak satu pun kata keluar dari mulut Ray. Hanya deru nafas seperti orang tidur yang Lila dengar. Meski seseorang yang menjadi lawan bicaranya tak menyahut Lila terus berbicara. Meski hanya kenangan masa kecil. karena hanya itu topic pembicaraan yang Lila punya.
Kehidupan Ray setelah mereka berpisah pun Lila tidak tahu. Saat ingin bertanya tetapi Ray seperti tidak memberinya kesempatan itu. Latar belakang pendidikan bahkan pekerjaan pun berbeda sehingga sangat sulit mencari bahan perbincangan.
Masa lalu akan selalu tertinggal. Tidak pernah bergeser dan berpindah kedepan. Seindah apapun itu dia tetap akan dibelakang. Bahkan Lila sendiri sudah menganggap itu sebagai kilasan masa kecil yang sesekali muncul dan selesai didalam kepala.
Tapi berdampingan dengan seseorang yang berasal dari masa lalu membuat setiap kenangan yang terlintas memiliki rasa. Meski tidak lagi sama tapi Lila merasa kejadian itu seperti baru saja terjadi.

****

Lila bangun sangat terlambat. Menjelang subuh dia baru benar-benar bisa tidur. Meski hanya berbaring dan memejamkan mata nyatanya itu tidak membuatnya tertidur lebih awal. Dan untuk kesekian kalinya Lila harus melewatkan hari dengan rasa kantuk yang teramat.
“Begadang lagi, Lila?” Mbak Ika tidak lagi melihat dengan heran. Hanya memastikan kantung mata Lila yang bertambah gelap.
“Sudah lebih dari tiga bulan menikah dan masih begadang tiap malam. Mbak salut tapi kenapa belum juga kelihatan hasilnya?”
Lila benar-benar merasa sangat lemas sehingga mengabaikan ucapan sarkas dari mbak Ika. Matanya terasa berat tapi tak mampu terpejam. Bahkan perutnya pun bergejolak. Asam lambungnya yang meningkat saat dia terjaga sepanjang malam.
“Mbak Ika masih menyimpan obat maag? Sepertinya asam lambungku naik.”
“Asam lambungmu selalu naik saat kamu begadang. Mbak nggak akan kasih kamu obat. Kamu bahkan baru saja minum kopi. Tidur Lila!”
Andai bisa Lila akan melakukannya dengan senang hati.
“Gimana persiapan pementasan akhir bulan ini, mbak?”
“Sejauh ini berjalan lancar. Dan kita mendapat satu lagi donator tetap. Nilainya tidak besar sih tapi sangat membantu untuk promosi galeri kita.”
Keadaan yang tidak jauh berbeda pun dirasakan oleh Ray di kantor. Hampir setiap hari Ray tertidur di meja kerja. Membuat pekerjaannya banyak yang tertunda. Bahkan ia bisa meminta untuk dibuat kan kopi sampai tiga kali sehari.
“Espresso?”
“Air putih aja.”
Bima pemilik kedai kopi langganan Ray itu meletakkan segelas besar air putih di meja saat Ray mengeluarkan laptop. Bimo, dia lebih suka di panggil seperti itu semenjak tayangan TV yang bercerita kisah pewayangan itu popular.
“Kusut amat, Lo?” Bimo menarik salah satu kursi.
“Kerjaan Gue banyak banget. Akhir-akhir ini kalau malam susah banget tidur. jadi ya pas ngantor bawaannya nggak focus.”
“Masih pengantin baru bawaannya begadang mulu kalau ketemu bini.” Canda Bimo.
“Ngaco, Lo.”
Bimo hanya tertawa melihat sahabatnya itu melanggar omongannya sendiri tentang pantangan membawa urusan pekerjaan pulang. Saat jam kantor selesai saat itu pula seluruh waktunya untuk hal lain.
“Kabar Mira gimana? Kalian masih berhubungan kan?”
Ray menghentikan tangannya yang dari tadi sibuk didepan laptop. Almira, sudah lama sekali dia tidak bertukar kabar. Terhitung semenjak Ray menikah. Dia hanya melihat social media milik Almira untuk mengetahui keadaannya. Dari postingan-postingannya sepertinya dia bahagia.
“Dia baik-baik aja.”
Bimo akhirnya meninggalkan Ray sendiri. Rupanya topic tentang Almira tidak lagi membuatnya bersemangat seperti biasanya. Mungkin akhirnya Ray memilih untuk menata hatinya sendiri agar bisa melepas Almira. Meski Bimo tidak terlalu yakin kalau Ray sudah benar-benar rela dengan menganggap Almira sebagai teman saja.
Memang benar, Ray tidak pernah menganggap Almira hanya sekedar teman. Kehadiran Almira sangat berarti bagi hidupnya. Saat dia merasa kehilangan dan kesepian karena berpisah dengan gadis kecilnya, Almira datang sebagai oase. Mengisi hari-harinya yang kosong dan membantunya menyesuaikan diri di lingkungan baru. Almira membuatnya memiliki pandangan baru terhadap seorang wanita. Dan itu benar-benar berhasil membuatnya lupa akan kehadiran gadis kecilnya. Lambat laun ruang untuk gadis kecilnya yang manja dan ceria pun akhirnya menghilang. Berganti dengan seorang Almira yang tangguh dan mandiri.

****

Lila baru saja bangun. Lampu di ruangannya belum dinyalakan sehingga cahaya kecil yang lewat melalui celah gorden yang tersingkap cukup memberi penerangan. Lila melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan jam 8 malam. rupanya dia tertidur cukup lama. Dan tidak ada yang membangunkannya. Satu-satunya orang yang akan masuk ruangannya tanpa pamit hanya mbak Ika. Sementara mbak Ika pergi sejak siang untuk bertemu donator baru.
Saat hendak bangun dari kursi malas Lila tidak sengaja menjatuhkan sesuatu. Sebuah buku yang membuatnya tertidur. Tips membangun keluarga bahagia, begitu yang tertulis di sampulnya. Lila melihatnya tergeletak dimeja mbak Ika dan meminjamnya.
Sebenarnya Lila sendiri bingung dengan pernikahannya. Dia bahkan tidak yakin kehidupannya saat ini bisa disebut rumah tangga atau tidak. Tiga bulan tinggal dalam satu atap tapi seperti orang asing. Di dapur terdapat sepasang kompor. Setiap pagi keduanya menyala bersamaan. Tetapi yang dimasak selalu sama yaitu air. Satu milik Lila dan satu lagi milik Ray. Lila pernah merebus air lebih, sekalian untuk Ray. Tapi Ray malah merebus air sendiri. Sejak saat itu Lila tidak pernah mengulangi hal yang sama.
Tegur sapa hanya sekedarnya. Percakapan paling panjang yang pernah mereka lakukan saat Ray bilang mau keluar negeri selama beberapa hari untuk keperluan pekerjaan. Selama itu pula Lila tidak pulang dan memilih tinggal dirumahnya yang lama.
Sekarang Lila sedang merasa jenuh dengan kehidupan seperti itu. Pernah dia merasa iri melihat rumah tangga orang. Saat Ray sedang dinas keluar dan Lila tinggal di rumah kakek. Ia melihat tetangganya itu setiap pagi selalu mengantar suaminya sampai di depan rumah. Sebelum pergi suaminya selalu mencium kening istri dan anaknya yang masih balita. Agaknya tidak berlebihan kalau Lila mengharapkan hal yang sama terjadi padanya. Lagipula dia juga berada di posisi yang sama, sama-sama seorang istri. Ada atau tidak adanya cinta tidak akan merubah status itu bukan?
Seandainya dia ingin terjadi perubahan dalam rumah tangganya, harus bagaimana? Dari mana dia harus memulai?
Dari buku yang belum selesai dibacanya itu ada satu bab yang menjelaskan tentang tips menjadi istri idaman. Poin yang langsung mendapat perhatian Lila adalah bagian menyiapkan keperluan suami. seketika Lila langsung menutup buku dan melemparnya begitu saja. dan memilih membereskan tasnya dan pulang.
Lila sudah ada di dalam taksi. Dan perjalanan pulangnya sudah akan sampai.
Ray pasti sudah tidur. Begitu pikir Lila. Tapi dia senang sepertinya malam ini dia bisa tidur nyenyak karena tidak perlu merasa canggung. Mungkin lebih baik Lila tidur di ruang tamu atau mungkin kamar tamu. Toh Ray tidak akan mencarinya saat tengah malam atau saat bangun.

Tapi semua itu tidak akan terjadi karena saat taksi yang ditumpanginya berhenti di depan rumah, mobil Ray baru saja masuk di halaman. Keduanya bahkan keluar dari mobil secara bersamaan.

2 komentar:

  1. wooo ini cerber kan nantinya ? Mau lanjutannya laaah

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates