Jumat, 15 Februari 2019

Jalan Lain Menuju Neraka

20.50 18 Comments
Sampah memiliki pencitraan dengan hal-hal yang sering kali negatif. Mari kita pikirkan sejenak kata apa saja yang akan muncul jika “sampah” ini disebutkan? Bau, busuk, tidak berguna, tidak dipakai, jijik, jorok, kotor, sarang penyakit dan mungkin akan ada banyak lagi yang lain.
Padahal kalau kita mau jeli lagi melihat, sampah memiliki nilai keindahan. Sebut saja pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran hewan yang berfungsi menyuburkan tanah. Tanah yang subur memiliki mineral-mineral penting yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan tanaman.
Bisa juga kita lihat kediaman Gubernur jawa barat, Bapak Ridwan Kamil. Salah satu sisi rumahnya dibuat dari botol kaca bekas. Bahkan beliau sengaja mengumpulkan botol-botol tadi sebelum membangun rumahnya.
Sebenarnya mengapa sampah ini ada dan semakin hari jumlahnya semakin banyak dan tidak terkendali. Mari kita berjalan mundur sejenak.
Setiap hari sebelum melakukan aktifitas hal pertama yang kita lakukan adalah sarapan. Makanan yang tersaji di atas meja bukan hadir begitu saja. Setiap subuh kita, para ibu akan pergi berbelanja. Bahan makanan yang sudah dibeli tadi diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sajian yang menggugah selera.
Misalkan, sarapan menggunakan nasi goreng. Untuk membuatnya kita memerlukan nasi putih, sawi, telur, bawang merah, bawang putih, cabai, gula, garam dan merica. Semua bahan tadi diproses sehingga menghasilkan satu piring nasi goreng yang lezat. Umumnya ditambahkan kecap tapi saya kurang suka kecap. Dari makanan lezat tadi pernah kah kita melihat sesuatu yang ditinggalkan yang akan berakhir di pembuangan? Iya, itulah sampah dihasilkan dari kulit bawang, cangkang telur, bonggol sawi, bungkus merica yang tidak mungkin kita makan. Semua itu menjadi barang yang tidak berguna dan tidak lagi kita pikirkan nasibnya setelah kedua tangan kita memasukkannya kedalam tong sampah.
Satu menu masakan bisa menghasilkan sampah. Lalu berapa sampah yang dihasilkan jika dalam dalam satu hari kita memasak minimal tiga menu? Belum yang dimasak di keluarga lain dalam satu komplek rumah? Satu desa? Satu kecamatan? Satu Negara? Tak heran truk-truk pengangkut sampah itu selalu penuh setiap hari. Yang jelas saat ini Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia sebagai negara penghasil sampah terbesar.
Itu baru sampah yang kita hasilkan. Bagaimana cara kita memperlakukan sampah?
Saat saya masih kecil ada sebuah lubang besar dibelakang rumah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Waktu itu sampah tidak terlalu banyak dihasilkan karena sampah organic (sisa makanan, sisa memasak) dijadikan pakan ternak dan sampah anorganik yang jumlahnya sedikit itu biasanya dibakar bersamaan dengan sampah daun dan serasah. Sayangnya kegiatan pembakaran sampah saat ini sudah di larang. UU persampahan no 18 tahun 2008 pasal 29 poin (g) bahwa setiap orang dilarang membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.
Sehingga hal lain yang dilakukan oleh masyarakat saat ini baik di kota maupun di desa adalah memasukkan semua jenis sampah kedalam satu kantung plastik dan meletakkannya pada bak sampah yang ada di depan rumah. Selanjutnya akan ada petugas kebersihan yang mengakutnya dan membawanya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Tapi tahukah apa yang terjadi dari sampah yang ada di dalam plastik itu tadi? Sampah organic yang berada di dalam ruang tertutup (plastik yang diikat) bercambur dengan sampah anorganik akan terkompos sehingga menghasilkan gas metana. Gas ini lebih berbahaya dibanding dengan karbondioksida jika sampai terhirup manusia.
Dalam undang-undang no 18 tahun 2008 tentang Persampahan dijelaskan bahwa timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan konribusi terhadap pemanasan global.
Selain itu metana yang tertahan di dalam plastik akan memiliki tekanan bila dipanaskan (terkena sinar matahari). Bila jumlahnya banyak dapat menimbulkan ledakan yang sangat besar. Makanya kita sering mendengar berita terjadinya ledakan dan kebakaran di TPA atau yang lebih miris lagi adalah longsornya gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Kota Cimahi.
Fenomena yang terjadi di TPA hanya salah satu fenomena saja. Ada lagi yang lain yaitu Pasific Garbage Patch, yang diperkirakan 1,15-2,41 miliar Ton Plastik yang masuk setiap tahunnya. Saya kutip langsung dari www.Theoceancleanup.com tentang pulau baru yang luasnya 1,6 juta km2 atau setara dengan 2x luas Negara bagian Texas atau 3x luas Negara Perancis.
The Great Pacific Garbage Patchis the largest of the five offshore plastic accumulation zones in the world’s oceans. It is located halfway between Hawaii and California.
Padahal manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi untuk mengelola bukan merusak. Meski hanya satu plastik saja kita bisa melakukan perbuatan dzolim terhadap makhluk lain. Pernah saya menjumpai sebuah event menulis yang diadakan oleh Natural Gheograpic. Peserta diminta membuat tulisan dari foto yang sudah di sediakan. Salah satu foto yang sampai saat ini menempel dalam kepala saya adalah seekor kuda laut menjepit sebuah cotton bud. (jelaskan kuda laut dan cotton bud). Percayalah event menulis itu hanya masuk dalam daftar lomba yang ingin saya ikuti hahaha padahal kerangka tulisan sudah ada dikepala.
Didalam agama Islam memang tidak secara langsung mengatur tentang sampah. Tapi banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita, hamba Allah untuk menjaga lingkungan. Juga sebagai salah satu tolok ukur iman seseorang.
Dalam surat Ar Ruum : 14
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)
Perintah ini seharusnya menjadi titik balik kita untuk segera hijrah, berubah menjadi lebih baik. Kita memang tidak bisa memusnahkan tumpukan sampah yang menggunung di TPA sana, juga tidak bisa menenggelamkan pulau-pulau plastik ditengah lautan sana. Tapi kita bisa melakukannya dari yang paling kecil yaitu tidak menambah jumlah plastik yang ada di muka bumi.
Saya memang belum bisa menghilangkan sampah terutama sampah plastik tapi saya bisa menguranginya. Dua tahun belakangan saya mulai diet plastik. Membawa tas saat berbelanja sehingga penjual tidak perlu memberikan kantong kresek untuk barang-barang yang saya beli dan membawa wadah saat membeli makanan siap saji. Awalnya memang terasa berat dan tak jarang akan ditertawakan bahkan di cemooh orang lain. tapi lama-lama orang-orang akan menerima kebiasaan kita. Lagi pula membawa wadah lebih sehat dibandingkan makanan kita di kemas dengan plastik atau stereoform.

Dalam sebuah kesempatan saya mengikuti seminar Hidup Minim Sampah yang di selenggarakan oleh Zona Sehat dengan mbak DK. Wardhani sebagai pembicaranya. Mbak Dini, panggilannya menulis sebuah buku Menuju Rumah Minim Sampah sekaligus praktisi zero waste. Dari beliau ini saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang aplikatif sekali dalam hidup sehari-hari tentang mengolah sampah ini.



Salah satu yang paling mengena adalah mengurangi sifat konsumtif. Sampah sendiri berasal dari konsumsi yang banyak dilakukan manusia. Jika kita mengurangi konsumsi baik produk pangan maupun non pangan, kesempatan munculnya sampah pun akan berkurang.
Dalam surat Al Isro’ : 26-27 juga di jelaskan tentang perilaku konsumtif.
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Seseungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar pada Tuhannya.
Selain itu kita juga bisa memulai dengan memilah sampah. Yaitu memisahkan sampah organic dengan sampah anorganik. Sampah organic ini bisa kita olah menjadi kompos. Cara yang mbak dini yang sering beliau galakkan termasuk di dalam sosmednya adalah membuat kompos sendiri. Kebetulan saya pribadi belum melakukan ini. saya memilih cara tradisonal yaitu menimbun. Jadi saya membuat galian tanah yang akan menampung sampah organic.




Saya mau cerita sedikit tentang Zona Sehat Store. Ini merupakan sebuah toko yang menjual barang-barang ramah lingkungan. Mulai dari sayur PTSA, olahan makanan PTSA dan lain-lain. PTSA atau pola tanam sehat amanah ini serupa dengan organic perbedaannya terletak di harga jual. Kalau organic sudah ada acuan khusus yang mengatur harga jual makanya kalau kita membeli produk dengan label organic memiliki harga di atas pasaran. Sementara PTSA ini sebagai salah satu cara menjembatani konsumen yang ingin mengkonsumsi produk ramah lingkungan dengan harga yang lebih terjangkau.

Produk yang dijual di Zona Sehat Store bisa dipastikan tidak mengandung unsur sintetis dalam bentuk apapun. Ini juga menjadi syarat mutlak untuk setiap produk yang masuk dalam Zona Sehat ini.
Satu produk yang saya coba adalah mi instan yang terbuat daun kelor dan cabai. Dari segi harga memang lebih mahal dari mi instan perusahaan besar seperti In*d*mi, Sa*r*mi dll. Kalau dari segi rasa cocok untuk penyuka makanan dengan cita rasa light. Kuah minya mirip dengan kuah mi rumahan. Mi-nya juga kenyal meski tanpa bahan pengenyal meski sedikit lebih keras di banding mi pada umumnya. Dan porsi dalam setiap kemasan adalah dua porsi. Dan itu benar-benar bikin kenyang dalam waktu lama. Setara lah dengan sepiring nasi. Kan menurut orang jawa itu belum makan kalau belum makan nasi.




Follow Us @soratemplates