Kamis, 15 Agustus 2019

# Buku # Harry

Resensi Buku Journey of The Hearts

Agustus yang penuh cinta. Setelah mendeklarasikan diri untuk membaca buku sesuai passion. Dan ini buku pertama yang khatam sekaligus menuntaskan #TBR
.
.

Judul               : Journey Of The Heart
Penulis             : May Moon
Penerbit           : Sygma Publishing
Halaman          : viii+240 halaman
.
.
Perpisahan menjadi jalan untuk mendekatkan kembali. Tita terpaksa harus menjalani setelah 5 tahun terpisah ribuan kilometer. Harry, suaminya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gegar otak berat. Hal baik dari musibah itu adalah pernikahan formal yang tertunda bertahun-tahun akhirnya terlaksana.
Pernikahan yang diidamkan nyatanya tak mendatangkan sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia. Kelumpuhan fisik yang diderita Harry juga menyertakan pada perubahan kepribadiannya. Berbulan-bulan menjalani terapi menambah dinginnya hubungannya dengan istrinya.
Sanggupkah Tita menjalani kehidupan rumah tangga yang demikian menyiksa? Sementara satu-satunya sumber kekuatannya menjalani kehidupan jauh dari keluarga sekaligus menjadi kelemahannya. Ataukah ia harus memilih kembali pada kenyamanan bersama kedua orangtuanya di Indonesia?
Sebuah romansa kehidupan pernikahan antara Tita dan Harry. Perbedaan latar belakang serta budaya yang sangat jauh berbeda menunjukkan pada kita bahwa perbedaanlah yang membuat pernikahan itu ada. Bagaimana Tita dan Harry menjadikan perbedaan tadi menjadi pengikat kuat hubungan. Yang tidak menjadi sumber dari segala konflik rumah tangga. Meski hanya sebuah cerita fiksi namun patut kita jadikan teladan. Apalagi saat ini contoh dalam kehidupan nyata sudah sangat banyak ditemukan.
Tokoh Tita mengajarkan saya tentang sebuah kesabaran seorang istri. Bukan hanya saat menghadapi sifat suami yang mengganggu melainkan kesabaran untuk menahan ego sebagai seorang wanita. Dengan keterbatasan suaminya bahkan perlakuan yang tidak seharusnya Tita terima sebagai seorang istri, tak membuatnya jengah bahkan mengajukan tuntutan hak. Tita hanya sabar dan menyerahkan semuanya pada Tuhan.
Demikian dengan Harry. Ditengah ketidakmampuannya menjalani kewajibannya sebagai suami, Harry tetap teguh dengan pendiriannya. Keterbatasan memecutnya untuk lebih giat menjalani terapi. Meski perasaannya berada dalam ketidakpastian. Apakah ia akan ditinggalkan kembali atau tidak. Yang umum terjadi saat ego seorang laki-laki merasa tidak dihargai pasangan adalah keinginan untuk melepaskan.
Buku ini sangat informatif terutama mengenai kehidupan seseorang yang pernah mengalami cedera otak. Menerjemahkan istilah medis menggunakan bahasa yang lmudah dipahami. Bahkan proses penyembuhannya pun dijelaskan dengan sangat baik.
Penggunaaan bahasa asing sebagai salah satu cara menunjukkan latar tempat pun tidak berlebihan. Jumlah penggunaannya proporsional sehingga kesan penggunaan bahasa asing itu tetap terasa.
Saya suka pengggunaan diksinya, heterogen dan tidak terlalu berat. Sederhana tapi tetap sarat makna. Karena hampir sepanjang cerita penggambaran perasaan itu banyak sekali ditemukan. Dan pemilihan katanya tidak memberikan kesan monoton.

Aduh. Aku ingin bumi rengkah dan masuk kedalamnya, sukacita.

Sudut pandang orang pertama memang sangat bagus untuk menggali sedalam mungkin emosi dari tokoh tersebut. Dan lebih mudah membuat pembaca melebur dalam emosinya. Hanya saja semuanya menjadi lebih sempit. Karena seluruh jalan cerita hanya berdasar satu sudut pandang. Ini lah alasan saya kurang suka dengan dengan sudut pandang orang pertama.

Buku ini saya rekomendasikan untuk wanita yang mudah menyerah dengan pasangannya, atau sering mengeluhkan kekurangan pasangannya. Bahkan untuk yang belum menikah pun harus membacanya. Sedikit banyak buku ini memberikan gambaran kehidupan pernikahan yang sangat komplek.

18 komentar:

  1. Sangata menarik Mba untuk dibaca, baru baca resensinya aja sudah penasaran. Apalagi banyak hikmah yang bisa diambil...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak. ceritanya memang menarik. kemasannya nggak biasa

      Hapus
  2. Sama mba aku pun kurang sukanya POV 1 ya gt ya, karena melihatnya ya dari satu sisi saja. Ceritanya menarik nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kepo sama sudut pandang tokoh lain juga ya...

      Hapus
  3. Ini novel terbian tahun berapa ya, Mbak? Aku baru tahu ada novel ini. Kayaknya bagus juga buat inspirasi saat sedang lelah dengan kehidupan rumah tangga.

    BalasHapus
  4. Wah bacanya reviewnya penasaran pengen baca juga, deg-degan sama endingnya. aku kalo baca novel kek gini, pasti enggak berhenti sampai di baca tamat. waah mau nih bukunyaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betulll...kaya tanggung gitu, emosinya kadung naik

      Hapus
  5. Jadi pengen baca juga. Kira-kira Kalo aku baca buku itu Akankah aku bisa menahan emosi? Secara, aku kan baperan orangnya. Nonton, ngelihat atau baca yang sedih Dan menyentuh auto mewek deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapin sapu tangan yang banyak mbak. biar ada gantinya klo udah basah hehehe

      Hapus
  6. Membaca sekilas sepertinya buku ini menarik untuk jadi teman akhir pekan. Hehehe

    BalasHapus
  7. Wah satu lagi ni rekomendasi buku keren buat para pembaca. Cocok buat perempuan ya mba..,

    BalasHapus
    Balasan
    1. laki-laki juga cocok mbak. biar mereka tahu isi kepala perempuan hehehe

      Hapus
  8. Bakalan asyik membaca ceritanya kalau akhir pekan, saat rintik gerimis dan ditemani kopi latte.

    BalasHapus
  9. Penasaran dengan isi bukunya, pasti seperti biasa aq terlarut dengan emosi ke 2 pihak

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates