Minggu, 22 September 2019

# Event # generasi milenial

4 langkah dalam menghadapi revolusi industry 4.0

Dunia mengalami revolusi industri sudah berabad-abad sebelumnya. Dimulai dari abad ke-18 revolusi industri dimulai. Dikenal dengan sebutan revolusi 1.0 yang ditandai dengan penggunaan mesin uap dalam perindustrian. Yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas manusia dalam menjalankan roda perekonomian yang sebelumnya hanya mengandalkan tenaga manusia dan hewan.
Pada abad ke-20 energi listrik mulai berkembang sehingga  industri diharapkan mampu melakukan produksi dalam jumlah besar, cepat dan murah. Sekaligus menjadi penanda dari dimulainya revolusi industry 2.0. Pesawat telpon menjadi salah satu penemuan teknologi saat itu.
Sekitar tahun 1960-an percepatan teknologi terjadi.sekaligus menjadi awal dimulainya revolusi 3.0.  Sistem  otomatisasi dan robotisasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dalam jumlah besar, cepat, berkualitas dan murah. 


Jerman menjadi negara yang mencetuskan revolusi industry 4.0. merupakan sebuah industry yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Adapun bentuk dari industri ini adalah konektivitas sumberdaya manusia, mesin dan data yang sudah tersedia. Atau yang lebih dikenal dengan Internet of things
Pemerintah Indonesia sudah merencanakan jauh hari dalam rangka menyongsong revolusi industri ini. Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan pada tahun 2018 oleh Presiden Joko Widodo menjadi sebuah roadmap yang akan digunakan untuk menghadapi perubahan dalam dunia industri. Melalui roadmap ini diharapkan meningkatnya daya saing Indonesia dikancah global.
Menunjuk Kementerian Perindustrian sebagai koordinator pelaksana, Indonesia memiliki 5 aspek penting yang menjadi fokus utama. Antara lain :
-       Industri makanan
-       Tekstil dan pakaian
-       Otomotif
-       Kimia
-       Elektronik

Salah satu yang menjadi strategi Indonesia dalam menghadapi era digitalisasi ini adalah dengan mengembangkan kemampuan sumberdaya manusia industri. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa generasi milenial adalah generasi yang cepat merespon tantangan ini.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa orang-orang yang lahir diantara tahun 1981-1997 merupakan generasi millennial. Orang-orang yang sejak lahir manjalani kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan mulai dari makanan, pendidikan, transportasi hingga hiburan.
Kesempatan untuk mengenyam pendidikan relative lebih mudah dibanding generasi sebelumnya yang dianggap bukan hal prioritas. Transportasi masal sudah banyak dijumpai sehingga tidak perlu berjalan kaki jauh untuk bepergian. Bahkan tempat hiburan seperti bioskop sudah bisa dinikmati. Kemudahan-kemudahan ini memberikan faktor dalam membentuk mereka menjadi pribadi yang manja dan tidak mau susah.
Generasi milenial memiliki konsep pemikiran yang terbuka dan cerdas Namun juga memiliki tingkat kebosanan yang tinggi. Sehingga lingkungan yang santai, tidak terpaku pada aturan dan hirarki menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan produktifitas kerja.
Daya tarik yang tinggi pada sesuatu yang baru membuat mereka termasuk golongan dengan kreativitas yang tinggi. Hal ini menciptakan profesi baru yang tidak ada pada generasi sebelumnya seperti buzzer, influencer, content creator. Semua itu menjadi profesi-profesi impian generasi milenial.
Sebut saja Atta Halilintar yang memiliki jumlah pengikut terbanyak Se-Asia Tenggara. Yulia Baltscun mantan finalis ajang pencarian bakat memasak kini menjadi vlogger dalam bidang fitness, diet dan kesehatan. Clarin Hayes seorang dokter yang membagikan informasi kesehatan serta perjalanannya dalam menempuh pendidikan dokter. Yang terbaru seorang content creator yang menjadi salah satu narasumber dalam sebuah acara diskusi disalah satu TV swasta. Sherly Ananta duduk bersama dengan tokoh nasional dalam rangka membahas tentang isu-isu politik.
Sayangnya kemampuan-kemampuan ini tidak didapat dalam pendidikan formal. Materi yang dikuasai dipelajari secara otodidak Tenaga pendidik yang sebagian besar berasal dari generasi sebelumnya (generasi baby boomers dan generasi X) kurang mampu memenuhi kebutuhannya. Akibatnya generasi muda ini tidak memiliki dasar dan aturan jelas dalam menjalankan profesinya dengan benar.
Saat ini anak muda milenial sedang dan akan dihadapkan pada sebuah tantangan besar. Dengan kemampuan dan segala kelebihan yang dimiliki tidak akan cukup untuk menghadapi gelombang perubahan yang begitu besar. Sehingga membentengi diri agar tidak terlena dengan kecanggihan teknologi.
Berikut adalah beberapa langkah yang bisa generasi milenial lakukan untuk mempersiapkan diri. Diantaranya :
·         Meningkatkan Iman
Selain memberikan manfaat yang sangat besar, era digital juga memiliki sisi buruk apabila dijalankan tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku. Misalnya membuat dan menyebarkan konten hoax, melakukan ujaran kebencian bahkan sexual harassment dalam media sosial.
Keberadaan agama menjadi sebuah kebutuhan dasar yang harus terpenuhi pada generasi milenial. Pendidikan-pendidikan agama dan moral yang mulai berkurang harus didorong lebih kuat.
Rumah menjadi salah satu tempat terbaik dalam menanamkan pendidikan karakter berdasar agama. Orang tua memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan ini. Memberikan pendidikan dan menjadi contoh saja tidak lagi cukup. karena sudah disebutkan bahwa generasi milenial memiliki rasa ingin tahu yang besar. Duduk bersama dan melakukan dialog menjadi cara efektif agar generasi milenial tidak mencari kebenaran melalui cara yang keliru.
Membiasakan kebiasaan yang mampu menyeimbangkan kebutuhan emosional. Mengikuti kajian, melakukan tilawah alquran bahkan keluar dialam bebas untuk mentadaburi ciptaanNya mampu menjaga pribadi yang bersyukur dan rendah hati..
·         Menjadi seorang pembelajar
Diatas mimpi masih ada mimpi. Keinginan manusia itu tidak memiliki batas. Terus menjadi pribadi yang haus ilmu sehingga tidak ragu untuk terus mempelajari hal baru.
·         Menjadi pribadi yang menyenangkan
Berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai karakter menjadi sebuah hal yang tidak bisa dihindarkan di era ini. Sehingga kemampuan bersosialisasi yang baik, tidak hanya diterima tetapi menjadi dari pergaulan menjadi sebuah keharusan.
·         Keluar dari zona nyaman
Berani menantang diri dengan hal baru. Meningkatkan kapasitas diri diluar dari bidang yang ditekuni. Selalu berpikir kreatif dan inovatif agar tetap bertahan.
Era digitalisasi bukan lagi sebuah keniscayaan. Melainkan sebuah zaman yang harus dihadapi dengan persiapan yang matang. Bergerak dan menjadi pemenang atau diamrdan menjadi yang terbelakang.



Referensi



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis artikel yang diselenggarakan oleh Pemkab Lamongan dalam rangka memperingati tahun baru Islam

11 komentar:

  1. Iya betul Mbak, industri 4.0 otomatis "memaksa" hampir semua hal di kehidupan sehari-hari untuk ikut berevolusi, termasuk emak2 jadi PR tersendiri gimana caranya mendidik anak supaya siap & tangguh hadapi perubahan jaman yg serba canggih, instan, & cepat, supaya tidak tertinggal namun juga tidak terlena.

    BalasHapus
  2. Ulasan yang lengkap dan menarik, Mbak. Tips yang jitu dalam menghadapi revolusi industri 4.0.
    Dan setuju dengan penitipnya, bergerak untuk menjadi pemenang atau diam menjasi yang terbelakang

    BalasHapus
  3. Keluar dari zona nyaman. Itu adalah salah satu kunci untuk memasuki industri 4.0 ya mba. Nggak bisa lagi leha-leha sementara yang lain udah lari jauh entah sampe mana hehe. Semangat pokoknya!! Indonesia pasti bisa

    BalasHapus
  4. Sepakat Mbak. Pondasi penting menghadapi era 4.0 ini adalah memperkuat iman.

    BalasHapus
  5. Setuju pondasi utama adalah bentengi diri dengan seleksi apapun yang masuk, bertujuan untuk kebaikan ya mbak

    BalasHapus
  6. Jika kita enggan belajar, maka selesai sudah. Kita akan menjadi tidak tahu perkembangan jaman dan jangan salah orang lain jika kemudian kita mendapat julukan baru. Udik misalnya. Hehehe

    BalasHapus
  7. Jadi manusia pembelajar itu bener banget sebagai persiapan Revolusi Industri 4.0. Tak lupa iman dan taqwa yang kuat. Soalnya informasi dari internet membanjiri anak² kita dari segala penjuru

    BalasHapus
  8. Betul banget ini mbak... besarnya semangat kurang diimbangi dengan pengetahuan yang cukup. Sehingga meskipun mereka tampil dengan sejuta pemirsa ada nilai-nilai kebaikan yang diabaikan.

    BalasHapus
  9. Kalau ngomongi revolusi industri,aku suka baca bukunya Rhenald Kasali, Di situ dijelaskan gamblang banget bahwa kita gak bisa bertahan dengan cara-cara lama. Dunia berubah dan kita harus bergerak ke arah sana. Tapi tetap, dengan ciri khas kita.

    BalasHapus
  10. Sangat setuju dengan point pertama meningkatkan iman, karena ilmu tanpa iman itu buta

    BalasHapus
  11. Setuju dengan langkah-langkah yang harus dilakukannuntuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Memang sekarang sudah kelihatan perubahan peradaban oleh sebab perkembangan teknologi. Sudah banyak pekerjaan-pekerjaan yang mulai hilang digantikan oleh peran mesin-mesin.

    Kalau kita enggak siap menghadapi ini, bisa tergilas kemajuan zaman.

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates