Senin, 28 Oktober 2019

# anak buku # Habit

3 HAL UNIK YANG DIRASAKAN ANAK BUKU

Kutu buku, book freak, book dragon, monster book dan masih banyak lagi sebutan untuk orang-orang yang menyukai buku. Istilah tersebut pun sangat populer di Instagram sehingga banyak digunakan sebagai tagar. Kalau saya lebih suka menyebutnya anak buku.
Instagram menjadi salah satu wadah bagi orang-orang tersebut. Mereka biasa menamai bookstagram. Komunitas ini mulai berkembang di Indonesia sekitar 2 tahun belakangan. Tidak selalu mereka yang gemar membaca bahkan mereka yang hanya mengunggah foto dengan buku sebagai objek pun sudah bisa disebut bookstagram.
Nah, mereka yang menyukai hal-hal seputar buku ini juga memiliki kebiasaan unik. Jika ada yang melihat pasti akan memberi kesan lebay deh, enggak ada kerjaan, dan lain sebagainya. Salah? Tidak. Itu kan hanya pendapat orang yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Biar tidak menghakimi seenaknya sendiri, yuk, kita selami sedikit dunia mereka.
IG azura.arts
Kumpulan Buku adalah Taman Bunga
Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi. Berbagai jenis tanaman berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tanaman berbunga, tanaman berduri, perdu, tanaman merambat, pohon-pohon dengan tajuk yang besar-besar menjadi penghuninya.
Siapapun akan senang mengunjunginya. Datang bersama keluarga, menikmati bekal yang dibawa dengan pemandangan yang memanjakan mata. Disaat seperti ini kita akan merasa kadar oksitosin dalam tubuh meningkat. Senang rasanya.
Kurang lebih seperti itu yang dirasakan oleh anak buku. Barisan rak yang menjulang tinggi yang berderet rapi. Dipenuhi oleh buku-buku yang sudah dikelompokkan sesuai kategorinya.
Filsafat, sejarah, psikologi itu seperti kelompok perdu yang bergerombol dengan daun hijaunya yang seragam.
Agama, pendidikan, social-budaya adalah tajuk-tajuk ilmu yang senantiasa menaungi dari sengatan hal buruk dunia.
Komik, novel, kumpulan cerpen bahkan puisi terlihat seperti bunga yang sedang mekar dengan genre-genre yang siap membuka pintu segala emosi.

Ekonomi, politik, teknologi mengakar dan berkembang tanpa batas. Menjerat orang-orang untuk terus mengasah kemampuan.
IG azura.arts
Perpustakaan dan Toko Buku adalah Tempat Hang Out Terbaik
Kalau jalan bareng teman kemana? Nongkrong di kafe atau nonton di bioskop biasanya jadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Tidak heran kalau saat ini banyak sekali kafe-kafe baru yang menawarkan banyak konsep demi kenyamanan nongkrong.
Anak buku pun demikian. Jangan salah, mereka juga suka hang out. Bisa sendiri atau rame-an.
Nah, ini juga salah satu yang seru yang hanya anak buku lakukan (mungkin). Pergi sendirian. Tidak semua sih. beberapa ada yang demikian untuk mereka dengan karakter introvert.
Alasannya sederhana. Tidak suka mendapat banyak gangguan. Kalau sesama jenis enggak akan masalah (anak buku) tentu saja. Lah kalau beda? Asli itu hal yang sangat berbahaya untuk dibayangkan.
Pernah suatu waktu pergi ke toko buku di temani suami. Sebelum masuk saya sudah berpesan untuk tidak bertanya kapan selesai. Sekaligus memberi saran  untuk menunggu di kafe atau Time Zone saja. Saking sayangnya, suami maksa ikut masuk.
30 menit pertama saya sudah disamperin. Awalnya hanya melihat apakah saya sudah menemukan buku yang dicari. 15 menit kemudian menawarkan diri untuk membantu mencari judul buku. Akhirnya setelah genap 1 jam kesabarannya diambang kepunahan pun bertanya, “Sudah selesai?”
Inilah tragedi!!!
Toko buku dan book fair kadang terlalu berisik untuk dikunjungi. Beberapa anak buku yang suka ketenangan akan memilih perpustakaan.
Perpustakaan seperti surga dunia. Bayangkan, buku-buku yang sudah tidak beredar akan bisa di jumpai di sana. Bahkan buku-buku yang terbit sejak jaman kolonial pun pasti ada.

Kalau di perpustakaan Hogwarts ada yang disebut restricted area, perpustakaan dunia nyata pun ada. Bedanya tidak ada rantai yang mengikat buku agar tidak berteriak liar. Kita cukup bertanya kepada petugas atau membawa dokumen tertentu terkait perijinan seperti surat izin penelitian. Karena buku langka sehingga tidak bebas untuk dibaca dan dipinjam.
IG splendidwords
Over Protective terhadap buku
Pacar protektif itu biasa. Orang tua protektif itu kewajiban. Anak buku protektif harus diwaspadai.
Jangan bangunkan harimau tidur. Pepatah itu sangat sesuai untuk disematkan pada anak buku.
Pasalnya ketika kita meminjam atau sekadar membaca buku miliknya, hal pertama yang akan diucapkan adalah daftar panjang kata jangan. Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan ditekuk, jangan makan sambil baca, jangan baca sambil minum dan ada ratusan lagi kata jangan.
Untuk anak buku daftar jangan adalah aturan mutlak. Sekali saja jangan sampai melanggar. Hal itu sangat melukai hati.
Hal-hal tersebut adalah bentuk penjagaan yang bisa dilakukan terhadap koleksi bukunya baik kesayangan maupun bukan. Jika mereka masih memberi izin itu adalah sebuah kebaikan dan hargailah. Ketika mereka bilang ‘tidak boleh’ maka mengertilah. Biasanya mereka pernah mengalami kejadian buruk yang traumatis.

Mempunyai Dunia Sendiri
Menjadi seorang anak buku terkadang mendapat label pintar. Tapi tidak sedikit juga yang mengalami kesulitan saat berbincang atau nggak nyambung.
Secara umum seorang anak buku memang memiliki wawasan luas dan lebih terbuka cara berpikirnya. Tapi ketika berbicara lebih dalam, seringkali mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraannya.
Apalagi jika berhadapan dengan anak buku yang sering membaca novel. Mereka seperti berada di dunia yang berbeda dengan kebanyakan orang. Atau justru menjadi sosok lain. Bukan hal yang aneh ketika seorang anak buku sangat terpengaruh dengan karakter yang sedang atau pernah dibaca kedalam kepribadiannya.
Bersabarlah!

Selebihnya anak buku itu menyenangkan. Mereka bisa menjadi teman berbincang yang menyenangkan karena wawasan mereka yang luas dan bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Yang jelas kesenangan mereka dengan buku membuat mereka lebih bijak dalam melihat sesuatu sehingga tidak membuatnya menjadi karakter korek api yang mudah sekali tersulut emosi.

32 komentar:

  1. He he pernah ngerasain Deket ma anak buku duuuh panjang beudh aturannya

    BalasHapus
  2. Yuni pernah punya cerita terkait pinjam-meminjam buku.

    Jadi, suatu hari ada yang pinjam novel yuni. Waktu itu salah satu koleksi novel tere liye yang dipinjam. Dan ya, yuni juga menyebutkan sederet peraturan ketika membaca buku itu. Hehehe...

    Waktu berlalu, si peminjam seolah melupakan sudah pernah pinjam buku. Lalu kemudian dia pindah tempat kerja. Yuni yang begitu menyayangi buku-buku itu, memutuskan bertanya. "Sudah selesai baca bukunya?" Bohong sekali kalau seandainya dia bilang belum. Lha wong pinjamnya sudah ratusan purnama. *lebaymodeon

    Akhir kata, dikembalikanlah buku yang dipinjam itu ke yuni. And guest what? Bukunya dalam keadaan tidak seutuhnya seperti ketika dia waktu dia meminjam. Ada beberapa halaman yang terlepas dari jilidannya, ada yang terlipat dan sebagainya.

    Yuni syok. Dan setelah itu, nggak lagi-lagi dah minjemin si dia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. omigot. bencana beneran kan. cuma ya kita bisa apa selain gelo, klo orang jawa bilang.

      Hapus
  3. Daripada disebut kutu buku saya pilih disebut anak buku saja. Seperti istilah di tulisan mba' ini :)
    Hanya saja kadang awalnya anak buku suka di stigma sebagai anak aneh. DiNggap anti social. Padahal justru anak buku itu wawasannya paling luas kalau diajak ngobrol bisa nyambung dengan baik. Hanya ya itu kadang orang udah males duluan mau ngajak anak buku ngobrol.
    Mungkin kita sebagai anak buku ya yang harusnya rajin membuka percakapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. anak buku emang suka kelewatan halu sih hehehe lupa kalo dunia nyata nggak seasik didalam buku

      Hapus
  4. Bagus aja sih kalau jadi anak buku. Malah keren, karena wawasannya luas. Ya seimbang aja. Main dan bersosialisasi penting juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekalian praktik ilmu yang dibaca dari buku ya ...

      Hapus
  5. Duh sama banget Mbak, Saya kalo udah bertemi lautan buku di toko buku bisa betah 3 jam berdiri hehe, apalagi jaman single dulu, pulang dari kantor mampir ke toko buku sendirian rasanya kok bahahia banget. Kalo sekarang mau ke toko buku bareng suami agak deg-degan juga takut disamperin terus "udah selesai belum?" Hehe.. sama ya kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bisa gitu bawa tulisan terus ditempel dipunggung. "Jangan Ganggu" hehehe

      Hapus
  6. Iya sih memang ada yg over protective sama buku. Duuh nggak sengaja kelipet dikit aja, udah panjang ceramahnya.

    BalasHapus
  7. aku! over protective sama buku. rasanya ga ikhlas kalo buku sampai terlipat, lecek, apalagi dicoret2. bahkan diajak barter pun aku ga mau, takut melukai buku2 ku, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau orang jawa bilangnya ngeman gitu ya...

      Hapus
  8. Aku anak buku bukan ya..hm keknya bukan, cuma aku suka baca dan enggak over protective dengan bukuku. Kalau mau pinjam silakan, minta juga gapapa. Malah seneng banyak yang nambah wawasannya karena ikut baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang penting kan itu mbak, buku dibaca. disayang-sayang kalau ga dibaca ya buat apa. tapi ada lho yang kaya gitu, miris juga lihatnya

      Hapus
  9. Serius baru dengar istilah ini, protektif sama buku aku rasa wajar ya, aku ingat buku ku pernah dipinjam beberapa kali, eh sampai sekarang gak dikembalikan, sebel

    BalasHapus
  10. Waduh, saya kayaknya anak buku nih yang mirip banget dengan ciri-ciri yang mom sampaikan. Dulu pas SMA saya paling suka ke toko buku meskipun hanya sendirian

    BalasHapus
  11. Aq dulu termasuk kutu buku, srlalu aman bersama buku-buku, eh anakq sdh 'terganggu' gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. gadget emang kaya jadi "setan" banyak godaannnya

      Hapus
  12. Dan aku bangga jadi anak buku. BTW, sekarang udah jarang banget kayak tokbuku or book fair gitu. Kalo ke perpustakaan masih adalah beberapa kali sekalian ngajakin anak-anak...

    BalasHapus
  13. hihihi nah ini aku dulu jaman smp overprotektif banget sama bukuku. Sampai ditulisin banyak aturan di cover belakang buku wkwkw. Tapi skrg gak gitu-gitu banget sih hihi ...

    BalasHapus
  14. Aku juga paling suka main ke perpustakaan daerah. Di sela waktu antar adek dan jemput kakak sekolah, aku selalu mampir di perpustakaan. Untungnya suami dan anak-anak sama-sama suka buku, jadi nggak khawatir kalo diajak hang out ke toko buku. Insyaallah, aman terkendali,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, memang anak-anak juga kudu diajari aturan main diperpustakaan

      Hapus
  15. Saya sebenarnya anak buku tapi akhir-akhir ini target baca buku saya jeblok. Baca ini jadi ngerasa diingatkan lagi, hehe. Asyik memang jadi anak buku. Pun saya selalu kagum pada bookstagrammer yg foto bukunya kece-kece di Instagram itu. Kalau mereka over protective terhadap bukunya ya wajar sekali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuukkk mbak dibalikin lagi semangat bacanya

      Hapus
  16. Wah,berarti aku termasuk anak buku dong, ya. Aku tuh suka baca, dan memang protektif banget dengan buku. Makanya anakku sering kena omel kalo dia melipat lembaran buku. Jangan pernah berharap bisa minjam buku aku tanpa merasa diuber-uber. Hahaha. Pagi dipinjam, sorenya udah aku tanyain, "udah selesai baca bukunya?" Wakakaka.

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates