Jumat, 10 Januari 2020

Aku seorang wanita

Aku seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan sampai bangku SMA. Setelah menjadi lulusan sekolah menengah aku menganggur selama satu tahun. Kemudian sebuah tawaran menjadi pengajar mendatangiku.
Menjadi guru honorer yang bertanggungjawab pada pendidikan kelas 1 dan 2 sekolah dasar bukanlah hal mudah. Tetapi aku tetap menjalaninya hingga 3 tahun sudah aku menyandang gelar seorang tenaga pendidik.
Nyatanya menjadi seorang guru tidak membuatku terlepas dari desakan untuk segera menikah. Kehidupan desa dengan budaya yang cukup kental menjadi salah satu alasan keputusan orang tua memintaku untuk segera menikah.
Sejujurnya aku belum siap untuk memasuki kehidupan baru itu. Akhirnya aku melakukan pemberontakan. Aku pergi ke kota, ke rumah salah seorang keluarga kami. Kutinggalkan semua kenyamanan termasuk pencapaianku sebagai seorang guru.
Namun Tuhan berkehendak lain. Aku bertemu dengan seorang laki-laki. Budaya serta desakan orangtua memaksaku berpikir bahwa dialah jodohku. Tidak butuh waktu lama, pernikahanku pun digelar.
Tepat di tahun 1995 aku menyandang gelar seorang istri. Setahun kemudian aku melahirkan seorang bayi laki-laki. Setelah kelahiran anak pertama kami, aku kembali menjadi guru. Kali ini aku mengajar Taman Kanak-kanak. Sementara suamiku bekerja sebagai karyawan di sebuah yayasan dibawah naungan salah satu perusahaan penyiaran milik Negara.
Suamiku mengatakan bahwa dari pekerjaannya menghasilkan gaji yang lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami. Namun aku hanya menerima jumlah yang bisa dibilang kecil. Tetapi aku hanya diam. Mungkin sebagian gajinya dipakai untuk biaya perjalanan selama bekerja.
Seiring berjalannya waktu aku akhirnya mengetahui bahwa sebagian besar gaji yang tidak diberikan padaku itu habis untuk kesenangannya sendiri, judi. Perbuatan yang dilaknat agama itu pun menyita waktu dan kebahagian keluarga kecil kami. Hingga membuatnya tidak tahan untuk tinggal lebih lama lagi dengan kedua orangtuaku.
Benar, sejak awal menikah aku dan suamiku tinggal bersama kedua orang tuaku. Karena kakak perempuanku sudah lebih dulu menikah dan tinggal terpisah bersama suaminya. Sehingga aku, sebagai anak bungsu yang harus menemani hari-hari orangtuaku.
Sejak sifat buruknya terbongkar, suamiku semakin tidak betah tingga dirumah orangtuaku. Akhirnya orangtuaku menjual beberapa petak sawahnya. Uang hasil penjualan itu dibelikan rumah yang akan kutempati dengan suami dan anakku.
Pindah ketempat baru yang jauh dari orang tua membuat semuanya kembali dari nol. Ditempat baru ini perekonomian keluarga semakin tidak menentu. Pendapatam dari suami pun tidak bisa diandalkan sementara kebiasaannya berjudi pun belum berhenti.
Suatu ketika, salah satu saudaraku memulai usaha, menjual bawang dan tas. Aku pun membantunya dengan berjualan keliling. Menawarkan dari satu orang ke orang lain. Hasilnya memang tidak seberapa. Paling tidak aku mempunyai uang ketika anakku meminta jajan.

Pernah suatu ketika suamiku mendapat tawaran pekerjaan dari temannya menjadi seorang sopir truk. Seperti sebelum-sebelumnya penghasilan yang didapat tidak sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan keluarga. Dua tahun menjadi sopir terlihat dari adanya TV 20 inch dirumah.
Bekerja menjadi sopir yang digaji rupanya tidak begitu nyaman. Akhirnya suamiku berinsiatif menjadi sopir independen yang memiliki kendaraan sendiri. Kuutarakan rencana suamiku tadi pada orangtuaku. Mereka pun mendukung.
Sekali lagi, kedua orangtuaku pun menjual beberapa petak sawah lagi. Sepetak tanah yang suatu saat akan diwariskan pada anakku harus rela dijual.
Akhirnya truk pribadi pun kumiliki. Suamiku bisa mencari penghasilan dari menjadi sopir dengan gaji yang sepenuhnya tanpa harus dipotong untuk disetorkan pada pemilik truk.
Rencana tetaplah rencana. Pekerjaan yang diharapkan suamiku tidak memberikanhasil maksimal. Uang hasil bekerja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan serta cicilan bank setiap bulan yang besarnya mencapai 1.400.000.
Aku pun mencari hutangan untuk menutupi kekurangan itu. sayangnya aku melakukannya diam-diam. Namun apapun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada akhirnya terbongkar juga. Dan amarah suamikulah yang kudapat.
Demi menghapus jerat hutang akhirnya truk kami jual. 72 juta uang yang kami dapat. Setelah digunakan untuk melunasi hutang dan kebutuhan lain tersisa 13 juta yang kusimpan didalam rekeningku.
Tuhan sepertinya belum menghendaki kehidupan keluarga kami tenang. Cobaan bertubi-tubi seoalh tidak pernah berhenti.
Tidak lama kemudian anak sulungku sakit. Untuk mendapatkan kesembuhan, jalan satu-satunya yang harus kami tempuh adalah operasi.
Terpakailah uang yang tersisa itu.
Setelah tidak memiliki truk sendiri, suamiku kembali bekerja menjadi sopir. Kali ini menjadi sopir pengantar material bangunan milikm seorang haji di kota. Dari pekerjaan itu aku diberinya nafkah 100.000 setiap hari. Sementara anak kami sudah dua dan bersekolah, SMA dan SMP. Uang segitu harus kupaksakan untuk cukup meski pada kenyataannya tidak.
Cobaan lain pun datang padaku. aku mengalami infeksi pada tenggorokanku. Namun kasih sayang Tuhan itu nyata. aku mendapat kesembuhan tanpa operasi. Alhamdulillah.
Namun grafik kehidupan keluarga kami kembali naik. Suamiku dirampok dan dibuang diluar kota. Semua harta termasuk truk yang bukan miliknya pun raib dibawa rampok. Beruntung suamiku masih hidup dan pulang dalam keadaan selamat meski berhari-hari harus terlunta-lunta.
Kejadian itu menjadi hal terburuk dalam kelaurgaku. Suamiku menganggur. Tidak ada pekerjaan berarti tidak memiliki pemasukan. Kebutuhan terus berjalan. Gali lubang tutup lubang kulakukan untuk memenuhi semua kebutuhan yang seolah-olah kupikul sendiri.
Tidak semua hal buruk yang kualami. Ada juga hal baik yang datang. Kakakku memberiku sebuah pekerjaan. Mengelola kantin sekolah. Tidak banyak yang kuhasilkan tetapi minimal mencukupi untuk kebutuhan pangan keluarga.
Hanya saja semua usahaku seperti tidak memiliki arti apapun. Bahkan dimata suamiku.
Sejak awal menikah aku tidak pernah menuntut apa-apa pada suamiku. Bahkan dengan perilakunya yang sangat menyakitiku pun aku selalu sabar. Dia tidak memberiku nafkah cukup pun aku tidak mengeluh bahkan kini dia menganggur pun aku tidak marah. Semua kebutuhan pun kupenuhi, entah sekeras apa aku bekerja, tapi aku tetap menjalaninya.
Tapi sampai kapan?
Setahun belakangan keadaan tidak menjadi lebih baik bahkan menjadi lebih berantakan. Seseornag yang memfitnahku didepan suamiku, yang mengatakan aku memiliki banyak hutang untuk kugunakan bersenang-senang. Belum lagi kedua anak-anakku yang yang tidak menghargai usahaku, ibunya, yang bekerja mati-matian demi sesuap nasi.
Sebagai seorang suami juga bapak sudah sewajarnya mengayomi, memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan hanya menyalahkan. Apalagi masalah yang timbul adalah ketidakmampuannya menjadi kepala keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates