Jumat, 22 Mei 2020

# BPPT # degradasi tanah

DIMULAI DARI KITA




Manusia itu pada dasarnya suka dengan kenyamanan dan tidak pernah merasa puas. Satu keinginan terpenuhi akan muncul keinginan lain. Pola itu akan terus berulang tanpa ada yang tahu kapan berhentinya.

Dulu, orang sudah merasa sangat terbantu dengan tenaga hewan ternak untuk mengurangi beban pekerjaan, seperti membajak sawah atau mengantar barang. Ketika sepeda diciptakan hewan-hewan tadi tidak lagi digunakan tenaganya. Kemudian sepeda beralih fungsi menjadi barang koleksi atau alat olahraga ketika kendaraan bermotor sudah ditemukan. Fenomena itu jelas sekali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi kita salah satu pelakunya.

Kemajuan teknologi, awalnya, dikembangkan untuk membantu aktivitas manusia. Seiring berjalannya waktu teknologi dimanfaatkan untuk tujuan lain salah satunya sebagai alat ukur strata sosial. Namun kita lupa bahkan bergesernya pemanfaatan teknologi membuat ketidakseimbangan terjadi dalam kehidupan.

Mari kita bandingkan!

Ketika teknologi belum berkembang, manusia sangat bergantung dengan alam sehingga upaya dan usaha untuk menjaga alam menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Lihat saja kehidupan suku-suku di Indonesia yang masih mempertahankan kearifan local dalam memanfaatkan alam seperti Suku Baduy Dalam, Suku Anak Dalam atau suku-suku yang masih mendiami pedalaman Papua.

Alam menjadi tempat utama dalm menggantungkan hidup. Karena ketiadaan alam yang baik maka hilang sudah kehidupan mereka, sumber pangan dan tempat tinggal.

Sekarang kita lihat kehidupan yang sudah terkena kemajuan teknologi yang paling mudah saja kendaraan bermotor. Produktivitas manusia meningkat pesat. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain tidak lagi membutuhkan waktu lama dibandingkan saat dulu harus berjalan kaki atau mengayuh sepeda. Banyaknya mesin-mesin berteknologi canggih membantu manusia memenuhi kebutuhan individu hingga banyak orang. Semakin majunya teknologi, manusia menjadi sangat bergantung dalam memenuhi kebutuhan. Bahkan ketika teknologi tadi mengalami kendala, produktivitas manusia pun bisa turun.

Hal ini tentu saja memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Semakin berkembangnya peradaban manusia berbanding terbalik dengan daya dukung lingkungan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa alam menjadi salah satu bagian yang harus dikorbankan demi kemajuan peradaban manusia.

Tambang adalah salah satu bidang yang menjadi pendukung utama dalam mengembangkan peradaban. Bahkan penggunaan hasil tambang juga menjadi salah satu parameter dimulainya revolusi industri berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Hampir segala lini kehidupan manusia memanfaatkan hasil tambang. Sebagai bahan bakar kendaraan maupun industri, sebagai bahan baku industri besar maupun kecil bahkan kosmetik yang kita pakai sehari-hari pun menggunakan hasil tambang sebagai bahan baku.

Minyak bumi merupakan salah satu hasil tambang yang paling banyak digunakan. Indonesia juga pernah mencatatkan diri sebagai Negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Namun, sejak tahun 1991 produksi tersebut terus mengalami penurunan. Pada tahun 2018 Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral menyebutkan bahwa hasil produksi dibawah target yang sudah ditetapkan yaitu 800 barel sementara produksi hanya mencapai sekitar 773 ribu barel (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Penurunan ini mengubah Indonesia yang awalnya menjadi Negara Pengekspor menjadi Negara Pengimpor minyak bumi.

Meningkatnya jumlah penduduk juga menjadi salah satu faktor meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar fosil ini. Salah satu yang sering kita lihat dan alami adalah padatnya jalan-jalan oleh kendaraan. Baik roda dua maupun lebih, baik milik pribadi maupun milik lembaga. Semuanya berebut tempat dijalan-jalan tersebut. Akibatnya konsumsi bahan bakar fosil pun terus meningkat. BPPT sendiri menyebutkan bahwa setiap tahun PT KAI memerlukan 200 juta liter bahan bakar untuk beroperasi. Sebuah angka yang sangat mencengangkan bukan?
Sumber : pixabay


Dari kenyamanan serta kemudahan itu, kita sebagai konsumen terbesar mulai mengabaikan faktor lain yang mengancam kelangsungan kehidupan dimuka bumi. Pelan tapi nyata, dampak dari energi tidak terbarukan itu telah menganggu siklus kehidupan. Jika kita merasakan suhu matahari semakin meningkat semakin tahun itu berarti tanda-tanda kerusakan yang telah kita lakukan terhadap alam sudah terjadi. Lalu apakah hanya itu saja? Berikut beberapa hal yang terjadi akibat penggunakan energi tidak terbarukan.

Polusi Udara

Untuk menggerakkan mesin baik pada kendaraan maupun mesin-mesin besar yang ada di pabrik masih mengandalkan bahan bakar fosil. Bahkan listrik yang kita nikmati saja menggunakan batu bara sebagai sumber tenaganya. Sementara itu hasil pembakaran energi tersebut menghasilkan zat-zat yang tidak terpakai yang berakhir di udara atau atmosfer. Meskipun pembuangan limbah-limbah ini sudah memiliki tata cara agar meminimalkan polusi tetap saja ada partikel-partikel yang lolos dan bebas berkeliaran diudara.


Bentuknya yang sangat kecil membuat mata tidak bisa melihat polutan-polutan tersebut. Sehingga zat-zat berbahaya tersebut menjadi terakumulasi jumlahnya selama bertahun-tahun lamanya dan tidak sengaja terhirup oleh makhluk hidup.

Pernahkah kita melihat langit dikota-kota besar yang tidak lagi terlihat biru? Warna abu-abu gelap yang menyelimuti itu bukanlah awan hujan melainkan polusi udara yang jumlahnya sangat banyak. Karena jumlahnya sangat banyak hingga membentuk lapisan baru.

Lapisan udara baru ini terdiri dari zat-zat pembakaran yang berbahaya jika terhirup oleh makhluk hidup. Diantaranya yang paling banyak adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NO2) dan sulphur oksida (SO2). Selain berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup, zat-zat ini bisa memerangkap sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi. Pantulan sinar matahari yang terperangkap ini menyebabkan pemanasan global. Fenomena ini mengantarkan kita pada perubahan iklim global yang disertai dengan bencana-bencana besar. Gelombang panas yang menghantam negara-negara sub tropis, kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang hanyalah sebagian kecil bencana yang terjadi akibat dari pemanasan global

Pencemaran Air

Pembukaan tambang juga beiringian dengan penurunan jumlah tutupan hutan. Kita tahu bahwa hasil tambang ini berasal dari timbunan jasad renik dan tumbuhan selama berjuta-juta tahun. Letaknya tersebar dimana-mana, kawasan hutan menjadi salah satu tempat tersimpannya kekayaan alam tersebut.

Selain mengurangi luasan hutan, proses penambangan ini juga menghilangkan mata air-mata air alami yang menjadi sumber kehidupan makhluk hidup disekitarnya. Lagi-lagi manusia menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya karena kekurangan sumber air bersih. Selain menghilangkan, proses penambangan ini juga mencemari air.

Areal bekas tambang sebagaian besar tidak lagi bisa digunakan bahkan untuk tempat tinggal sekalipun. Jika tidak dilakukan restorasi dengan benar, areal tambang ini akan menyisakan sebuah galian yang luas dan dalam. Bahkan air yang terdapat dalam galian tersebut sangat berbahaya jika terkonsumsi. Ketiadaan biota air menjadi salah satu indikasi bahwa air bekas galian tersebut tidak dapat layak untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Sementara itu limbah yang dihasilkan dari penambangan ini akan sangat berbahaya jika tidak dikelola dengan baik. Sudah banyak kasus yang menyebutkan tercemarnya sungai-sungai disekitar areal tambang akibat limbah yang tidak dikelola dengan benar.

Degradasi Tanah

Penurunan kualitas tanah terus terjadi. hal ini terus mengancam berbagai kalangan masyarakat. Sebuah artikel yang diterbitkan pada portal daring Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia menyebutkan bahwa tambang emas tradisional di Kab. Bogor menyebabkan kadar air-raksa (Hg) pada tanah dan beras tinggi. Hal ini disebabkan karena proses tambang menggunakan air-raksa sebagai pelebur butir emas. Tingginya air-raksa yang mencemari tanah akan terserap oleh tanaman diatasnya. Dan sangat berbahaya bagi tubuh jika tanaman tersebut dikonsumsi.

Tambang emas hanya contoh kecil saja karena ada ribuan areal yang digunakan sebagai tempat penambangan yang tersebar diseluruh negeri. Tentu saja hal ini menjadi daftar yang besar terhadap kerusakan yang terjadi pada tanah.

Ketiga poin diatas hanya sebagian kecil dari akibat yang disebabkan oleh penggunaan energi tidak terbarui. Punahnya satwa liar akibat hilangnya habitatnya juga menjadi dampat yang terjadi meski tidak dirasakan secara langsung oleh manusia.

Sebagai manusia yang mulia dan beradap, akankah kita membiarkan kerusakan-kerusakan tersebut bertambah dan semakin parah? Kerusakan yang terjadi adalah kepastian. Tapi seberapa besar kerusakan itu adalah pilihan yang terletak pada masing-masing individu.

Beberapa hal dibawah ini sudah saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan tapi juga perekonomian keluarga.

Perkotaan, Orang Orang, Kerumunan, Warga Negara, Orang
Add caption
Bijak menggunakan energi listrik

Beberapa pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri tanpa bantuan listrik seperti mencuci baju menggunakan tangan, membersihkan perabotan tanpa vakum cleaner. Untuk keperluan memasak pun semuanya menggunakan kompor gas kecuali memasak nasi. Saya lebih memilih jendela besar untuk membuat udara dirumah tetap nyaman atau menggunakan kipas angin jika udara terlalu panas.

Bijak menggunakan kendaraan bermotor

Beruntung jika kita tinggal dikota besar dengan fasilitas kendaraan umum. Karena kita bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk mengurangi penggunaan bahan bakar. Sayangnya tidak semua daerah di Indonesia memiliki fasilitas tersebut. tapi bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi dalam penghematan bahan bakar.
Kita bisa menggunakan kendaraan hanya jika diperlukan seperti melakukan perjalanan jauh atau membawa barang dalam jumlah besar. Jika tempat yang kita tuju bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda, gunakanlah. Selain menghemat energi juga menyehatkan badan kita.

Memilih menggunakan barang elektronik yang ramah lingkungan

Saat ini hemat energi banyak digunakan berbagai macam industri untuk memasarkan produknya. Tidak hanya untuk meningkatkan penjualan melainkan penggunaan teknologi yang efisien juga sebagai unggulan. Bahkan sekarang tidak sulit lagi menemukan barang-barang tersebut seperti lampu, mesin cuci, lemari pendingin hingga kendaraan bermotor pun sudah memiliki teknologi yang mampu mengolah energi lebih efisien.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di bit.ly/LombaBlogPerubahanIklim

Melakukan perubahan dan menjadikannya sebagai gaya hidup menjadi salah satu hal yang bisa kita lakukan dengan mudah. Sendiri tidak akan menciptakan sebuah perubahan. Tapi bersama akan membuat perubahan besar untuk menjadi lebih baik. Semua itu bisa diawali dari diri kita sendiri.

1 komentar:

  1. Sangat menarik sekali mbak artikelnya...ditunggu artikel berikutnya :D

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates